HALSEL, Malutline — Curahan hati warga Desa Yaba, Kecamatan Bacan Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali mencuat ke ruang publik. Dalam ungkapan bernada kecewa namun penuh harap, warga meminta pemerintah daerah agar lebih memperhatikan kondisi wilayah mereka yang dinilai tertinggal dan kerap dilanda banjir.
“Pemerintah tolong lia tong pe kecamatan Yaba dulu. Dari dulu tra maju-maju, paling ketinggalan,” demikian keluhan warga yang ramai disampaikan di media sosial, menyusul terjadinya banjir yang kembali menerjang Desa Yaba.
Banjir yang terjadi akibat tingginya curah hujan tersebut merendam sejumlah rumah warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Air meluap dengan cepat, menggenangi pemukiman serta akses jalan desa. Warga mengaku kondisi ini bukan pertama kali terjadi, melainkan sudah menjadi persoalan tahunan yang hingga kini belum mendapat penanganan serius.
Menurut penuturan warga, Desa Yaba berada pada wilayah yang rawan genangan karena sistem drainase yang tidak memadai serta minimnya infrastruktur pengendali banjir. Setiap musim hujan tiba, kekhawatiran akan banjir selalu menghantui masyarakat.
“Kalau hujan deras sedikit saja, air langsung naik. Bukan cuma satu rumah, tapi hampir satu desa. Torang ini hidup selalu dalam rasa was-was,” ungkap salah seorang warga Yaba.
Warga menilai, dibandingkan dengan wilayah lain di Halmahera Selatan, Kecamatan Bacan Barat Utara, khususnya Desa Yaba, masih tertinggal dari segi pembangunan infrastruktur dasar. Mulai dari drainase, jalan lingkungan, hingga penataan sungai dan daerah aliran air dinilai belum tersentuh secara optimal.
Kondisi ini membuat masyarakat merasa seolah berada di pinggiran perhatian pemerintah. Padahal, mereka memiliki hak yang sama untuk merasakan pembangunan dan perlindungan dari risiko bencana.
“Bukan torang minta yang mewah-mewah. Cukup banjir ini bisa diatasi, supaya anak-anak bisa sekolah dengan aman, orang tua bisa kerja tanpa takut rumah terendam,” tambah warga lainnya.
Selain merusak rumah, banjir juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Sebagian warga terpaksa menghentikan pekerjaan harian mereka, sementara perabot rumah tangga dan hasil kebun kerap rusak akibat terendam air.
Masyarakat Desa Yaba berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat turun langsung melihat kondisi di lapangan, bukan hanya menerima laporan di atas kertas. Mereka meminta adanya solusi konkret dan berkelanjutan, seperti pembangunan drainase permanen, normalisasi aliran air, serta perencanaan tata ruang desa yang lebih baik.
“Kalau pemerintah datang lihat langsung, pasti tahu penderitaan torang. Jangan tunggu viral baru turun,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Keluhan warga ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang adil tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga harus menjangkau desa-desa yang selama ini berada di garis pinggir pembangunan. Penanganan banjir di Desa Yaba bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan hak dasar warga untuk hidup aman dan layak.
Warga berharap, suara mereka kali ini tidak kembali tenggelam seperti banjir yang saban tahun merendam desa mereka. Mereka menanti kehadiran negara yang benar-benar hadir, mendengar, dan bertindak. (Red)










Komentar