Malut Line

HALSEL, Malutline.com – SMPN 67 Desa Palamea, Kecamatan Bacan Barat, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, melaksanakan kegiatan keagamaan pada Jumat, 25 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan SMPN 67 Desa Palamea tersebut mengangkat tema “Melaksanakan Shalat Lima Waktu sebagai Bentuk Ketaatan Kita kepada Allah SWT.”

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pembinaan keagamaan bagi para siswa, sekaligus untuk menanamkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala SMPN 67 Desa Palamea turut memberikan perhatian terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Melalui kegiatan keagamaan ini, para siswa diharapkan semakin memahami pentingnya melaksanakan shalat lima waktu sebagai kewajiban umat Islam serta membiasakan diri menjalankan ibadah secara disiplin.

Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, pelaksanaan shalat lima waktu juga diharapkan dapat membentuk karakter siswa agar memiliki sikap disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak baik dalam kehidupan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya SMPN 67 Desa Palamea dalam memperkuat pendidikan karakter dan pembinaan spiritual peserta didik melalui kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah. (Iswanpers)

HALUT, Malutline – Harga kopra yang naik turun tak menentu dan jalur jual yang berbelit-belit masih menjadi jeratan bagi petani kelapa di Galela. Untuk memutus rantai yang merugikan dan mengangkat pendapatan warga, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun (FEB Unkhair) turun langsung ke Desa Dokulamo, Kecamatan Galela, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan bertajuk edukasi manajemen rantai pasok ini digelar di gudang pengolahan kelapa milik mitra, masuk dalam program Diktisaintek Berdampak 2026. Sebanyak 20 peserta — petani, pemuda desa, hingga pengelola usaha kelapa — dibekali cara memotong jalur perantara sekaligus mengolah kelapa menjadi produk bernilai jual tinggi.

Tim dipimpin Dr. Marwan Man Soleman, SE., M.Si., didampingi Jeri Cahyadi Saputra, S.Ak., M.Si. dan Adysabzan Tomario Krois, MBA, serta empat mahasiswa Manajemen FEB Unkhair: Meliza Amelia Putri, Eka Susilawati Said, Arman Husemahu, dan Faruk Duwila.

Petani Selalu di Posisi Kalah

Kebun kelapa adalah nyawa hidup warga Desa Dokulamo. Namun sampai kini, warga hanya menjual kelapa butir dan kopra — sehingga pendapatan bergantung pada harga yang ditentukan orang lain. Rantai yang panjang: petani → pengumpul → pedagang antar pulau → pabrik. Setiap pihak mengambil untung, dan yang di kebun hanya menerima sisa.

“Rantai penjualan kelapa di Galela masih terlalu panjang. Setiap tahap mengambil keuntungan, nilai tambah besar dinikmati pihak di luar desa. Petani hanya menerima sebagian kecil,” tegas Adysabzan Tomario Krois.

Ia mengingatkan: kelapa bukan sekadar kopra. Daging bisa jadi minyak kelapa dan VCO, tempurung jadi briket, sabut jadi cocopeat, nira jadi gula semut, air kelapa jadi nata de coco.

“Satu pohon kelapa banyak produknya. Semakin banyak yang diolah sendiri di desa, semakin besar uangnya yang tetap di sini,” ujarnya.

Lima Langkah Lepas dari Ketergantungan Harga

Tim mengajak warga berubah: jual bersama lewat kelompok, bukan sendiri-sendiri kepada pengumpul. Bersama, posisi tawar menguat, harga bisa dibicarakan langsung dengan pembeli, dan produk olahan bisa dikembangkan.

Jalan yang ditawarkan:
✅ Perkuat kelompok petani
✅ Jaga mutu kopra: kering, bersih, seragam
✅ Kembangkan produk turunan: VCO, briket, dan lainnya
✅ Jalin kerja sama langsung dengan pabrik/pembeli besar
✅ Pantau harga dan catat setiap penjualan

Pendampingan Berlanjut, Bukan Sekadar Datang Lalu Pergi

Diskusi terbuka jujur: sebagian besar warga mengaku selama ini pasrah menerima harga dari pengumpul desa. Belum ada catatan keuangan, belum tahu harga di luar desa. Produk yang paling menarik minat, VCO dan briket — bahan baku melimpah, peralatan sebagian sudah tersedia.

Jeri Cahyadi Saputra menegaskan ini bukan kegiatan satu kali. “1–3 bulan ke depan perkuat kelompok, tetapkan standar mutu, ajarkan catatan keuangan sederhana. 3–6 bulan uji coba olah VCO dan briket, uji pasar di Galela dan Tobelo. Setelah itu kami hubungkan langsung dengan pembeli,” janjinya.

Warga berharap kampus terus mendampingi, terutama praktik pengolahan dan membuka akses pembeli yang adil. Kegiatan ditutup dengan foto bersama.

Program ini wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus mendukung IKU — membawa ilmu ke akar rumput, agar kekayaan alam Galela benar-benar menyejahterakan pemiliknya. (Red)

HALSEL, Malutline.com — Kabar gembira bagi masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Beta Sticker, usaha kreatif yang bergerak di bidang wrapping, cutting, dan desain, resmi kembali membuka layanan dengan lokasi baru di Desa Kampung Makian, Kecamatan Bacan Selatan.

Mengusung slogan “Kualitas Stiker, Kepuasan Anda!”, Beta Sticker hadir dengan semangat baru untuk memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan setia maupun masyarakat yang membutuhkan jasa pembuatan stiker dan desain kreatif.

Melalui pengumuman resminya, Beta Sticker menyampaikan bahwa pihaknya kini kembali menerima pesanan setelah berpindah ke lokasi yang dinilai lebih strategis, tepatnya di Jalan Kantor Pariwisata, belakang Lembaga, Desa Kampung Makian.

“Halo, pelanggan setia Beta Sticker! Ada kabar gembira yang sudah ditunggu-tunggu. Mulai sekarang, kami resmi buka kembali dan siap menerima orderan stiker terbaik Anda,” demikian pengumuman Beta Sticker.

Menariknya, Beta Sticker menerapkan sistem pelayanan yang terjadwal. Proses produksi dan pengerjaan pesanan dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu dengan mengikuti urutan antrean pelanggan.

Sementara itu, pengantaran pesanan menggunakan sepeda motor dijadwalkan setiap Jumat sore, pukul 17.00 WIT.

Dengan sistem tersebut, pelanggan diharapkan dapat melakukan pemesanan lebih awal agar proses pengerjaan berjalan lancar dan sesuai jadwal.

Kehadiran kembali Beta Sticker sekaligus menjadi bagian dari geliat usaha kreatif lokal di Halmahera Selatan. Layanan wrapping, cutting, dan desain yang ditawarkan diharapkan dapat memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat.

Bagi pelanggan yang ingin melakukan pemesanan atau berkonsultasi mengenai desain, Beta Sticker menyediakan layanan WhatsApp melalui nomor 0822 1783 4123 serta halaman Facebook Beta Sticker.

Beta Sticker juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelanggan yang selama ini memberikan dukungan dan kepercayaan terhadap usahanya.

“Terima kasih atas kesetiaan dan dukungan Anda selama ini. Kami tunggu orderan kreatif Anda di lokasi baru kami,” tulis Beta Sticker dalam pengumumannya.

Dengan dibukanya kembali layanan tersebut, Beta Sticker berharap dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pilihan masyarakat Halmahera Selatan dalam memenuhi kebutuhan stiker dan desain kreatif dengan mengutamakan kualitas serta kepuasan pelanggan.(Red)

HALSEL, Malutline.com  Pengelolaan keuangan Puskesmas Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menuai sorotan tajam. Sejumlah pegawai mempertanyakan transparansi Kepala Puskesmas Kayoa, Fahrudin sabtu, terkait penggunaan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) tahun anggaran 2026 serta dugaan tunggakan pembayaran jasa pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tahun 2025.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Malutline.com, hak pegawai yang bersumber dari dana JKN selama dua bulan pada tahun 2025, dengan nilai diperkirakan mencapai Rp100 juta, disebut belum dibayarkan kepada penerima yang berhak.

Persoalan tersebut semakin menjadi perhatian setelah sejumlah pegawai mengungkapkan bahwa hak mereka yang bersumber dari Dana BOK tahun anggaran 2026 juga belum diterima, meskipun anggaran tersebut dikabarkan telah dicairkan.

Ironisnya, di tengah persoalan pembayaran hak pegawai, Kepala Puskesmas Kayoa, Fahrudin, disebut masih berada di Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan, dan belum kembali ke Kecamatan Kayoa.

Tak hanya itu, muncul pula dugaan adanya sejumlah utang pribadi di beberapa kios di Desa Guruapin yang mengatasnamakan Puskesmas Kayoa. Dugaan tersebut perlu ditelusuri untuk memastikan apakah transaksi itu merupakan kewajiban pribadi atau berkaitan dengan operasional puskesmas.

Sejumlah pegawai berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan segera melakukan evaluasi dan pemeriksaan terhadap pengelolaan Dana BOK 2026 serta pembayaran jasa pelayanan JKN tahun 2025.

Transparansi laporan realisasi anggaran dan kepastian pembayaran hak pegawai dinilai penting agar persoalan administrasi keuangan tidak berdampak pada pelayanan kesehatan masyarakat di Kecamatan Kayoa.

Hingga berita ini disusun, informasi mengenai pencairan anggaran, jumlah tunggakan, serta dugaan utang tersebut masih memerlukan verifikasi. Kepala Puskesmas Kayoa, Fahrudin, juga belum memberikan klarifikasi atas persoalan yang disampaikan sejumlah pegawai. (Red)

HALSEL, Malutline.com — Sebaran temuan kasus baru HIV/AIDS di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, menjadi perhatian serius. Berdasarkan data sebaran hingga September 2026, tercatat sebanyak 33 kasus HIV baru yang tersebar di 17 wilayah, dengan satu kasus berasal dari Ternate.

Dari data tersebut, wilayah Laiwui mencatat angka tertinggi dengan lima kasus. Sementara itu, Labuha dan Gandasuli masing-masing mencatat empat kasus, disusul Mandaong dan Maka dengan masing-masing tiga kasus.

Adapun wilayah Babang dan Saketa masing-masing mencatat dua kasus. Sementara Wayaloar, Bajo, Laromabati, Yaba, Kukupang, Loleojaya, Indong, Busua, Dolik, dan Jikohay masing-masing mencatat satu kasus.

Secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan bahwa temuan HIV tidak hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan, tetapi juga tersebar di sejumlah wilayah lainnya di Halmahera Selatan.

Temuan HIV Perlu Mendapat Perhatian Serius

Sebaran kasus baru HIV tersebut menjadi pengingat pentingnya penguatan pelayanan kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan, pemeriksaan dini, pengobatan, dan pendampingan terhadap orang dengan HIV (ODHIV).

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui Dinas Kesehatan diharapkan terus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai cara penularan HIV, pentingnya pemeriksaan secara sukarela, serta akses terhadap layanan pengobatan antiretroviral (ARV).

Selain itu, keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan perlu mendapat perhatian agar masyarakat dapat memperoleh layanan pemeriksaan dan pengobatan tanpa harus menghadapi kendala geografis maupun biaya transportasi yang tinggi.

Temuan kasus baru juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa penularan hanya terjadi di wilayah yang mencatat angka tertinggi. Jumlah kasus yang ditemukan dapat dipengaruhi oleh cakupan pemeriksaan, akses pelayanan kesehatan, dan kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV.

Dorong Pemeriksaan Dini dan Edukasi Masyarakat Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai HIV menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penularan sekaligus menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.

HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, menggunakan peralatan makan bersama, ataupun berinteraksi sosial sehari-hari.

Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa perlindungan, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta penularan dari ibu kepada anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Melalui pemeriksaan dini dan pengobatan ARV secara teratur, ODHIV dapat menjalani kehidupan yang sehat. Bahkan, seseorang yang menjalani pengobatan dan berhasil mempertahankan jumlah virus pada tingkat tidak terdeteksi tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengucilkan orang yang hidup dengan HIV, melainkan memberikan dukungan agar mereka tetap mendapatkan pelayanan kesehatan dan pengobatan secara berkelanjutan.
Pemerintah Diharapkan Memperkuat Layanan Kesehatan

Dengan adanya temuan kasus baru di berbagai wilayah Halmahera Selatan, penguatan layanan pemeriksaan HIV di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya menjadi kebutuhan penting.

Upaya tersebut perlu disertai penyuluhan kesehatan reproduksi, ketersediaan alat pemeriksaan, jaminan kerahasiaan pasien, serta kemudahan memperoleh obat ARV.

Khusus bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau menjadi faktor penting dalam mempercepat deteksi dini dan memastikan keberlanjutan pengobatan.

Data sebaran hingga September 2026 ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan instansi kesehatan dalam menyusun langkah pencegahan serta memperluas jangkauan pelayanan HIV di Halmahera Selatan.

Catatan redaksi: Berdasarkan grafik yang tersedia, tercatat 33 kasus HIV baru pada 17 wilayah, termasuk satu kasus dari Ternate. Data tersebut belum menunjukkan jumlah keseluruhan ODHIV di Halmahera Selatan maupun jumlah kematian akibat AIDS. Sumber resmi dan periode pencatatan secara terperinci masih perlu dikonfirmasi kepada Dinas Kesehatan setempat. (Red)