Malut Line

HALSEL, MALUTLINE – Puskesmas Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara, menjalin kerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk mempermudah pelayanan administrasi kependudukan bagi bayi yang baru lahir.

Melalui kerja sama tersebut, setiap persalinan yang berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) diupayakan agar langsung ditindaklanjuti dengan pengurusan akta kelahiran bayi. Langkah ini bertujuan memberikan kemudahan bagi orang tua dalam memperoleh dokumen kependudukan tanpa harus menghadapi proses pengurusan yang berbelit-belit.

Hal tersebut disampaikan Kepala Puskesmas Kayoa, Fahrudin Saptu, yang akrab disapa Eden. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Dukcapil merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, khususnya bagi ibu yang baru melahirkan dan keluarga yang membutuhkan dokumen kependudukan anak.

Menurut Eden, akta kelahiran merupakan dokumen penting yang menjadi bukti identitas dan status kelahiran seorang anak. Karena itu, pengurusan dokumen tersebut sejak dini perlu mendapat perhatian agar hak administrasi setiap anak dapat terpenuhi.

“Melalui kerja sama ini, kami ingin memberikan kemudahan kepada masyarakat. Setiap bayi yang lahir di fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan dapat segera difasilitasi dalam pengurusan akta kelahirannya,” demikian penjelasan mengenai tujuan program tersebut.

Ia menambahkan, sinergi antara Puskesmas Kayoa dan Dukcapil diharapkan mampu mempercepat proses pelayanan administrasi kependudukan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya dokumen resmi bagi anak sejak lahir.

Selain memberikan kemudahan bagi orang tua, kerja sama lintas sektor ini juga diharapkan dapat mendukung tertib administrasi kependudukan di wilayah Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan.

Puskesmas sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tidak hanya berperan dalam memberikan pelayanan medis kepada ibu dan bayi, tetapi juga dapat menjadi penghubung masyarakat dengan instansi terkait untuk mempermudah akses terhadap pelayanan publik.

Eden berharap, kerja sama tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan sehingga masyarakat semakin mudah memperoleh pelayanan yang cepat, efektif, dan tepat sasaran.

Dengan adanya kolaborasi ini, Puskesmas Kayoa berharap setiap bayi yang lahir dapat segera difasilitasi memperoleh identitas hukum melalui penerbitan akta kelahiran sesuai dengan ketentuan dan persyaratan administrasi yang berlaku.

Program ini menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat sekaligus memastikan pemenuhan hak identitas anak sejak awal kehidupannya. (Red)

HALSEL, Malutline. Com Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum refleksi bagi generasi muda untuk menakar kembali komitmen, idealisme, serta peran strategisnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah dinamika kekuasaan dan berbagai kebijakan publik, pemuda dituntut tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga hadir sebagai kekuatan intelektual yang mampu menguji, mengkritisi, dan menawarkan gagasan perubahan.

Arfan Rusli Andili, Ketua Umum Himapro Hukum UNSAN, memandang bahwa peran pemuda dalam mengawal kebijakan kekuasaan dapat dipahami melalui kerangka berpikir tesis, antitesis, dan sintesis. Ketiga konsep ini menjadi pendekatan untuk membangun tradisi berpikir kritis sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Menurut Arfan, tesis dapat dipahami sebagai gagasan, keputusan, atau kebijakan yang ditawarkan oleh pemegang kekuasaan. Sementara itu, antitesis merupakan sikap kritis yang menguji kebijakan tersebut melalui argumentasi, realitas sosial, dan kepentingan publik. Adapun sintesis adalah upaya melahirkan gagasan baru melalui evaluasi, dialog, serta pertemuan berbagai pandangan demi menemukan jalan keluar yang lebih baik.

Dalam konteks ini, pemuda memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kebijakan tidak hanya dinilai dari tujuan yang disampaikan, tetapi juga dari pelaksanaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Pemuda tidak boleh kehilangan daya kritis di hadapan kekuasaan. Kita harus mampu membedakan antara dukungan yang berlandaskan kepentingan rakyat dan dukungan yang sekadar mengikuti arus. Demikian pula, kritik harus dibangun dengan argumentasi dan solusi, bukan hanya penolakan tanpa arah,” demikian pesan yang menjadi landasan refleksi tersebut.

Arfan menilai bahwa tantangan generasi muda saat ini bukan semata-mata keberanian menyampaikan pendapat, melainkan konsistensi dalam mempertahankan prinsip. Sebab, idealisme sering kali diuji ketika pemuda berhadapan dengan kepentingan, jabatan, maupun berbagai dinamika yang berpotensi menggeser orientasi perjuangan.

Dalam situasi tersebut, pemuda perlu menjaga independensi berpikir agar tidak kehilangan keberanian dalam menyampaikan kebenaran. Sikap kritis tidak harus dimaknai sebagai permusuhan terhadap pemerintah atau pemegang kekuasaan. Sebaliknya, kritik yang objektif dan konstruktif merupakan bagian dari upaya memperbaiki kebijakan serta memperkuat tanggung jawab publik.

Menurutnya, pemuda harus mampu memberikan dukungan terhadap kebijakan yang bermanfaat, menyampaikan koreksi terhadap kebijakan yang bermasalah, dan menawarkan alternatif ketika ditemukan persoalan dalam pelaksanaannya.

Dengan demikian, posisi pemuda tidak berhenti sebagai antitesis yang hanya menolak, tetapi berkembang menjadi kekuatan sintesis yang mampu menghadirkan solusi. Inilah pentingnya membangun budaya intelektual yang tidak hanya mengandalkan keberanian berbicara, tetapi juga memperkuat kemampuan menganalisis persoalan dan merumuskan gagasan berdasarkan fakta.

Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Sejarah

Memasuki peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, semangat persatuan yang diwariskan para pendahulu bangsa harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan pendapat, melainkan membangun kesadaran bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk memperkaya gagasan dan mencari solusi bersama.

Pemuda perlu mengambil peran dalam mengawal kebijakan publik, membangun literasi politik, menyuarakan persoalan masyarakat, serta menghidupkan ruang diskusi yang sehat dan bertanggung jawab. Kampus, organisasi kepemudaan, dan berbagai ruang sosial harus menjadi tempat tumbuhnya keberanian intelektual yang berorientasi pada keadilan dan kemajuan bangsa.

Arfan juga menekankan bahwa komitmen pemuda tidak boleh berhenti sebagai ucapan seremonial setiap peringatan Sumpah Pemuda. Janji tentang persatuan, tanggung jawab, dan masa depan bangsa harus dibuktikan melalui konsistensi sikap dan keberanian menjaga prinsip dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, tesis, antitesis, dan sintesis bukan sekadar konsep berpikir, melainkan kerangka refleksi untuk menempatkan pemuda sebagai bagian penting dari proses perubahan. Kekuasaan membutuhkan evaluasi, kebijakan membutuhkan pengawasan, dan masyarakat membutuhkan generasi muda yang berani menyampaikan kritik sekaligus mampu menawarkan solusi.

“Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan ujian atas komitmen generasi hari ini. Pemuda harus berani mengkritik tanpa membenci, mendukung tanpa kehilangan nalar kritis, serta menawarkan perubahan tanpa meninggalkan idealisme. Sebab, masa depan bangsa tidak cukup dibangun dengan janji, tetapi membutuhkan keberanian untuk menjaga prinsip dan memperjuangkan kepentingan rakyat,” tutup Arfan Rusli Andili.

HALSEL, MALUTLINE – Warga Desa Tomori, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, digegerkan dengan penemuan seorang pria bernama Erwin Sasela yang ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya, sekitar pukul 06.30 WIT.

Korban ditemukan di kediamannya yang berlokasi di kompleks Jalan Tugu Ikan Masuk, Desa Tomori. Peristiwa tersebut mengundang perhatian masyarakat setempat dan menyisakan duka serta keprihatinan bagi warga di lingkungan sekitar.

Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan seutas tali yang diduga berkaitan dengan peristiwa gantung diri. Namun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Kejadian ini menjadi perhatian masyarakat, sekaligus memunculkan harapan agar aparat kepolisian segera melakukan penanganan sesuai prosedur untuk memastikan kronologi serta penyebab kematian korban.

Polisi Diharapkan Mengungkap Kronologi Kejadian

Untuk memastikan penyebab kematian Erwin Sasela, diperlukan penyelidikan secara menyeluruh oleh aparat kepolisian. Langkah tersebut mencakup pemeriksaan tempat kejadian perkara, pengumpulan keterangan saksi, serta tindakan lain yang diperlukan sesuai ketentuan hukum.

Penanganan yang profesional dan berdasarkan fakta sangat penting agar informasi mengenai peristiwa tersebut tidak berkembang menjadi spekulasi di tengah masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi mengenai kronologi lengkap kejadian, pihak yang pertama kali menemukan korban, maupun hasil pemeriksaan dari aparat berwenang.

Malutline akan terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak kepolisian dan pihak terkait guna mendapatkan informasi yang akurat, berimbang, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian korban sebelum adanya penjelasan resmi dari pihak berwenang.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kepedulian sosial dan perhatian terhadap kondisi orang-orang di sekitar kita. Dukungan keluarga serta lingkungan yang peduli merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih aman dan saling memperhatikan. (Red)

HALSEL, MALUTLINE – Pascakebakaran yang terjadi di lingkungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), pihak PDAM terus melakukan upaya perbaikan jaringan air bersih, termasuk saluran air di Desa Dolik, Kecamatan Gane Barat Utara.

Direktur PDAM Halsel, Soleman Bobote, menyampaikan bahwa perbaikan saluran air di Desa Dolik dilakukan sepanjang kurang lebih 200 meter.

Perbaikan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya penanganan jaringan distribusi air bersih agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Karena itu, perbaikan jaringan distribusi menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan saluran air dapat berfungsi secara optimal.

Soleman Bobote menegaskan bahwa penanganan jaringan air terus menjadi perhatian PDAM Halsel, termasuk di wilayah Kecamatan Gane Barat Utara yang membutuhkan perbaikan infrastruktur distribusi air.

Melalui perbaikan saluran sepanjang 200 meter tersebut, diharapkan distribusi air bersih di Desa Dolik dapat berjalan lebih baik dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

PDAM Halsel diharapkan terus meningkatkan pemeliharaan serta penanganan jaringan air di wilayah pelayanan, sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan air bersih secara lebih optimal. (Red)

HALSEL, MALUTLINE — Sanggar Budaya Waidoba sukses menggelar Festival Budaya Kampung Orimakurunga di Desa Orimakurunga, Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, pada 26–27 Oktober 2026.

Festival yang mengusung tema “Merawat Tradisi, Melestarikan Budaya, Menghidupkan Pangan Lokal” ini menampilkan kekayaan budaya masyarakat setempat, dengan fokus pada Tarian Togal, Tarian Soya-Soya, serta tradisi pengolahan pangan lokal. Kegiatan tersebut terselenggara berkat dukungan Dana Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara.

Kegiatan ini dihadiri Fauziah Rasid, S.S., M.Si., yang mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara, Muhammad Tang, S.S., M.Hum. Fauziah sekaligus membuka secara resmi pelaksanaan festival.

Ketua Panitia Festival Budaya Kampung Orimakurunga, M. Rizki Hasyim, mengatakan bahwa festival tersebut bukan sekadar pertunjukan seni maupun hiburan, melainkan bentuk nyata komitmen masyarakat dalam menjaga identitas budaya, merawat tradisi, dan mewariskan kekayaan leluhur kepada generasi muda.

Menurut Rizki, terdapat tiga unsur budaya yang menjadi perhatian utama dalam kegiatan tersebut, yakni Tarian Togal, Tarian Soya-Soya, dan tradisi pengolahan pangan lokal.

Ketiganya memiliki nilai penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya daerah, memperkuat identitas masyarakat, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan leluhur.

Togal dan Soya-Soya, Warisan Budaya yang Perlu Dijaga

Rizki menjelaskan, Tarian Togal merupakan salah satu bentuk ekspresi seni yang memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara, termasuk masyarakat Makian-Kayoa.

Melalui gerakan tari, iringan musik, dan kebersamaan para penarinya, Togal menjadi sarana untuk mengekspresikan kegembiraan, mempererat hubungan sosial, serta menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, melalui festival ini, pihaknya ingin memberikan ruang kepada para penari, pelaku seni, dan generasi muda untuk terus mempelajari, menampilkan, serta mengembangkan Tarian Togal tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.

Ia berharap Togal tidak hanya dikenal di lingkungan masyarakat setempat, tetapi juga dapat diperkenalkan secara lebih luas sebagai salah satu kekayaan budaya daerah yang patut dihargai dan dilestarikan.

Sementara itu, Tarian Soya-Soya memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat Maluku Utara, termasuk kisah kepahlawanan dan perlawanan terhadap Portugis. Tarian ini dikenal dengan gerakannya yang dinamis serta penggunaan perlengkapan tari, seperti ngana-ngana dan perisai, yang merepresentasikan semangat keberanian dan perjuangan.

Meski Tarian Soya-Soya belum sempat ditampilkan dalam festival tersebut, Rizki menegaskan bahwa pengenalan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tetap penting bagi generasi muda.

Menurutnya, generasi penerus tidak cukup hanya mengenal gerakan tarian, tetapi juga perlu memahami sejarah, semangat perjuangan, kedisiplinan, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran yang menjadi bagian dari pesan budaya tersebut.

Pengolahan Pangan Lokal Jadi Perhatian Utama

Selain kesenian tradisional, festival ini juga memberikan perhatian khusus terhadap pengetahuan lokal dalam pengolahan pangan.

Rizki mengatakan, pangan tradisional bukan sekadar sumber makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya, keterampilan masyarakat, serta hubungan manusia dengan alam yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui demonstrasi pengolahan pangan lokal, masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan dapat melihat dan mempelajari secara langsung pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki para pelaku tradisi.

Ia menilai pengetahuan lokal mengenai pengolahan pangan perlu terus diwariskan agar tidak hilang akibat perubahan pola hidup dan perkembangan zaman.

Lebih dari itu, pangan lokal juga memiliki potensi ekonomi apabila dikembangkan secara kreatif dan berkelanjutan. Pengembangan produk pangan berbasis potensi daerah dapat membuka peluang usaha, meningkatkan kreativitas masyarakat, serta mendukung perekonomian keluarga dan generasi muda.

Karena itu, Rizki mengajak masyarakat untuk menghormati para pelaku tradisi, petani, serta para maestro yang selama ini menjaga dan mewariskan pengetahuan lokal.

Generasi Muda Jangan Melupakan Budaya Sendiri

Dalam kesempatan tersebut, Rizki yang akrab disapa Iki mengajak seluruh generasi muda Orimakurunga agar tidak malu mengenal, mempelajari, dan mencintai kebudayaan sendiri.

Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan derasnya arus budaya global tidak boleh membuat generasi muda melupakan tarian, makanan tradisional, bahasa, sejarah, serta adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur.

Menurutnya, media sosial memang membuka akses terhadap berbagai informasi dan tren dari luar daerah. Namun, generasi muda juga perlu memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan lokal kepada masyarakat luas.

“Jangan sampai kita lebih mengenal kebudayaan dari luar, tetapi melupakan tarian, makanan, bahasa, sejarah, dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur kita,” ujar Iki.

Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton perkembangan zaman, tetapi juga mengambil peran aktif dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah.

Rizki menambahkan, Festival Budaya Kampung Orimakurunga diharapkan menjadi titik awal bagi pengembangan kegiatan kebudayaan yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, kebudayaan dapat menjadi kekuatan dalam pendidikan, mempererat persatuan sosial, mendukung pariwisata, serta mengembangkan ekonomi kreatif masyarakat.

Pihaknya ingin Kampung Orimakurunga tidak hanya dikenal sebagai tempat penyelenggaraan pertunjukan seni, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi generasi yang mencintai, memahami, dan melestarikan warisan leluhurnya.

“Budaya hidup dalam ingatan para sesepuh, gerakan para penari, keterampilan tangan para pelaku tradisi, makanan yang kita warisi, serta kebersamaan masyarakat dalam menjaga identitasnya,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Rizki juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara beserta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya festival tersebut.

Ia berharap dukungan terhadap kegiatan kebudayaan di tingkat desa terus diperkuat agar tradisi lokal tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Balai Pelestarian Kebudayaan Dorong Pelestarian Warisan Daerah

Sementara itu, Fauziah Rasid, S.S., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan pesan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku Utara, Muhammad Tang, S.S., M.Hum., agar masyarakat terus menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan daerah sebagai identitas bangsa sekaligus warisan berharga bagi generasi mendatang.

Fauziah, yang akrab disapa Zhia, mengatakan bahwa pesan tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak melupakan nilai-nilai budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, kebudayaan bukan sekadar tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan juga cerminan jati diri, sejarah, dan kearifan lokal yang membentuk karakter masyarakat.

Ia juga menyampaikan bahwa Balai Pelestarian Kebudayaan terbuka bagi masyarakat, komunitas, dan pelaku seni yang ingin mengusulkan proposal maupun program pengembangan kebudayaan di daerah.

Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menjadi landasan dalam pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan nasional.

Dalam regulasi tersebut, terdapat 10 Objek Pemajuan Kebudayaan yang mencakup tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

“Balai Pelestarian Kebudayaan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengusulkan proposal dan program untuk pengembangan kebudayaan di daerah,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat dan komunitas budaya di Maluku Utara semakin aktif mengambil bagian dalam upaya pelestarian kebudayaan melalui kegiatan yang terencana, berkelanjutan, dan melibatkan generasi muda.

Festival Budaya Kampung Orimakurunga pun menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku seni, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Sanggar Budaya Waidoba berharap tradisi lokal tetap hidup, pangan lokal semakin dihargai, dan generasi muda terus memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya daerahnya. (Red)