HALSEL, Malutline — Hari-hari di Halmahera Selatan kini berjalan dengan langkah yang lebih pelan, Seolah waktu ikut berduka Langit sering mendung, dan doa-doa mengalir lebih panjang dari biasanya, Kepergian Usman Sidik, mantan Bupati Halmahera Selatan, menjadi luka yang tidak berdarah, namun terasa perih di dalam dada banyak orang.
Kabar duka itu tidak datang dengan suara keras, Ia hadir dalam keheningan, menyelinap ke ruang-ruang hati masyarakat, membuat banyak orang terdiam, menunduk, lalu mengucap istigfar dengan suara gemetar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dari Allah kita datang, dan kepada-Nya pula kita kembali.
Pergi di Saat Pengabdian Belum Usai Usman Sidik adalah manusia biasa yang memikul amanah besar. Ia menjalani kepemimpinan bukan dengan gemerlap, tetapi dengan kesabaran. Ia berjalan di jalan-jalan sunyi pengabdian, kadang diterpa kritik, kadang dililit keterbatasan, namun tetap bertahan karena keyakinan bahwa amanah adalah ibadah.
Kini, ketika langkahnya terhenti, banyak yang merasa kehilangan bukan hanya pemimpin, tetapi juga arah. Ia pergi di saat pengabdian belum sepenuhnya usai, meninggalkan rencana yang belum rampung, dan harapan yang masih menggantung di langit Halmahera Selatan.
Jejak Amal yang Kini Menjadi Saksi
Apa yang ditinggalkan Usman Sidik bukan hanya bangunan dan program, tetapi jejak amal, Setiap jalan yang terbuka, setiap layanan publik yang berusaha dibenahi, menjadi saksi di hadapan Tuhan tentang niat baik seorang hamba yang ingin memberi manfaat bagi sesama.
Dalam keyakinan iman dan islam, tidak ada amal yang sia-sia. Mungkin manusia lupa, mungkin waktu mengaburkan, tetapi Tuhan Allah SWT Maha Mencatat. Dan di sanalah harapan terbesar bagi seorang pemimpin yang telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Air Mata Rakyat sebagai Doa yang Tak Terucap Kesedihan rakyat kecil mengalir tanpa banyak kata. Air mata yang jatuh di pipi mereka menjadi doa yang paling jujur. Karena mereka tahu, almarhum pernah hadir, pernah mendengar, dan pernah mencoba.
Bagi mereka, kehilangan sosok Usman sidik ini bukan sekadar kabar berita, tetapi duka pribadi, Seorang pemimpin yang mereka kenal, sosok yang sederhana apa adanya dalam penampilan cara berpakaiannya maupun kesehariannya kini hanya bisa mereka sebut namanya dalam doa, memohon agar kuburnya dilapangkan dan dosanya diampuni.
Renungan tentang Amanah dan Kematian
Kepergian Usman Sidik adalah pengingat keras bagi yang masih hidup. Bahwa jabatan hanyalah titipan. Bahwa kekuasaan akan berakhir di satu titik sunyi bernama kematian. Dan bahwa yang akan dibawa pulang bukanlah nama besar, melainkan amal dan niat.
Hari ini, Halmahera Selatan bukan hanya berduka, tetapi juga sedang belajar.
Belajar tentang keterbatasan manusia, Belajar bahwa sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang sadar bahwa kepemimpinan adalah jalan menuju pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Doa Negeri Saruma Mengiringi Kepergian
Di masjid-masjid, doa dipanjatkan. Di rumah-rumah, Al-Fatihah dibacakan. Di sudut-sudut malam, tangan-tangan terangkat memohon ampunan bagi almarhum.
Ya Allah, ampunilah hamba-Mu Usman Sidik, Terimalah segala amal baktinya.
Lapangkan kuburnya, terangilah peristirahatan terakhirnya, Jadikan apa yang ia bangun sebagai amal jariyah yang terus mengalir.
Dan untuk kami yang ditinggalkan,
berilah kekuatan untuk melanjutkan amanah, keikhlasan untuk menerima takdir, serta kebijaksanaan untuk belajar dari kepergiannya.
Pergi sebagai Hamba, Dikenang sebagai Amanah
Usman Sidik telah kembali kepada sang ilahi, Ia pergi sebagai hamba, bukan sebagai pejabat, Ia meninggalkan dunia dengan membawa amal bukan jabatan,
Halmahera Selatan akan terus melangkah, meski dengan hati yang masih basah oleh air mata, Dan dalam setiap langkah itu, namanya akan tetap disebut—bukan dengan sorak, tetapi dengan doa.
Selamat jalan, Usman Sidik.
Semoga Allah meridhai perjalananmu,
dan semoga negeri ini tidak melupakan pelajaran yang kau tinggalkan. (Haji)










Komentar