GORONTALO, Malutline— Usia boleh menua, namun ingatan dan semangat hidup Aba Koma tetap tajam. Pria yang kini berusia 102 tahun itu masih tampak sehat dan penuh semangat ketika bercerita tentang masa kecilnya bersama ayah penulis.
Dalam pertemuan hangat itu, Aba Koma mengenang masa-masa bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Gorontalo, sekolah zaman kolonial yang dulu menjadi kebanggaan anak-anak pribumi. Ia tersenyum saat menceritakan bagaimana setiap pagi mereka berjalan kaki menuju sekolah tanpa mengenakan sepatu, menembus jalan tanah dan debu, namun dengan hati penuh tekad untuk belajar.
“Sekolah waktu itu bukan soal gedungnya bagus atau tidak, tapi tentang harapan. Kami percaya ilmu bisa mengubah nasib,” ujar Aba Koma dengan suara lirih namun penuh keyakinan.
Cerita masa kecil itu seolah membuka lembar sejarah pendidikan di Gorontalo tempo dulu — masa ketika semangat belajar tumbuh dari kesederhanaan. Bahkan, tokoh-tokoh besar Gorontalo seperti Fadel Muhammad, mantan Gubernur Gorontalo, juga sering menyinggung pentingnya nilai perjuangan dan semangat belajar generasi masa lalu yang patut diteladani hari ini.
Kini di usia lebih dari seabad, Aba Koma menjadi saksi hidup perjalanan panjang pendidikan dan kehidupan di Gorontalo. Dari masa tanpa sepatu hingga zaman serba digital, satu hal yang tak pernah pudar darinya adalah semangat menuntut ilmu dan kenangan indah bersama sahabat-sahabat lamanya. (Red)










Komentar