HALSEL, Malutline – Kinerja Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Bacan Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara kembali menjadi sorotan. Pasalnya, pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) untuk Korwil Dinas Pendidikan hingga kini belum juga dicairkan, meski proses pendaftaran PB (Payment Batch) telah dilakukan sejak hari Senin.
Keterlambatan ini menuai kekecewaan dan keluhan dari para penerima TPP. Pasalnya, dana tersebut sangat berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup sehari-hari, mulai dari kebutuhan keluarga hingga kewajiban finansial lainnya.
“Ini bukan dana hibah atau bonus, tapi hak pegawai yang menyangkut hajat hidup. Sebagai bank penyalur, BSI seharusnya merespons cepat,” ungkap salah satu penerima TPP dengan nada kecewa.
Ironisnya, jumlah penerima TPP dalam daftar PB tersebut hanya 11 orang. Jumlah yang dinilai sangat kecil dan seharusnya tidak menjadi kendala teknis berarti bagi pihak bank untuk segera melakukan pembayaran.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terkait profesionalisme dan komitmen pelayanan Bank BSI, khususnya dalam menjalankan perannya sebagai bank penyalur dana pemerintah. Jika daftar penerima hanya belasan orang namun pembayaran bisa tertunda berhari-hari, publik mempertanyakan bagaimana mekanisme dan standar layanan yang diterapkan.
“Kalau yang menerima hanya 11 orang saja belum bisa dibayarkan tepat waktu, bagaimana dengan penyaluran yang jumlahnya ratusan atau ribuan? Ini patut dipertanyakan,” tambah sumber tersebut.
Keterlambatan ini juga dinilai bertentangan dengan semangat pelayanan cepat dan akuntabel yang selama ini digaungkan oleh Bank BSI sebagai bank syariah nasional. Apalagi, TPP merupakan bagian dari sistem kesejahteraan ASN yang seharusnya dibayarkan tepat waktu sesuai prosedur.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak Bank BSI terkait alasan keterlambatan pembayaran TPP Korwil Diknas tersebut. Para penerima berharap pihak bank tidak tinggal diam dan segera memberikan kejelasan sekaligus menyelesaikan kewajibannya.
Masyarakat dan penerima TPP mendesak agar Bank BSI lebih profesional, responsif, dan peka terhadap kebutuhan nasabah, terlebih ketika menyangkut hak pegawai dan kebutuhan hidup banyak orang.
Kepercayaan publik terhadap lembaga perbankan, khususnya bank penyalur dana pemerintah, sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan layanan yang diberikan.
Jika keterlambatan seperti ini terus berulang, bukan tidak mungkin akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan Bank BSI di daerah. (Haji/red)





