Halsel, Malutline–Riuh suara mesin penggorengan bercampur aroma keripik pisang yang gurih menyeruak dari sebuah bangunan sederhana di kawasan Kampung Baru, Desa Kawasi, Pulau Obi. Dari sinilah geliat ekonomi baru warga setempat mulai berdenyut, dipelopori oleh sekelompok perempuan yang tergabung dalam UMKM Obi Jaya Mandiri.
Kelompok usaha ini dirintis sejak 2019 oleh Suryani Jouronga, perempuan asli Obi yang akrab disapa Mama Cahya. Berawal dari keraguan, kini usaha tersebut menjelma menjadi salah satu contoh sukses pemberdayaan masyarakat lingkar tambang melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel.
“Awalnya kami pesimis, karena pisang di Desa Kawasi rasanya cenderung asin, kami khawatir tidak laku. Tapi setelah mendapat pelatihan dari CSR Harita Nickel, akhirnya kami berani mencoba. Hasilnya justru di luar dugaan,” tutur Mama Cahya sambil menunjukkan produk keripik pisang berlabel Horiwo, singkatan dari Horewo yang berarti “mari berkumpul”.
Kini, tak hanya keripik pisang. Bersama puluhan perempuan lainnya, Mama Cahya berhasil mengembangkan hingga sembilan produk olahan, mulai dari keripik keladi, tahu-tempe, hingga sambal ikan.

Dari Keripik ke Penghargaan Nasional
Perjalanan Obi Jaya Mandiri tidak sia-sia. Berkat pendampingan intensif Harita Nickel, mulai dari manajemen usaha, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran, omzet kelompok ini melonjak drastis hingga menembus ratusan juta rupiah per tahun.
Capaian itu turut mengantarkan mereka meraih penghargaan Indonesian CSR Awards serta Indonesian SDGs Award 2023, dengan kategori Terbaik 1 Local Hero on Social Responsibility.
“Semua pencapaian ini adalah bukti nyata dukungan Harita Nickel terhadap masyarakat lingkar tambang. Kami yang dulu hanya mengandalkan mencari ikan, sekarang punya sumber penghasilan baru,” ujar Mama Cahya dengan bangga.
Jalan Ekonomi Baru bagi Warga
Kisah Obi Jaya Mandiri menjadi cermin perubahan sosial dan ekonomi di Desa Kawasi. Keberadaan tambang nikel di Pulau Obi ternyata tidak hanya berkutat pada hilirisasi mineral, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya usaha-usaha mikro masyarakat.
“Dulu warga hanya bergantung pada laut. Sekarang banyak ibu-ibu di Kawasi yang bisa punya usaha, bisa bantu ekonomi keluarga. Ada harapan baru di sini,” tambah Mama Cahya.
Keberhasilan UMKM ini menunjukkan, ketika industri besar turun langsung membina masyarakat, maka nilai tambah dari hilirisasi bukan hanya pada komoditas tambang, melainkan juga pada kehidupan sosial warga lingkar tambang.
Di tengah geliat produksi keripik pisang dan aneka camilan lain di Desa Kawasi, semangat kebersamaan para perempuan Obi kini seolah menjadi energi baru: membuktikan bahwa keberanian mencoba, ditopang oleh pendampingan yang tepat, mampu mengubah keraguan menjadi keberhasilan. (Red)





