HALSEL, Malutline— Kenangan tentang almarhumah Nurdiyana Joy Sangaji, yang akrab disapa Umi Bassam, hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat Halmahera Selatan, Almarhumah merupakan istri dari Dr. H. Muhammad Kasuba, Bupati Halmahera Selatan yang memimpin daerah ini selama dua periode.
Sosoknya dikenang luas bukan karena status dan jabatan, melainkan karena kebaikan hati, ketulusan, serta kedekatannya dengan masyarakat, Bagi banyak warga, Umi Bassam adalah figur ibu yang penuh empati. Ia dikenal ramah, sederhana, dan tidak pernah menjaga jarak dengan rakyat kecil. Kesaksian tentang kebaikannya terus mengalir dari berbagai pelosok Halmahera Selatan.
“Beliau itu orangnya lembut, tutur katanya halus, dan selalu peduli. Tidak pernah merasa lebih tinggi meski berstatus istri bupati,” ungkap salah satu warga Bacan saat mengenang almarhumah.
Selama mendampingi Dr. H. Muhammad Kasuba memimpin Halmahera Selatan, Umi Bassam aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Ia kerap turun langsung ke masyarakat, mengunjungi warga, menyapa kaum ibu, serta memberi perhatian kepada anak yatim dan keluarga kurang mampu. Banyak kebaikannya dilakukan secara senyap, tanpa sorotan dan tanpa pamrih.
Warga juga mengenang kepedulian almarhumah terhadap kaum perempuan. Ia sering menjadi tempat berbagi cerita dan keluh kesah, memberikan nasihat dengan bahasa yang menenangkan. Kehadirannya selalu membawa rasa teduh dan kehangatan.
“Kalau Umi Bassam datang, suasananya beda. Kami merasa seperti didatangi orang tua sendiri,” tutur seorang ibu rumah tangga di Halsel.
Kesederhanaan menjadi ciri khas almarhumah. Meski mendampingi seorang bupati dua periode, Umi Bassam dikenal jauh dari gaya hidup berlebihan. Sikap rendah hati dan ketulusan itulah yang membuatnya dihormati lintas kalangan—dari masyarakat biasa hingga tokoh adat dan tokoh agama.
Banyak pihak menilai, Umi Bassam adalah penopang moral penting di balik kepemimpinan Dr. H. Muhammad Kasuba. Ia menjadi sumber ketenangan dan penguat nilai-nilai religius serta kemanusiaan dalam menjalani amanah kepemimpinan.
Kini, meski almarhumah telah berpulang, jejak kebaikannya tetap membekas dalam ingatan masyarakat Halmahera Selatan. Namanya disebut dengan penuh hormat dan doa. Bagi warga, Umi Bassam bukan sekadar istri seorang pemimpin, melainkan bagian dari perjalanan sosial dan kemanusiaan daerah ini.
Kebaikan yang ditanam dengan tulus akan selalu hidup, bahkan ketika raga telah tiada. (Haji)






“Kalau hujan deras sedikit saja, air langsung naik. Bukan cuma satu rumah, tapi hampir satu desa. Torang ini hidup selalu dalam rasa was-was,” ungkap salah seorang warga Yaba.