HALSEL, Malutline–Laut biru di sekitar Pulau Obi tampak tenang ketika spide Baod yang membawa rombongan jurnalis berangkat dari dermaga. Hari itu, Rabu (1/10/2025), kami diajak PT Harita Group untuk melihat langsung bagaimana perusahaan tambang ini berinteraksi dengan masyarakat lingkar tambang.

Perjalanan menyusuri pulau-pulau kecil menjadi pembuka yang menyenangkan. Angin laut yang hangat dan barisan hutan hijau seakan menjadi pengingat, bahwa di balik aktivitas pertambangan yang kerap dipandang keras, ada alam dan masyarakat yang harus dijaga keberlanjutannya.

Sesampainya di lokasi, pihak perusahaan memperlihatkan beragam program yang mereka sebut sebagai terobosan positif. Ada kelompok nelayan yang mendapat dukungan peralatan, ibu-ibu rumah tangga yang dibekali pelatihan wirausaha, hingga anak-anak yang menikmati fasilitas pendidikan baru. Wajah-wajah ceria warga saat menceritakan pengalaman mereka, menjadi kesan tersendiri bagi kami.

“Kami ingin masyarakat lingkar tambang merasakan manfaat langsung. Bukan hanya jadi penonton,” ujar salah satu perwakilan manajemen Harita Group.

Suasana terasa cair. Wartawan, warga, dan pihak perusahaan berbincang dalam satu ruang UKM milik warga Kawasi Desa baru Di situ, cerita-cerita tentang kesulitan hidup berdampingan dengan industri bertemu dengan upaya perusahaan untuk menjawab tantangan.

Bagi kami yang hadir, perjalanan ini bukan sekadar liputan biasa. Ada nuansa refleksi, melihat industri yang seringkali dianggap merusak, ternyata juga bisa mencoba memberi nilai tambah bagi daerah, Meski tentu, pekerjaan rumah masih panjang, setidaknya upaya Harita Group di Obi memberi warna lain dalam hubungan tambang dan masyarakat lingkar tambang di kacamatan Obi tempat PT. Harita Group beroperasi.

Di cerita lain Dana Desa Besar, Manfaat Kecil: Jejak UMKM di Desa Kawasi baru yang Terlupakan

Di sebuah warung kecil UMKM di Desa Kawasi, aroma pisang goreng baru saja diangkat dari wajan. Pemiliknya, seorang ibu paruh baya, tersenyum ketika ditanya soal bantuan modal usaha. “Kalau dari dana desa? Tidak pernah. Kami hanya pernah dibantu Harita Group,” jawabnya singkat.

Jawaban itu menohok. Padahal, berdasarkan dokumen resmi, Desa Kawasi setiap tahun mengelola dana hibah desa lebih dari Rp 6 miliar. Angka yang fantastis untuk ukuran sebuah desa. Namun, di balik besarnya kucuran dana, para pelaku UMKM justru mengaku tidak pernah disentuh oleh program pemberdayaan dari desa.

Dana Desa, Kemana Mengalir?

Keterangan sejumlah warga memperlihatkan satu pola: UMKM berjalan sendiri tanpa dukungan desa, sementara dana desa tidak jelas wujud nyatanya. Beberapa warga bahkan mengatakan tak pernah melihat adanya musyawarah desa yang membahas anggaran khusus untuk usaha kecil.

“Kalau ada, mungkin hanya di atas kertas. Tapi realitanya, kami tidak tahu ke mana uang itu dipakai,” tutur seorang pengusaha UMKM.

Minimnya transparansi inilah yang memunculkan tanda tanya besar. Di mana peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam mengawasi? Dan sejauh mana pemerintah desa membuka akses informasi anggaran kepada masyarakat?

Peran Perusahaan Menutup Celah

Ironisnya, ketika dana desa tidak hadir, justru pihak swasta yang menambal celah itu. Program kemitraan Harita Group dinilai lebih nyata, mulai dari bantuan peralatan produksi, pelatihan kewirausahaan, hingga dukungan pemasaran.

“Seharusnya yang paling dekat membantu adalah desa, tapi justru kami hidup dari program perusahaan,” ujar salah satu pelaku UMKM kuliner.

Menanti Jawaban

Fenomena di Kawas membuka pertanyaan serius tentang tata kelola dana desa. Anggaran besar seharusnya berbanding lurus dengan manfaat nyata, bukan sekadar angka di laporan tahunan.

Bagi UMKM Kawasi, persoalannya sederhana: mereka hanya ingin diperhatikan dan diberi ruang berkembang. Tetapi hingga kini, mereka masih harus bertahan dengan bantuan pihak luar, sementara dana miliaran dari desa tetap menjadi misteri. (Bur)

Halsel, Malutline–Riuh suara mesin penggorengan bercampur aroma keripik pisang yang gurih menyeruak dari sebuah bangunan sederhana di kawasan Kampung Baru, Desa Kawasi, Pulau Obi. Dari sinilah geliat ekonomi baru warga setempat mulai berdenyut, dipelopori oleh sekelompok perempuan yang tergabung dalam UMKM Obi Jaya Mandiri.

Kelompok usaha ini dirintis sejak 2019 oleh Suryani Jouronga, perempuan asli Obi yang akrab disapa Mama Cahya. Berawal dari keraguan, kini usaha tersebut menjelma menjadi salah satu contoh sukses pemberdayaan masyarakat lingkar tambang melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel.

“Awalnya kami pesimis, karena pisang di Desa Kawasi rasanya cenderung asin, kami khawatir tidak laku. Tapi setelah mendapat pelatihan dari CSR Harita Nickel, akhirnya kami berani mencoba. Hasilnya justru di luar dugaan,” tutur Mama Cahya sambil menunjukkan produk keripik pisang berlabel Horiwo, singkatan dari Horewo yang berarti “mari berkumpul”.

Kini, tak hanya keripik pisang. Bersama puluhan perempuan lainnya, Mama Cahya berhasil mengembangkan hingga sembilan produk olahan, mulai dari keripik keladi, tahu-tempe, hingga sambal ikan.

­

Dari Keripik ke Penghargaan Nasional

Perjalanan Obi Jaya Mandiri tidak sia-sia. Berkat pendampingan intensif Harita Nickel, mulai dari manajemen usaha, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran, omzet kelompok ini melonjak drastis hingga menembus ratusan juta rupiah per tahun.

Capaian itu turut mengantarkan mereka meraih penghargaan Indonesian CSR Awards serta Indonesian SDGs Award 2023, dengan kategori Terbaik 1 Local Hero on Social Responsibility.

“Semua pencapaian ini adalah bukti nyata dukungan Harita Nickel terhadap masyarakat lingkar tambang. Kami yang dulu hanya mengandalkan mencari ikan, sekarang punya sumber penghasilan baru,” ujar Mama Cahya dengan bangga.

Jalan Ekonomi Baru bagi Warga

Kisah Obi Jaya Mandiri menjadi cermin perubahan sosial dan ekonomi di Desa Kawasi. Keberadaan tambang nikel di Pulau Obi ternyata tidak hanya berkutat pada hilirisasi mineral, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya usaha-usaha mikro masyarakat.

“Dulu warga hanya bergantung pada laut. Sekarang banyak ibu-ibu di Kawasi yang bisa punya usaha, bisa bantu ekonomi keluarga. Ada harapan baru di sini,” tambah Mama Cahya.

Keberhasilan UMKM ini menunjukkan, ketika industri besar turun langsung membina masyarakat, maka nilai tambah dari hilirisasi bukan hanya pada komoditas tambang, melainkan juga pada kehidupan sosial warga lingkar tambang.

Di tengah geliat produksi keripik pisang dan aneka camilan lain di Desa Kawasi, semangat kebersamaan para perempuan Obi kini seolah menjadi energi baru: membuktikan bahwa keberanian mencoba, ditopang oleh pendampingan yang tepat, mampu mengubah keraguan menjadi keberhasilan. (Red)

LABUHA, Malutline – Kabar membanggakan datang dari salah satu putri terbaik Maluku Utara. Irma Hi Habib, prajurit TNI Angkatan Darat yang berdinas di Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad), resmi naik pangkat dari Letnan Satu (Lettu) menjadi Kapten TNI Kowad.

Ucapan selamat pun mengalir dari keluarga besar, termasuk Abang Tiar dan Ci Amira, kakak ipar Irma, serta keluarga besar Haji Habib Haji Laksamana.

“Ini adalah kebanggaan bagi kami sekeluarga. Adinda Irma bukan hanya membawa harum nama keluarga, tapi juga mengangkat nama Maluku Utara di jajaran TNI. Kami berdoa semoga Irma selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam mengabdi kepada bangsa dan negara,” ujar Abang Tiar mewakili keluarga besar.

Kenaikan pangkat ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Maluku Utara, karena salah satu putri daerah berhasil menorehkan prestasi di jajaran TNI Angkatan Darat. (Red)

LABUHA, Malutline – Penggunaan Dana Desa (DD) 2024 di Desa Kupal, Kecamatan Bacan Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali menuai sorotan tajam. Dengan status desa “berkembang”, Desa Kupal menerima pagu anggaran sebesar Rp 1.124.797.000

Namun, pertanggungjawaban penggunaannya oleh Kepala Desa Sanusi Larianga dinilai tidak transparan, bahkan banyak kegiatan fisik yang diduga tidak jelas realisasinya.

Berdasarkan data terakhir pembaruan 12 Juli 2025, penyaluran Dana Desa terbagi dalam dua tahap, yakni Rp 483.740.200 (43,01%) dan Rp 641.056.800 (56,99%). Namun, sejumlah alokasi menimbulkan tanda tanya besar, antara lain

Pembangunan/Rehabilitasi Jalan Desa: Rp 258,3 juta pembangunan/Rehabilitasi Jalan Lingkungan/Gang: Rp 100 juta

Pembangunan/Rehabilitasi Jalan Usaha Tani: Rp 86 juta pemeliharaan Prasarana Jalan Desa (Gorong-gorong, Drainase, dll): Rp 70 juta

Pemeliharaan Sarana Kebudayaan/Rumah Adat/Keagamaan Desa: Rp 178 juta Keadaan Mendesak: Rp 241,2 juta

Penyelenggaraan PAUD/TPQ Non-Formal: Rp 33,6 juta posyandu (Makanan Tambahan, Kelas Ibu Hamil, Lansia, dll): Rp 35,1 juta

Bantuan Perikanan: Rp 15 juta Produksi Tanaman Pangan (alat & pengolahan): Rp 35 juta Operasional Pemerintah Desa: Rp 57,5 jutaPengiriman Kontingen Kepemudaan/Olah Raga: Rp 15 juta

Sejumlah warga menilai anggaran jumbo yang digelontorkan tidak tampak hasilnya di lapangan.

“Setiap tahun dana ratusan juta masuk, tapi jalan desa masih rusak parah. Begitu juga jalan usaha tani, belum terlihat jelas manfaatnya. Bangunan sarana kebudayaan yang disebut dalam laporan pun tidak jelas wujudnya,” ujar salah satu warga Kupal, Rabu (1/10/2025).

Warga juga menyoroti pos anggaran keadaan mendesak yang mencapai Rp 241,2 juta. “Kami tidak tahu keadaan darurat apa yang dimaksud. Tidak pernah ada penjelasan terbuka soal penggunaan dana itu,” tambah warga lainnya.

Ketua Front Anti Korupsi Indonesia (FAKI) Maluku Utara, Dani Haris Purnawan, menegaskan lemahnya transparansi pengelolaan Dana Desa di Kupal membuka peluang besar penyimpangan.

“Kades Sanusi Larianga harus menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat. Jika ada indikasi penyelewengan, maka Polres Halsel dan Kejaksaan Negeri wajib turun tangan melakukan penyelidikan,” tegas Dani.

Selain dugaan penyimpangan pada laporan kegiatan fisik, beberapa warga mengungkapkan informasi mencengangkan. Sang kades diduga membeli sebidang tanah di Desa Sawadai senilai Rp 150 juta serta empat kapling tanah di Desa Tembal dengan nilai ratusan juta rupiah.

“Warga menduga pembelian itu menggunakan uang desa. Sebab dari laporan dan kondisi di lapangan, banyak pekerjaan yang tidak jelas, tapi aset pribadi justru bertambah,” ujar sumber warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Kupal, Sanusi Lariaga, belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan ketidakjelasan penggunaan Dana Desa 2024. Wartawan masih berupaya menghubungi yang bersangkutan. (Red

Labuha, Malutline – Riuh suara mesin penggorengan bercampur aroma keripik pisang yang gurih menyeruak dari sebuah bangunan sederhana di kawasan Kampung Baru, Desa Kawasi, Pulau Obi. Dari sinilah geliat ekonomi baru warga setempat mulai berdenyut, dipelopori oleh sekelompok perempuan yang tergabung dalam UMKM Obi Jaya Mandiri.

Kelompok usaha ini dirintis sejak 2019 oleh Suryani Jouronga, perempuan asli Obi yang akrab disapa Mama Cahya. Berawal dari keraguan, kini usaha tersebut menjelma menjadi salah satu contoh sukses pemberdayaan masyarakat lingkar tambang melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel.

“Awalnya kami pesimis, karena pisang di Desa Kawasi rasanya cenderung asin, kami khawatir tidak laku. Tapi setelah mendapat pelatihan dari CSR Harita Nickel, akhirnya kami berani mencoba. Hasilnya justru di luar dugaan,” tutur Mama Cahya sambil menunjukkan produk keripik pisang berlabel Horiwo, singkatan dari Horewo yang berarti “mari berkumpul”.

Kini, tak hanya keripik pisang. Bersama puluhan perempuan lainnya, Mama Cahya berhasil mengembangkan hingga sembilan produk olahan, mulai dari keripik keladi, tahu-tempe, hingga sambal ikan.

Dari Keripik ke Penghargaan Nasional

Perjalanan Obi Jaya Mandiri tidak sia-sia. Berkat pendampingan intensif Harita Nickel, mulai dari manajemen usaha, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran, omzet kelompok ini melonjak drastis hingga menembus ratusan juta rupiah per tahun.

Capaian itu turut mengantarkan mereka meraih penghargaan Indonesian CSR Awards serta Indonesian SDGs Award 2023, dengan kategori Terbaik 1 Local Hero on Social Responsibility.

“Semua pencapaian ini adalah bukti nyata dukungan Harita Nickel terhadap masyarakat lingkar tambang. Kami yang dulu hanya mengandalkan mencari ikan, sekarang punya sumber penghasilan baru,” ujar Mama Cahya dengan bangga.

Jalan Ekonomi Baru bagi Warga

Kisah Obi Jaya Mandiri menjadi cermin perubahan sosial dan ekonomi di Desa Kawasi. Keberadaan tambang nikel di Pulau Obi ternyata tidak hanya berkutat pada hilirisasi mineral, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya usaha-usaha mikro masyarakat.

“Dulu warga hanya bergantung pada laut. Sekarang banyak ibu-ibu di Kawasi yang bisa punya usaha, bisa bantu ekonomi keluarga. Ada harapan baru di sini,” tambah Mama Cahya.

Keberhasilan UMKM ini menunjukkan, ketika industri besar turun langsung membina masyarakat, maka nilai tambah dari hilirisasi bukan hanya pada komoditas tambang, melainkan juga pada kehidupan sosial warga lingkar tambang.

Di tengah geliat produksi keripik pisang dan aneka camilan lain di Desa Kawasi, semangat kebersamaan para perempuan Obi kini seolah menjadi energi baru: membuktikan bahwa keberanian mencoba, ditopang oleh pendampingan yang tepat, mampu mengubah keraguan menjadi keberhasilan. (Red)