Ternate, Malutline.com Langit sore di Pulau Maitara perlahan berubah dari jingga lembut menjadi keemasan. Pulau kecil di antara Ternate dan Tidore itu tak hanya dikenal karena pesonanya, tetapi juga karena menjadi gambar ikonik pada uang seribu rupiah emisi tahun 2000. Di tengah semilir angin laut yang menenangkan, Hj. Eka Dahliana Usman, istri mendiang Bupati Halmahera Selatan Hi. Usman Sidik, tampak menikmati suasana bersama keluarga tercinta.
Sore itu, langkah Hj. Eka menyusuri tepian pantai Maitara dengan penuh ketenangan. Pandangannya sesekali terhenti pada hamparan laut biru yang berkilau diterpa cahaya mentari.
“Keindahan alam seperti ini adalah cara Allah menunjukkan kebesaran-Nya,” ujarnya lembut. “Setiap jengkalnya mengajarkan kita untuk selalu bersyukur.”
Pulau Maitara memang bukan sekadar destinasi wisata, ia adalah lukisan hidup ciptaan Tuhan yang menyimpan keheningan dan kedamaian yang Dikelilingi laut jernih dan panorama Gunung Tidore di kejauhan, setiap pengunjung seakan diajak untuk merenung dan mensyukuri karunia alam Maluku Utara.
Bagi Hj. Eka, perjalanan sore itu bukan sekadar rekreasi keluarga, melainkan refleksi spiritual dan rasa syukur atas kehidupan, Dalam setiap embusan angin, ia menemukan ketenangan; dalam setiap debur ombak, ia mengenang kebesaran Sang Pencipta.
“Alam adalah guru terbaik,” ujarnya sambil tersenyum. “Ia mengajarkan tentang kesabaran, ketulusan, dan rasa syukur yang tak pernah habis.”
Di sela menikmati panorama, Hj. Eka mengenang sosok almarhum suaminya, Hi. Usman Sidik, yang semasa hidup dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat dan sangat mencintai keindahan daerahnya.
“Almarhum selalu mengatakan, ‘Keindahan alam ini harus dijaga, karena di dalamnya ada kehidupan dan kebahagiaan rakyat.’ Setiap kali melihat laut dan langit yang tenang, saya selalu teringat pesan itu,” tuturnya dengan nada haru.
Meski Maitara berada di wilayah berbeda, keindahannya menjadi inspirasi bagi Hj. Eka untuk terus menumbuhkan semangat cinta alam dan wisata di Maluku Utara, terutama di kampung halamannya, Halmahera Selatan.
“Insya Allah, saya akan melanjutkan cita-cita almarhum untuk memajukan pariwisata Halmahera Selatan,” ujarnya tegas namun lembut. “Daerah kita punya potensi luar biasa — dari pantai, pulau, hingga budaya masyarakatnya. Meningkatkan wisata berarti meningkatkan kesejahteraan rakyat.”
Keindahan senja di Pulau Maitara pun menjadi simbol keteguhan dan harapan — bahwa di balik kehilangan, selalu ada cahaya baru yang memantulkan kekuatan, cinta, dan semangat untuk terus berkarya bagi daerah tercinta.
“Setiap sudut alam adalah lukisan tanpa kata. Di setiap pelukan alam, kita menemukan keindahan sejati,” tulis Hj. Eka dalam unggahan pribadinya dengan tagar #FamilyTime #HappyFamily #MaitaraIsland #Ternate_MalukuUtara #WonderfulIndonesia. (Red)





