Halsel, Malutline— Gelombang kritik dari masyarakat Halmahera Selatan semakin menguat menyusul maraknya pesta dan hiburan malam yang terus berlangsung hampir setiap hari, meskipun negeri ini sedang dilanda duka akibat bencana banjir besar yang memporak-porandakan ribuan rumah dan menelan banyak korban jiwa di tiga daerah berbeda.
Warga menyebut kondisi ini sebagai ironi moral dan kepekaan sosial yang semakin hilang. Di saat ribuan keluarga lain menangis kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan anggota keluarga, sebagian masyarakat di Halmahera Selatan justru tenggelam dalam hiruk-pikuk joget dan pesta rakyat.
“Ini peringatan dari Allah SWT yang sangat jelas. Musibah besar terjadi di mana-mana, tapi di sini orang masih tertawa, berjoget, dan berpesta seakan tidak terjadi apa-apa. Di mana empati kita?,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Sebagian masyarakat mengingatkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura Ayat 30: “Dan musibah apa saja yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh ulah perbuatan kalian sendiri.” Ayat tersebut dianggap sebagai tamparan keras sekaligus peringatan agar masyarakat tidak larut dalam kelalaian dan perbuatan sia-sia.
Warga menilai, yang terjadi saat ini bukan sekadar hiburan biasa, tetapi fenomena yang menunjukkan bagaimana kesadaran moral, spiritual, dan solidaritas sosial mulai terkikis. Mereka menyesalkan pesta joget yang digelar hampir setiap malam tanpa mempertimbangkan suasana duka yang sedang melanda bangsa.
“Ketika Allah menurunkan musibah baru di sini, baru torang sadar dan mulai saling salahkan. Padahal tanda-tandanya sudah jelas. Ini waktunya kita hentikan dulu pesta, kembali introspeksi, dan membantu sesama,” tegas warga lainnya.
Kritik juga diarahkan kepada pemerintah daerah. Warga meminta Pemkab Halmahera Selatan beserta tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk mengambil sikap tegas dengan mengeluarkan imbauan resmi agar kegiatan hura-hura yang berlebihan dapat dikurangi.
Menurut mereka, pemerintah tidak boleh membiarkan aktivitas hiburan berlangsung tanpa kendali ketika daerah lain sedang berada dalam situasi darurat kemanusiaan.
“Pemimpin harus hadir mengingatkan. Jangan hanya diam. Kami butuh langkah nyata untuk mengembalikan kepekaan sosial masyarakat,” tambah warga tersebut.
Masyarakat berharap momentum ini menjadi pengingat bahwa bencana adalah ujian sekaligus peringatan. Mereka meminta semua pihak untuk lebih peka, berhenti hidup dalam euforia yang melampaui batas, serta menguatkan solidaritas dan doa untuk para korban banjir.
Dengan sejumlah musibah yang terjadi belakangan ini, warga menegaskan bahwa introspeksi dan perubahan sikap adalah hal mendesak sebelum datang ujian yang lebih besar. (Red)





