HALSEL, Malutline — Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan akan menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 Masehi dengan menghadirkan dai internasional, Syekh Abdullah Jaber, sebagai penceramah utama.
Kegiatan keagamaan ini akan berlangsung pada Rabu malam, 21 Januari 2026, bertempat di Masjid Agung Alkhairaat, Kabupaten Halmahera Selatan, mulai pukul 19.30 WIT hingga selesai.
Peringatan Isra Mi’raj ini mengusung tema “Meneguhkan Tauhid, Menyempurnakan Ibadah dan Menguatkan Ukhuwah”, yang mencerminkan komitmen Pemerintah Daerah dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Acara tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba bersama Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Halmahera Selatan.
Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba dalam keterangannya menyampaikan bahwa peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi spiritual bagi seluruh umat Islam, khususnya aparatur pemerintah dan masyarakat Halmahera Selatan.
“Isra Mi’raj adalah peristiwa agung yang mengajarkan kita tentang pentingnya shalat sebagai tiang agama, keteguhan iman, serta kedisiplinan spiritual. Nilai-nilai ini harus tercermin dalam kehidupan sosial dan tata kelola pemerintahan,” ujar Bupati.
Ia menambahkan, kehadiran Syekh Abdullah Jaber diharapkan mampu memberikan pencerahan dan penguatan akidah kepada masyarakat, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman sosial budaya Halmahera Selatan.
Senada dengan itu, Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin menekankan bahwa kegiatan keagamaan seperti ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat karakter religius masyarakat, sekaligus menyeimbangkan pembangunan fisik dengan pembangunan spiritual.
“Kami ingin Halmahera Selatan tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual. Isra Mi’raj menjadi pengingat agar kita terus memperbaiki kualitas ibadah dan menjaga persatuan,” ungkapnya.
Syekh Abdullah Jaber sendiri dikenal luas sebagai ulama yang memiliki gaya dakwah sejuk, ilmiah, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Kehadirannya diprediksi akan menarik antusiasme besar dari masyarakat, mengingat rekam jejaknya yang kerap menyampaikan pesan-pesan tauhid, keikhlasan, dan persaudaraan umat Islam.
Panitia pelaksana mengimbau seluruh jamaah yang akan hadir untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kekhusyukan selama kegiatan berlangsung. Masyarakat juga diharapkan menjadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai sarana memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, serta mempererat tali silaturahmi antar sesama.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan berharap nilai-nilai luhur Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun pemerintahan, demi terwujudnya Halmahera Selatan yang religius, damai, dan berkeadaban. (Haji)



“Kalau hujan deras sedikit saja, air langsung naik. Bukan cuma satu rumah, tapi hampir satu desa. Torang ini hidup selalu dalam rasa was-was,” ungkap salah seorang warga Yaba.

Kolaborasi ini mempertemukan dua kekuatan kreatif dari Indonesia Timur, yakni industri fashion lokal dan musik hiphop, dalam satu karya visual dan musikal yang sarat pesan budaya. Tidak sekadar menghadirkan hiburan, kolaborasi ini mengusung misi besar: mengangkat identitas, sejarah, serta kebanggaan masyarakat Timur ke panggung yang lebih luas.
Owner Tabea Apparel, Vitha Adisthya Albugis, bersama M. Raikal S. Gafar, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah awal memperkenalkan potensi besar Indonesia Timur kepada dunia melalui karya kreatif lintas sektor.
Daya tarik kolaborasi ini semakin kuat dengan hadirnya VGT Remco dan Oncho Flash sebagai representasi musisi hiphop Timur yang tengah digandrungi. Lagu “Dalam Kapa” tidak hanya menawarkan warna musik yang segar, tetapi juga menghadirkan narasi tentang kehidupan, perjalanan, serta jati diri masyarakat Timur yang penuh makna.
“Selama bertahun-tahun ibu kami berjuang sendiri. Dari membiayai hidup kami, membangun rumah, sampai membantu ayah membuat kebun cengkeh. Semua dilakukan dengan tenaga dan air mata ibu,” ungkap Harsinta dengan suara bergetar.
Situasi semakin memprihatinkan ketika, menurut pengakuan keluarga, sang ayah pernah mengancam akan membakar rumah beserta ibu dan salah satu adiknya. Ancaman tersebut membuat keluarga ketakutan dan memaksa sang ibu meninggalkan rumah demi menyelamatkan nyawa.