HALSEL, Malutline— Kesabaran warga Desa Orimakurunga, Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, kian berada di batas akhir. Ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa akibat kabel listrik PLN yang terjatuh dan melintang di atas pagar rumah warga hingga kini tak kunjung ditangani, meski keluhan telah disampaikan berulang kali.

Kondisi tersebut bukan sekadar gangguan teknis, melainkan ancaman langsung terhadap nyawa manusia, terutama anak-anak yang setiap hari beraktivitas di sekitar lokasi. Kabel listrik bertegangan tinggi yang dibiarkan menjuntai rendah dan terbuka itu berpotensi menimbulkan sengatan listrik mematikan kapan saja.

Ironisnya, jeritan warga seolah tak bernilai di mata petugas PLN Kayoa. Berulang kali laporan disampaikan, namun tak satu pun tindakan nyata dilakukan. Sikap abai ini dinilai sebagai bentuk kelalaian fatal dan mencerminkan buruknya tanggung jawab pelayanan publik.

“Kami sudah lapor berkali-kali. Tapi sampai sekarang tidak ada petugas yang datang. Kalau nanti ada korban jiwa, siapa yang bertanggung jawab?” keluh salah satu warga dengan nada geram.

Warga menilai, pembiaran ini bukan lagi persoalan teknis, melainkan cermin kegagalan kepemimpinan Kepala PLN Kecamatan Kayoa dalam menjamin keselamatan masyarakat. Listrik yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi ancaman kematian akibat kelalaian aparat terkait.

Atas dasar itu, warga Orimakurunga secara tegas meminta PLN Tidore turun tangan dan segera mencopot Kepala PLN Kecamatan Kayoa. Mereka menilai, pejabat yang tidak responsif terhadap ancaman keselamatan publik tidak layak menduduki jabatan strategis.

“Kalau PLN tidak mampu melindungi warga, maka jangan salahkan masyarakat jika kemarahan berubah menjadi aksi,” tegas warga lainnya.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi manajemen PLN, khususnya di wilayah kepulauan, agar tidak memandang enteng keselamatan warga desa. Nyawa rakyat bukan angka statistik, dan pelayanan publik tidak boleh dijalankan dengan sikap acuh tak acuh.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PLN Kayoa maupun PLN Tidore belum memberikan tanggapan resmi. Warga berharap, sebelum jatuh korban, tindakan nyata segera dilakukan, bukan sekadar janji yang terus diabaikan. (Red

HALSEL, Malutline — Hari-hari di Halmahera Selatan kini berjalan dengan langkah yang lebih pelan, Seolah waktu ikut berduka Langit sering mendung, dan doa-doa mengalir lebih panjang dari biasanya, Kepergian Usman Sidik, mantan Bupati Halmahera Selatan, menjadi luka yang tidak berdarah, namun terasa perih di dalam dada banyak orang.

Kabar duka itu tidak datang dengan suara keras, Ia hadir dalam keheningan, menyelinap ke ruang-ruang hati masyarakat, membuat banyak orang terdiam, menunduk, lalu mengucap istigfar dengan suara gemetar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dari Allah kita datang, dan kepada-Nya pula kita kembali.

Pergi di Saat Pengabdian Belum Usai Usman Sidik adalah manusia biasa yang memikul amanah besar. Ia menjalani kepemimpinan bukan dengan gemerlap, tetapi dengan kesabaran. Ia berjalan di jalan-jalan sunyi pengabdian, kadang diterpa kritik, kadang dililit keterbatasan, namun tetap bertahan karena keyakinan bahwa amanah adalah ibadah.

Kini, ketika langkahnya terhenti, banyak yang merasa kehilangan bukan hanya pemimpin, tetapi juga arah. Ia pergi di saat pengabdian belum sepenuhnya usai, meninggalkan rencana yang belum rampung, dan harapan yang masih menggantung di langit Halmahera Selatan.

Jejak Amal yang Kini Menjadi Saksi
Apa yang ditinggalkan Usman Sidik bukan hanya bangunan dan program, tetapi jejak amal, Setiap jalan yang terbuka, setiap layanan publik yang berusaha dibenahi, menjadi saksi di hadapan Tuhan tentang niat baik seorang hamba yang ingin memberi manfaat bagi sesama.

Dalam keyakinan iman dan islam, tidak ada amal yang sia-sia. Mungkin manusia lupa, mungkin waktu mengaburkan, tetapi Tuhan Allah SWT Maha Mencatat. Dan di sanalah harapan terbesar bagi seorang pemimpin yang telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Air Mata Rakyat sebagai Doa yang Tak Terucap Kesedihan rakyat kecil mengalir tanpa banyak kata. Air mata yang jatuh di pipi mereka menjadi doa yang paling jujur. Karena mereka tahu, almarhum pernah hadir, pernah mendengar, dan pernah mencoba.

Bagi mereka, kehilangan sosok Usman sidik ini bukan sekadar kabar berita, tetapi duka pribadi, Seorang pemimpin yang mereka kenal, sosok yang sederhana apa adanya dalam penampilan cara berpakaiannya maupun kesehariannya kini hanya bisa mereka sebut namanya dalam doa, memohon agar kuburnya dilapangkan dan dosanya diampuni.

Renungan tentang Amanah dan Kematian
Kepergian Usman Sidik adalah pengingat keras bagi yang masih hidup. Bahwa jabatan hanyalah titipan. Bahwa kekuasaan akan berakhir di satu titik sunyi bernama kematian. Dan bahwa yang akan dibawa pulang bukanlah nama besar, melainkan amal dan niat.

Hari ini, Halmahera Selatan bukan hanya berduka, tetapi juga sedang belajar.

Belajar tentang keterbatasan manusia, Belajar bahwa sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang sadar bahwa kepemimpinan adalah jalan menuju pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Doa Negeri Saruma Mengiringi Kepergian
Di masjid-masjid, doa dipanjatkan. Di rumah-rumah, Al-Fatihah dibacakan. Di sudut-sudut malam, tangan-tangan terangkat memohon ampunan bagi almarhum.

Ya Allah, ampunilah hamba-Mu Usman Sidik, Terimalah segala amal baktinya.
Lapangkan kuburnya, terangilah peristirahatan terakhirnya, Jadikan apa yang ia bangun sebagai amal jariyah yang terus mengalir.

Dan untuk kami yang ditinggalkan,
berilah kekuatan untuk melanjutkan amanah, keikhlasan untuk menerima takdir, serta kebijaksanaan untuk belajar dari kepergiannya.

Pergi sebagai Hamba, Dikenang sebagai Amanah

Usman Sidik telah kembali kepada sang ilahi, Ia pergi sebagai hamba, bukan sebagai pejabat, Ia meninggalkan dunia dengan membawa amal bukan jabatan,
Halmahera Selatan akan terus melangkah, meski dengan hati yang masih basah oleh air mata, Dan dalam setiap langkah itu, namanya akan tetap disebut—bukan dengan sorak, tetapi dengan doa.
Selamat jalan, Usman Sidik.

Semoga Allah meridhai perjalananmu,
dan semoga negeri ini tidak melupakan pelajaran yang kau tinggalkan. (Haji)

HALSEL, Malutline— Kenangan tentang almarhumah Nurdiyana Joy Sangaji, yang akrab disapa Umi Bassam, hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat Halmahera Selatan, Almarhumah merupakan istri dari Dr. H. Muhammad Kasuba, Bupati Halmahera Selatan yang memimpin daerah ini selama dua periode.

Sosoknya dikenang luas bukan karena status dan jabatan, melainkan karena kebaikan hati, ketulusan, serta kedekatannya dengan masyarakat, Bagi banyak warga, Umi Bassam adalah figur ibu yang penuh empati. Ia dikenal ramah, sederhana, dan tidak pernah menjaga jarak dengan rakyat kecil. Kesaksian tentang kebaikannya terus mengalir dari berbagai pelosok Halmahera Selatan.

“Beliau itu orangnya lembut, tutur katanya halus, dan selalu peduli. Tidak pernah merasa lebih tinggi meski berstatus istri bupati,” ungkap salah satu warga Bacan saat mengenang almarhumah.

Selama mendampingi Dr. H. Muhammad Kasuba memimpin Halmahera Selatan, Umi Bassam aktif dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Ia kerap turun langsung ke masyarakat, mengunjungi warga, menyapa kaum ibu, serta memberi perhatian kepada anak yatim dan keluarga kurang mampu. Banyak kebaikannya dilakukan secara senyap, tanpa sorotan dan tanpa pamrih.

Warga juga mengenang kepedulian almarhumah terhadap kaum perempuan. Ia sering menjadi tempat berbagi cerita dan keluh kesah, memberikan nasihat dengan bahasa yang menenangkan. Kehadirannya selalu membawa rasa teduh dan kehangatan.

“Kalau Umi Bassam datang, suasananya beda. Kami merasa seperti didatangi orang tua sendiri,” tutur seorang ibu rumah tangga di Halsel.

Kesederhanaan menjadi ciri khas almarhumah. Meski mendampingi seorang bupati dua periode, Umi Bassam dikenal jauh dari gaya hidup berlebihan. Sikap rendah hati dan ketulusan itulah yang membuatnya dihormati lintas kalangan—dari masyarakat biasa hingga tokoh adat dan tokoh agama.

Banyak pihak menilai, Umi Bassam adalah penopang moral penting di balik kepemimpinan Dr. H. Muhammad Kasuba. Ia menjadi sumber ketenangan dan penguat nilai-nilai religius serta kemanusiaan dalam menjalani amanah kepemimpinan.

Kini, meski almarhumah telah berpulang, jejak kebaikannya tetap membekas dalam ingatan masyarakat Halmahera Selatan. Namanya disebut dengan penuh hormat dan doa. Bagi warga, Umi Bassam bukan sekadar istri seorang pemimpin, melainkan bagian dari perjalanan sosial dan kemanusiaan daerah ini.

Kebaikan yang ditanam dengan tulus akan selalu hidup, bahkan ketika raga telah tiada. (Haji)

HALSEL, Malutline — Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Kabupaten Halmahera Selatan kembali menunjukkan perannya sebagai ruang dialektika intelektual dan sosial melalui penyelenggaraan Dialog Publik bertema “Membangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Agama, Kepedulian Sosial, dan Etika Lingkungan”. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 23 Januari 2026, bertempat di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan, mulai pukul 20.00 WIT.

Dialog publik ini dirancang sebagai forum terbuka yang mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, akademisi, tokoh agama, serta organisasi kepemudaan dalam satu ruang diskusi strategis. Tujuannya adalah memperkuat gagasan kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kekuasaan dan pembangunan fisik, tetapi juga berakar kuat pada nilai moral, tanggung jawab sosial, serta kesadaran terhadap kelestarian lingkungan.

Sejumlah tokoh penting dijadwalkan hadir sebagai narasumber, di antaranya Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin, perwakilan Polda Maluku Utara, unsur Forkopimda, akademisi, serta tokoh-tokoh pemuda dan agama yang selama ini aktif dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keumatan.

Ketua panitia menyampaikan bahwa dialog publik ini merupakan bagian dari ikhtiar KB PII untuk menghadirkan diskursus kepemimpinan yang relevan dengan tantangan zaman, khususnya di daerah kepulauan seperti Halmahera Selatan yang dihadapkan pada dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan yang kompleks.

“Kepemimpinan hari ini tidak cukup hanya cakap secara administratif, tetapi juga harus memiliki landasan nilai agama, empati sosial, serta kepekaan terhadap isu lingkungan. Dialog ini menjadi ruang untuk merumuskan gagasan tersebut secara kolektif,” ujarnya.

Dalam dialog ini, peserta akan diajak membedah berbagai persoalan aktual, mulai dari peran pemimpin dalam menjaga harmoni sosial, tantangan etika dalam birokrasi dan politik, hingga tanggung jawab moral pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup.

Diskusi ini diharapkan dapat melahirkan perspektif kritis sekaligus solutif, terutama bagi generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan.

Moderator dialog, Maulana Patra Syah, SH, MH, akan memandu jalannya diskusi agar berlangsung dinamis, interaktif, dan substansial. Kehadiran moderator berlatar belakang hukum dan aktivisme sosial diharapkan mampu menjaga alur diskusi tetap fokus pada substansi kepemimpinan yang berkeadaban.

KB PII Halmahera Selatan menegaskan bahwa kegiatan ini terbuka untuk umum, khususnya bagi pelajar, mahasiswa, pemuda, serta masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan daerah.

Melalui dialog publik ini, KB PII berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang berpijak pada nilai, berpihak pada rakyat, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Dengan terselenggaranya dialog publik ini, KB PII Halmahera Selatan menegaskan posisinya sebagai organisasi kader yang tidak hanya fokus pada pembinaan internal, tetapi juga aktif berkontribusi dalam membangun ruang-ruang intelektual demi kemajuan daerah dan bangsa. (Haji)

HALSEL, Malutline — Usaha kuliner lokal Doyan Ayam terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan. Kini, Doyan Ayam tidak hanya melayani pemesanan harian, tetapi juga siap melayani pengantaran pesanan untuk berbagai kebutuhan acara, mulai dari kegiatan kantoran, acara keluarga di rumah, hingga perayaan ulang tahun.

Perluasan layanan ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya permintaan pelanggan yang membutuhkan sajian praktis, lezat, dan tepat waktu, khususnya untuk acara dengan jumlah konsumsi yang cukup besar. Dengan sistem pemesanan yang fleksibel, pelanggan dapat menyesuaikan jumlah pesanan serta waktu pengantaran sesuai kebutuhan acara.

Pengelola Doyan Ayam menyampaikan bahwa setiap pesanan dipersiapkan dengan standar kebersihan dan kualitas yang terjaga. Mulai dari pemilihan bahan, proses pengolahan, hingga pengemasan dilakukan secara higienis agar cita rasa tetap terjaga saat pesanan diterima pelanggan.

“Kami siap melayani pengantaran untuk acara kantoran, kegiatan di rumah, maupun ulang tahun. Dengan adanya layanan ini, kami berharap pelanggan tidak perlu repot menyiapkan konsumsi, namun tetap mendapatkan hidangan ayam yang lezat dan berkualitas,” ujar pengelola Doyan Ayam.

Selain itu, Doyan Ayam juga menerima pesanan dalam jumlah besar, sehingga cocok untuk kebutuhan rapat kantor, arisan keluarga, syukuran, maupun berbagai kegiatan sosial lainnya. Menu ayam yang disajikan dikenal dengan racikan bumbu khas, porsi yang pas, serta harga yang terjangkau oleh berbagai kalangan.

Doyan Ayam berlokasi di Jalan SPBU Labuha, tepat di samping Toko Firman, sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat. Bagi pelanggan yang ingin melakukan pemesanan atau mendapatkan informasi lebih lanjut, dapat langsung menghubungi nomor kontak 0813 4179 795.

Sejumlah pelanggan mengaku terbantu dengan kehadiran layanan pengantaran ini, terutama saat menggelar acara yang membutuhkan konsumsi dalam jumlah banyak. Selain menghemat waktu dan tenaga, pelanggan juga merasa lebih tenang karena urusan konsumsi ditangani oleh pelaku usaha yang berpengalaman.

Melalui peningkatan layanan ini, Doyan Ayam berharap dapat terus menjadi pilihan utama kuliner ayam di Halmahera Selatan, sekaligus turut mendorong pertumbuhan UMKM lokal. Ke depan, Doyan Ayam berkomitmen untuk terus menjaga kualitas rasa, ketepatan waktu pengantaran, serta pelayanan yang ramah dan profesional demi kepuasan pelanggan. (Haji)