HALSEL, Malutline— Pemerintah Desa Sagawele menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pemuda, pelajar, dan warga desa yang telah berjuang mewakili desa dalam ajang Bupati Cup 2025. Meski belum meraih hasil maksimal, semangat dan perjuangan para pemain dianggap sebagai bukti nyata kecintaan mereka terhadap desa tercinta.

“Atas nama Pemerintah Desa Sagawele, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada pemuda, pelajar, dan basudara semua yang sudah meluangkan waktu tanpa pamrih untuk bertanding demi nama baik desa,” ujar Sekretaris Desa Sagawele, Masdar Talib, dalam keterangannya.

Menurutnya, perjuangan para pemain di lapangan mencerminkan rasa cinta dan tanggung jawab besar terhadap Desa Sagawele. “Kami yakin, lelah dan keringat yang keluar dari tubuh basudara semua adalah bukti bahwa kalian sangat mencintai desa ini. Insya Allah, lelahmu hari ini akan dibalas dengan kebaikan di hari esok,” tambahnya.

Menariknya, dari ajang tersebut, dua pemain muda berbakat asal SMK Global Nusantara Sagawele, yakni Aldian Kao dan Dinar Prayoga (Take), berhasil menarik perhatian panitia kabupaten. Keduanya dikabarkan akan mendapat kesempatan untuk ikut seleksi di tingkat kabupaten.

Pemerintah Desa berharap, kesempatan itu menjadi motivasi bagi generasi muda Sagawele untuk terus berprestasi, baik di bidang olahraga maupun bidang lainnya.

“Bupati Cup bukan sekadar ajang pertandingan, tapi juga wadah untuk menumbuhkan semangat persaudaraan, kerja sama, dan rasa bangga terhadap desa,” tutup Masdar Talib penuh haru dan bangga. (Red)

GORONTALO, Malutline— Usia boleh menua, namun ingatan dan semangat hidup Aba Koma tetap tajam. Pria yang kini berusia 102 tahun itu masih tampak sehat dan penuh semangat ketika bercerita tentang masa kecilnya bersama ayah penulis.

Dalam pertemuan hangat itu, Aba Koma mengenang masa-masa bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Gorontalo, sekolah zaman kolonial yang dulu menjadi kebanggaan anak-anak pribumi. Ia tersenyum saat menceritakan bagaimana setiap pagi mereka berjalan kaki menuju sekolah tanpa mengenakan sepatu, menembus jalan tanah dan debu, namun dengan hati penuh tekad untuk belajar.

“Sekolah waktu itu bukan soal gedungnya bagus atau tidak, tapi tentang harapan. Kami percaya ilmu bisa mengubah nasib,” ujar Aba Koma dengan suara lirih namun penuh keyakinan.

Cerita masa kecil itu seolah membuka lembar sejarah pendidikan di Gorontalo tempo dulu — masa ketika semangat belajar tumbuh dari kesederhanaan. Bahkan, tokoh-tokoh besar Gorontalo seperti Fadel Muhammad, mantan Gubernur Gorontalo, juga sering menyinggung pentingnya nilai perjuangan dan semangat belajar generasi masa lalu yang patut diteladani hari ini.

Kini di usia lebih dari seabad, Aba Koma menjadi saksi hidup perjalanan panjang pendidikan dan kehidupan di Gorontalo. Dari masa tanpa sepatu hingga zaman serba digital, satu hal yang tak pernah pudar darinya adalah semangat menuntut ilmu dan kenangan indah bersama sahabat-sahabat lamanya. (Red)

Weda, Malutline — Di tengah kesibukan tugas dan rutinitas menjaga ketertiban lalu lintas, Kasat Lantas Polres Halmahera Tengah Iptu Masqun Abdukish kembali menyampaikan pesan moral yang menyentuh hati banyak orang.

Dalam unggahan pribadinya di media sosial, ia menulis kalimat penuh makna:

“Dunia ini ibarat bayangan, kalau kita berusaha menangkapnya maka ia akan lari, Tapi kalau kita membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikuti kita.”
— #JumatBerkah #KasatLantasHalteng #LantasHalteng #SatLantasPolresHalteng #MasqunAbdukish

Pesan sederhana itu mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan. Menurut Iptu Masqun, terlalu mengejar dunia justru membuat manusia kehilangan arah dan kedamaian. Namun, jika seseorang fokus pada kebaikan, ketulusan, dan tanggung jawab, maka keberkahan akan datang mengikuti — seperti bayangan yang tak pernah bisa lepas dari cahaya.

Unggahan tersebut mendapat banyak tanggapan positif dari masyarakat Halmahera Tengah. Banyak warganet yang memuji sosok Kasat Lantas berhijab itu sebagai polisi yang bukan hanya menegakkan aturan, tetapi juga menyebarkan nilai-nilai moral dan spiritual di tengah masyarakat.

Bagi sebagian orang, pesan itu mungkin sederhana. Tapi di balik kata-katanya, tersirat ajakan untuk hidup lebih tenang dan ikhlas dalam menjalani tugas dan tanggung jawab.

“Sosok Bu Kasat bukan hanya menertibkan lalu lintas, tapi juga menertibkan hati,” tulis salah satu warganet di kolom komentar.

Melalui pendekatan humanis dan keteladanan pribadi, Iptu Masqun Abdukish terus menunjukkan bahwa kepolisian bisa hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penuntun moral di tengah masyarakat. (Red)

Weda, Malutline.com Di tengah riuhnya jalanan, sering kali orang lupa bahwa keselamatan lahir dari kesadaran, bukan sekadar dari aturan. Dalam sejarah panjang kepolisian di Maluku Utara, barangkali baru kali ini masyarakat melihat sosok perempuan berhijab berdiri tegak di bawah terik matahari, di persimpangan jalan — bukan sekadar memberi aba-aba, melainkan menebar senyum dan tutur lembut.

Dialah Iptu Masqun Abdukish, putri asal Malifut, Halmahera Utara, yang kini menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Halmahera Tengah. Jabatan itu ia emban sejak 15 Februari 2025, atas kepercayaan Kapolda Maluku Utara Irjen Pol Midi Siswoko dan dikukuhkan pada masa kepemimpinan AKBP Aditya Kurniawan.
Langkahnya di tubuh kepolisian tidak hanya menembus batas gender, tetapi juga merobohkan dinding antara hukum dan humanisme.

Menertibkan dengan Senyum, Mendidik dengan Hati

Iptu Masqun menata ulang wajah lalu lintas bukan dengan amarah, tetapi dengan pendekatan moral yang lembut, edukatif, dan memanusiakan pengendara.
Baginya, helm bukan hanya simbol kewajiban, melainkan pelindung kasih sayang; SIM bukan sekadar surat izin, melainkan bukti kedewasaan berlalu lintas.

Salah satu inovasi yang ia gagas adalah program “Bahasa Lalu Lintas”, yang menyasar para pelajar SMA dan sederajat di wilayah tugasnya.

“Kami ingin menciptakan suasana lalu lintas yang sejuk,” ujarnya lembut, seperti guru yang menasihati murid, bukan aparat yang menegur pelanggar.

Di dunia yang kerap diwarnai citra keras aparat, Masqun menghadirkan paradigma baru: polantas yang tersenyum, menasihati, lalu menegur — dan baru menindak bila semua cara baik tak lagi mempan.

Malaikat di Persimpangan

Pelan-pelan, masyarakat mulai tertegun. Di antara panasnya jalan raya dan bisingnya klakson, muncul figur seorang polwan yang tidak hanya menertibkan, tapi juga menenangkan. Ia menyapa, bukan menghardik. Ia menasihati, bukan menakuti.

Barangkali inilah wajah baru kepolisian yang diimpikan publik: penegakan hukum yang berakar pada kasih dan nilai kemanusiaan.

Apa yang dilakukan Iptu Masqun mungkin tampak sederhana di mata birokrasi, tapi bagi rakyat, ia telah menanamkan revolusi kecil dalam budaya berlalu lintas — revolusi etika yang lahir dari senyum.

Jejak Pendidikan dan Pengabdian

Perjalanan panjang Iptu Masqun berawal dari tanah Halmahera Utara. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Ngofakiaha (lulus 1998), kemudian melanjutkan ke MTs Negeri Ternate (lulus 2001), dan SMA Negeri 4 Kota Ternate (lulus 2004).
Pendidikannya berlanjut ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah, meraih gelar Sarjana (S1) tahun 2016, dan kemudian menyelesaikan Magister Sains (M.Si.) pada September 2023.

Bagi Masqun, gelar akademik bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi bukti bahwa ilmu dan moral bisa berpadu dalam satu tubuh yang melayani dengan nurani.

Kepemimpinan yang Mengayomi

Dalam masyarakat Maluku Utara yang sedang berjuang menyeimbangkan tradisi dan modernitas, Masqun tampil sebagai figur inspiratif.
Ia membuktikan bahwa jabatan bukanlah dinding antara kekuasaan dan kasih, melainkan jembatan pengabdian.

Teori Transformational Leadership dari James MacGregor Burns (1978) menjelaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu “mengangkat moralitas pengikutnya ke tingkat yang lebih tinggi”.

Masqun menerapkannya bukan hanya kepada bawahannya, tapi juga kepada masyarakat: membimbing agar lebih sadar, lebih beradab di jalan raya.

Begitu pula teori Ethics of Care dari Carol Gilligan (1982) — kepemimpinan perempuan yang berakar pada empati dan kepedulian sosial.
Kelembutan Masqun bukan tanda kelemahan, tetapi legitimasi moral yang menumbuhkan rasa hormat tanpa paksaan.

Ketika masyarakat menatapnya di persimpangan jalan, mereka tidak hanya melihat seorang Kasat Lantas, tetapi seorang malaikat lalu lintas — sosok yang memadukan disiplin dan kehangatan.
Inilah wujud sejati dari kata pengayom: tegas tanpa kehilangan sisi manusiawi.

Iptu Masqun Abdukish telah menulis bab baru dalam kisah kepemimpinan perempuan Maluku Utara.
Ia menunjukkan bahwa lembut bukan berarti lemah, dan senyum bukan tanda tunduk — justru dari sanalah lahir kekuatan abadi: kekuatan untuk menata jalan raya dengan hati, bukan sekadar aturan.

Sebagaimana pepatah lama dari Halmahera berkata:

“Jalan yang terang bukan karena lentera, tetapi karena hati yang menyalakan arah.”

Maka biarlah senyum Iptu Masqun terus menjadi lentera di jalanan kita — menuntun setiap pengendara menuju keselamatan sejati: bukan hanya bebas tilang, tetapi juga bebas dari keangkuhan di jalan.

Teruslah menjadi orang baik, menjadi pengayom, menjadi malaikat di jalan.
Dan semoga dari bumi Maluku Utara akan lahir Masqun-Masqun baru — perempuan berhati teduh yang menjadikan tugas sebagai panggilan jiwa, bukan sekadar profesi.

Oleh: Arafik A. Rahman
Morotai, 16 Oktober 2025
#SekadarCatatanApresiasi
#IbuKasatTerbaik #MasqunAbdukish

LABUHA, Malutline – Warga Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, mengeluhkan aktivitas galian pasir yang berlangsung di dekat pemukiman mereka. Aktivitas itu disebut semakin meresahkan karena dilakukan tepat di tepi sungai yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah warga.

Seorang warga yang rumahnya berdekatan langsung dengan lokasi galian mengaku, setiap kali hujan turun mereka selalu berjibaku memperbaiki tanggul agar air tidak melebar ke pemukiman.

“Kalau hujan deras, air cepat naik karena tanah di sekitar sungai makin terkikis. Kami sudah sering perbaiki supaya tidak jebol, tapi kalau pasir terus digali begini, percuma saja,” ungkapnya, Kamis (17/10/2025).

Menurut warga, aktivitas galian ini diduga dilakukan oleh oknum yang memiliki kendaraan alat berat tanpa izin resmi. Mereka khawatir jika hal ini dibiarkan, bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga mengancam keselamatan warga di sekitar bantaran sungai.

“Kami tidak tahu siapa pemilik alat berat itu, tapi kami mohon pemerintah turun tangan. Jangan sampai nanti sudah ada korban baru bertindak,” tambahnya.

Warga berharap Pemerintah Kecamatan Bacan Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan aparat terkait segera melakukan peninjauan ke lokasi dan menghentikan kegiatan tersebut.

Aktivitas galian pasir liar di Halmahera Selatan bukan hal baru. Sejumlah daerah lain juga pernah menghadapi persoalan serupa yang berdampak pada kerusakan lingkungan dan ancaman terhadap infrastruktur warga.

“Kami tidak menolak pembangunan, tapi kalau kegiatan ini merusak alam dan membahayakan kami, tolong segera dihentikan,” tutup salah satu warga Desa Babang penuh harap. (Red)