SOFIFI, Malutline – Pemerintah Provinsi Maluku Utara menegaskan komitmen untuk memperluas program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Setelah sukses merehabilitasi 700 unit rumah pada tahun ini, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan pada tahun 2026 dengan capaian 1.500 rumah.
Program ini disebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan pemulihan martabat masyarakat. Nilai tersebut turut ditegaskan melalui pernyataan reflektif dalam sebuah unggahan yang menggambarkan pengalaman langsung di lapangan.
“Ternyata membangun rumah orang lain diam-diam membangun sesuatu dalam diri kita sendiri.”
Pernyataan tersebut menjadi penanda bahwa pembangunan rumah bukan hanya tentang dinding dan atap yang berdiri, tetapi juga tentang tumbuhnya rasa percaya diri, harapan, dan keberanian masyarakat untuk bermimpi lebih besar.
Warisan Nilai Sang AyahUngkapan emosional itu juga merujuk pada pesan almarhum Papi Benny Laos yang dinilai menjadi sumber inspirasi dalam program kemanusiaan ini.
“Bangun rumah untuk warga itu bukan proyek itu memulihkan martabat,” demikian pesan yang kembali diingat dalam refleksi tersebut.
Kini makna kalimat itu baru benar-benar dipahami — bukan hanya dilihat dari jauh, melainkan dirasakan melalui proses, kerja, dan hasil nyata di lapangan.
Rumah Adalah Harga Diri, Rumah yang layak bukan hanya tempat tinggal, tetapi pondasi psikologis dan sosial bagi keluarga penerima manfaat. Hunian yang kokoh dinilai mampu meningkatkan kemandirian, mengurangi kerentanan, dan membangun optimisme baru dalam kehidupan warga.
“Rumah nyaman bukan cuma soal dinding dan atap. Ia menaikkan kepercayaan diri, membuat seseorang lebih bermartabat, dan lebih berani bermimpi,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Terima Kasih untuk Banyak Pihak, Keberhasilan program RTLH tidak terlepas dari kolaborasi banyak elemen. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Dinas Perkim, Dinas Sosial, Balai Kemensos, TNI, dan seluruh pihak yang bekerja tanpa banyak suara, namun nyata dalam tindakan.
“Karena pada akhirnya, memimpin itu tentang seberapa banyak janji yang benar-benar kita tepati.”
Satu Rumah — Satu Janji yang Ditepati
Setiap rumah yang berdiri menjadi bukti komitmen yang bukan hanya tertulis, tetapi diwujudkan. Sebuah langkah yang masih panjang, tetapi telah dimulai dengan fondasi yang benar: keberpihakan pada rakyat dan kerja dengan hati. (Red)





