Halsel Malutline Com–Masyarakat Desa Sosepe kecamatan obi timur Halmahera Selatan Maluku Utara dikejutkan dengan dugaan penyalahgunaan wewenang oleh Kepala Desa (Kades) Sosepe Sudin jumati, yang diduga telah memperkaya diri sendiri melalui pengelolaan dana desa. Dugaan ini mencuat setelah beberapa warga menemukan adanya kejanggalan dalam laporan penggunaan dana desa serta proyek-proyek yang mangkrak tanpa kejelasan. (14/5/2025)

Sejumlah warga yang tergabung dalam forum peduli transparansi desa mengungkapkan kecurigaan terhadap aliran dana desa yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Beberapa proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan, perbaikan irigasi, dan renovasi balai desa diduga tidak dikerjakan sesuai dengan anggaran yang telah disahkan dalam musyawarah desa.

“Salah satu proyek yang seharusnya sudah selesai adalah pembangunan jalan di RT 03. Namun, hingga kini proyek tersebut tidak kunjung rampung, padahal anggarannya sudah dicairkan sejak enam bulan lalu,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Selain itu, anggaran untuk pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pelatihan kerja dan bantuan usaha kecil juga disinyalir tidak disalurkan sebagaimana mestinya. Beberapa warga yang seharusnya menerima bantuan mengaku tidak mendapatkan apa pun, sementara laporan desa menyebutkan bahwa anggaran sudah digunakan sepenuhnya.

Munculnya dugaan ini semakin diperkuat dengan perubahan gaya hidup Kepala Desa Sosepe yang mencolok. Dalam beberapa bulan terakhir, Kades kerap terlihat menggunakan kendaraan mewah, membeli tanah, serta melakukan perjalanan ke luar kota dengan alasan urusan dinas.

“Dulu dia biasa saja, tapi sejak menjabat sebagai kepala desa, tiba-tiba bisa beli mobil baru dan sering bepergian. Sementara kondisi desa masih banyak yang perlu diperbaiki,” ujar seorang warga yang merasa kecewa.

Warga pun mempertanyakan dari mana sumber dana yang digunakan sang Kades untuk membiayai gaya hidup tersebut, mengingat gajinya sebagai kepala desa dinilai tidak cukup untuk membiayai kemewahan seperti itu.

warga Merasa geram dengan dugaan penyimpangan ini, warga Desa Sosepe akhirnya menggelar aksi protes di depan kantor desa, menuntut transparansi dalam pengelolaan dana desa serta meminta audit independen untuk memeriksa laporan keuangan desa.

“Kami hanya ingin kejelasan. Kalau memang benar ada penyimpangan, kami berharap aparat penegak hukum segera turun tangan,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat.

Sementara itu, pihak kecamatan yang menaungi Desa Sosepe menyatakan akan segera melakukan evaluasi dan mengumpulkan bukti-bukti terkait dugaan penyimpangan ini. “Kami tidak akan tinggal diam jika benar ada penyelewengan. Semua laporan warga akan kami tindaklanjuti dengan serius,” ujar seorang pejabat kecamatan.

Apabila terbukti bersalah, Kepala Desa Sosepe bisa menghadapi konsekuensi hukum yang berat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, kepala desa yang menyalahgunakan anggaran desa dapat dikenai sanksi pidana dengan ancaman hukuman penjara serta pengembalian dana yang diselewengkan.

Beberapa kasus serupa di daerah lain telah berujung pada pencopotan kepala desa dan proses hukum di pengadilan. Oleh karena itu, masyarakat berharap pihak berwenang bertindak tegas agar tidak ada lagi penyalahgunaan dana desa yang merugikan warga.

harapan warga Terlepas dari dugaan kasus ini, warga Desa Sosepe berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa mendatang. Mereka menuntut adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan dana desa serta transparansi dalam setiap laporan keuangan yang dibuat oleh pemerintah desa.

“Kami ingin kepala desa yang benar-benar bekerja untuk rakyat, bukan yang justru memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi,” pungkas seorang warga.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Sosepe belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Warga pun masih menunggu kejelasan dari pihak berwenang mengenai langkah yang akan diambil terhadap dugaan penyimpangan ini. (Red)

 

Halsel Malutline com-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang juga wakil ketua DPRD Kuntu Daud SE, melakukan Kegiatan Reses Di Dapil IV kabupaten Halmahera Selatan pada masa persidangan II tahun sidang 2024-2025 di SMA LPM Koititi kecamatan Gane Barat kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara.

Dalam kegiatan Reses yang di gelar di Ruang kelas sekolah SMA LPM Koititi Rabu (14/05/2025) wakil ketua DPRD provinsi Maluku Utara Kuntu Daud. SE, yang di hadiri oleh para Dewan guru siswa serta orang tua siswa, Kuntu Daud mengatakan sebagai anggota DPRD dalam satu tahun masa kerja anggota DPRD melakukan 3 kali dalam setahun Reses merupakan masa kegiatan DPRD di luar masa sidang, yang digunakan untuk menyerap aspirasi masyarakat di daerah pemilihan.

“Ia mengatakan Reses yang di lakukan anggota DPRD Provinsi Maluku Utara ini bertujuan untuk menyerap aspirasi dan menindaklanjuti aspirasi konstituen, serta memberikan pertanggungjawaban moral dan politik kepada konstituen, Selama reses, anggota DPRD turun ke daerah pemilihan untuk bertemu dengan masyarakat, mendengarkan keluhan, dan mengumpulkan informasi tentang kebutuhan masyarakat, termasuk melakukan reses di SMA LPM Koititi guna mengetahui kebutuhan siswa dan dewan guru di sekolah tersebut,” ujarnya.

Sementara itu Kepala sekolah SMA LPM Koititi kecamatan Gane Barat kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara, Idris umsohi, kepada wartawan “pihaknya merasa bersyukur dan berterimakasih kepada Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Provinsi Maluku Utara Dapil IV Halmahera selatan yang melakukan reses di sekolah yang di pimpinnya SMA LPM Koititi kecamatan Gane Barat Halmahera selatan Guna menyerap aspirasi siswa dan Dewan Guru terkait kebutuhan sarana dan prasana pada sekolah tersebut,” akunya.

“Idris menambahakan dalam pertemuan Reses tersebut Di hadapan wakil ketua DPRD Provinsi Maluku Utara Kuntu Daud SE, para Dewan Guru dan siswa menyempaikan kebutuhan yang sangat di butuhkan di SMA LPM Koititi kecamatan Gane Barat Halsel yakni Ruang Laboratorium (LAB) ipa dan ruang Laboratorium beserta komputer beserta sarana prasana dan perangkat serta fasilitas lengkap lainnya, dan harapannya kebutuhan siswa pada SMA LPM Koititi ini bisa menjadi pertimbangan prioritas wakil ketua DPRD Provinsi Maluku Utara untuk dapat di penuhi sesuai kebutuhan sekolah yang di pimpinnya,” harapnya. (Red)

Amsterdam Malutline com-Suasana Tenang di Hortus Botanicus Kebun raya Bersejarah di jantung kota Amsterdam, ibu kota kerajaan Belanda mendadak berubah menjadi arena protes, puluhan warga Belanda keturunan Maluku, membawa spanduk dan bendera Perjuangan, mengepung tempat berlangsungnya Forum bertajuk Perspetive on nickesl and the global energi Transition Selasa (13/05/2025) di dalam gedung itu secara diam-diam, Perwakilan PT. Harita Nickel diduga tengah mempresentasikan Proyek mereka kepada sejumlah organisasi Bisnis dan calon investor Eropa.

“kami tahu Harita akan datang dan mencoba menjual Narasi hijau kepada dunia, tapi kami juga luka yang mereka tinggalkan di tanah kami,” ujar salah seorang Demonstran dalam orasinya sambil menggenggamkan spanduk bertuliskan Maluku utara tidak untuk di jual “Malut is Not for sale” di luar gedung yang biasanya menjadi tempat wisata Botani dan riset ilmiah, aksi damai berubah menjadi kemarahan warga Maluku di Belanda tak datang tiba-tiba PT.Harita Group, perusahan yang di kendalikan konlomerat kelurga Lim HariYanto, telah beroperasi di Desa kawasi, pulau Obi kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara sejak 2012 namun sejak saat itu pula, deret keluhan dan temuan pelanggaran mencuat.

Sementara itu, dari Laporan investigatif Kolaboratif oleh OCCRP The Gecko project, the Guardian, Deustche Welle, dan KCIJ mengungkap bahwa PT. Harita Group telah mencemari sumber air minum di Desa kawasi dengan Limbah Beracun, penduduk di laporkan mengalami kesehatan dari kerusakan ginjal dan jantung, hingga penyakit kulit kronis.

Demonstrasi di Amsterdam hanyalah satu episode dari rangkaian panjang perlawnan warga terhadap proyek nikel dan energi hijau palsu namun aksi ini menunjukkan diaspora tidak lupa pada akar, bahwa ketika pertemuan-pertemuan elit berlangsung di ruang tertutup, suara masyarakat adat dan korban pencemaran lingkungan bisa menorobos dindingnya.

kini para Demontran di Belanda menyerukan agar pemerintah Indonesia dan lembaga internasional meninjau kembali kerja sama dengan Harita Group, mereka mendesak agar investasi dalam transisi energi tidak mengorbankan lingkungan hidup dan martabat manusia “dari Amsterdam Kamsi bersuara, jangan tutup mata pada apa yang terjadi di pulau Obi, jangan diam melihat negeri kami di jual Untu baterai dan keuangan untuk segelintir orang,” kata Alfi seorang perempuan berketurunan Maluku.

Pihaknya juga menegaskan perusahan ini wajah dari ekstaktifisme Brutal di Indonesia setiap wilayah Harita meninggalkan luka mereka berulang kali melanggar hukum namun tak pernah benar-benar di hukum salah satu bukti pelanggaran hukum adalah kasus suap menyeret Stevy Thomas, petinggi Harita group, kepada mendiang mantan gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba sebesar US$60.000. pihaknya juga mencatat sejak 2000, aktivitas Harita telah menyebabkan devortasi seluas 19..100 hektare setara 13 persen penurunan tutupan hutan dan meninggalkan 904 lubang tambang terbuka di Kalimantan termasuk di kecamatan Obi. tegasnya. (Red)

Halsel Malutline com-Dua laporan sebelumnya dengan temuan yang sama, dibantah keras Harita. Hingga akhir tahun lalu, sejumlah dokumen internal bocor, dan sampai ke meja sejumlah media inernasional Dalam dokumen yang bocor itu, mengungkap bagaimana perusahaan pertambangan besar seperti Harita Nickel, mencemari perairan di pulau Obi selama lebih dari satu dekade.

Pengujian internal Harita, merujuk dokumen itu, menunjukkan polutan—zat karsinogenik beracun—telah masuk ke air minum di desa setempat Paparan terhadap kromium-6 itu dapat mendatangkan malapetaka pada tubuh, menyebabkan kerusakan hati dan ginjal, erosi gigi, iritasi kulit, dan berpotensi kanker dan, seperti biasa, Harita Group menutup rapat informasi itu, tidak pernah kepada warga setempat.

Pemasok Nikel Utama Harita Sudah Tahu Soal Pencemaran Air di Operasi Indonesia Selama Satu Dekade dalam Penyelidikan Tambang nikel milik Harita Group di Indonesia memasok rantai pasokan bagi beberapa produsen kendaraan listrik terbesar di dunia. Namun, pemantauan internal konglomerat itu sendiri menunjukkan bahwa operasi tersebut telah mencemari perairan setempat selama bertahun-tahun dengan bahan kimia beracun “Erin Brockovich”, kromium-6.

Temuan Utama pada PT. Harita Group, konglomerat besar Indonesia, terus-menerus menemukan kadar tinggi zat kimia karsinogenik kromium-6 di perairan sekitar tambang nikelnya, yang dibuka pada tahun 2010, Pengujian internal yang dilakukan konglomerat itu menunjukkan kadar kromium-6 secara teratur melanggar batas hukum Indonesia selama satu dekade.

berdasarkan Email yang bocor menunjukkan para eksekutif senior Harita telah mengetahui polusi tersebut setidaknya sejak tahun 2012, Warga di daerah tersebut mengatakan mereka tidak menerima peringatan tentang polusi, dan konglomerat tersebut telah berulang kali menyatakan bahwa air setempat aman untuk diminum.

Harita tidak menanggapi permintaan komentar berulang kali, Sebelumnya, perusahaan menyatakan bahwa operasinya mematuhi peraturan lingkungan setempat, meskipun ada laporan internal yang terus berlanjut tentang tingkat kromium-6 yang melampaui batas yang diizinkan, PT. Harita Group juga menerapkan serangkaian tindakan untuk mengendalikan polusi, termasuk memasang kolam untuk menampung limpasan beracun dan melakukan perawatan kimia.

Nurhayati Jumadi, seorang warga desa di kecamatan Obi kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara mengatakan pihaknya masih ingat benar kalau kebun jambu mete yang dikelola kakeknya di dekat mata air terdekat, Ia tidak pernah membawa air saat mengurusnya, katanya — ia hanya minum langsung dari sungai, Saat ini, sungai itu dipenuhi endapan berwarna merah kecokelatan yang Tidak jauh dari rumah kayu kecil Jumadi di desa Kawasi, sebuah tambang nikel luas milik Harita Group, konglomerat besar Indonesia, menghasilkan ratusan ribu ton tanah oker setiap tahunnya. Sebuah pabrik peleburan di dekatnya mengeluarkan asap ke udara.

Sejak penambangan dimulai, kata Jumadi, ia mulai batuk bernanah dan berdarah. Seperti banyak penduduk desa lainnya, ia mengatakan ia masih minum dari mata air Kawasi dan sering menderita kram perut dan diare

“Kami tidak tahu apakah itu karena airnya. Namun, kami meminumnya setiap hari,” katanya.

Harita Group merupakan produsen nikel global utama, komponen utama dalam baterai mobil listrik dan baja tahan karat, Selama dua tahun terakhir, perusahaan tersebut menyediakan sekitar 6 persen pasokan mineral dunia, menurut data perusahaan dan pemerintah AS. Perusahaan tersebut juga memiliki saham di berbagai sektor seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan kayu.

Operasi Harita di kecamatan Obi kabupaten Halmahera Selatan, yang dibuka pada tahun 2010, dicap sebagai proyek ekonomi khas Indonesia dan secara hukum diwajibkan untuk menjalani pengujian lingkungan secara berkala, Bahkan telah memenangkan penghargaan nasional untuk praktik berkelanjutan, Namun dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran tentang dampaknya telah meningkat.

Pada bulan Februari 2022, The Guardian melaporkan bahwa air minum Kawasi mengandung kromium heksavalen dalam kadar tinggi, zat kimia beracun yang juga dikenal sebagai kromium-6. Kromium-6 adalah polutan kimia yang digambarkan dalam film “Erin Brockovich,” yang menceritakan kisah seorang wanita California yang berjuang menyelamatkan kotanya dari dampak pencemaran air tanah. Zat ini terbukti menyebabkan masalah kesehatan serius pada orang yang terpapar, termasuk kerusakan hati dan ginjal, kanker pernapasan, dan ulserasi kulit.

Harita Group telah membantah temuan Guardian dan berusaha mengecilkan dampak lingkungan dari operasi nikel tersebut. Namun di balik layar, diskusi internal konglomerat tersebut sangat berbeda dari sikap publiknya, demikian temuan investigasi oleh OCCRP, The Gecko Project, The Guardian, KCIJ Newstapa, dan Deutsche Welle.

Selama satu dekade, pemantauan internal Harita Group sendiri berulang kali menemukan kromium-6 mencemari perairan di sekitar Kawasi, seperti yang ditunjukkan oleh ratusan email perusahaan yang bocor, catatan pengujian, dan dokumen lainnya. Data yang dikumpulkan hanya dua hari sebelum berita Guardian diterbitkan menunjukkan bahwa kadar kromium-6 jauh di atas batas yang diizinkan pada saat itu.

Sedimen yang berpindah ke Sungai Akelamo di Kawasi, Pulau Obi, Indonesia, Pejabat perusahaan berulang kali mengakui dalam surat yang bocor bahwa operasi Harita adalah penyebab pencemaran, Beberapa eksekutif jelas menyadari perlunya mengendalikan pencemaran. Namun, mereka juga khawatir tentang tindakan keras pejabat pemerintah terhadap mereka, dan menyatakan kekhawatiran bahwa LSM mungkin akan mendeteksi kadar bahan kimia saat kadarnya jauh melampaui batas yang diizinkan.

Harita menerapkan serangkaian langkah untuk mengendalikan polusi, termasuk memasang kolam untuk menampung limpasan beracun dan melakukan perawatan kimia. Namun, meskipun data menunjukkan kadar kromium-6 dalam beberapa kasus berada dalam batas yang diizinkan, banyak hasil pembacaan lainnya melampaui batas tersebut selama bertahun-tahun terkadang hingga tiga kali lipat.

Sementara itu, grup tersebut terus menambang nikel dan meluncurkan pabrik pengolahan untuk memproduksi nikel bermutu baterai bagi pasar kendaraan listrik hanya 200 meter dari mata air Kawasi. Perusahaan tersebut juga mencatatkan saham anak perusahaan nikelnya di bursa saham Indonesia pada tahun 2023, meraup keuntungan ratusan juta dolar meskipun datanya menunjukkan kadar kromium-6 tetap tinggi pada bulan-bulan sebelum penawaran. (red)

Halsel Malutline com-Pernyataan “pasien di kecamatan Obi kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara didominasi ISPA” berarti bahwa di pulau Obi, jumlah pasien yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) lebih banyak dibandingkan dengan jenis penyakit lainnya. ISPA adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas dan dapat disebabkan oleh berbagai virus, bakteri, atau jamur. 

ISPA adalah penyakit umum, penyakit yang terjadi, terutama pada musim hujan atau saat perubahan cuaca, Penyebab ISPA, ISPA dapat disebabkan oleh berbagai macam virus, bakteri, atau jamur. Contohnya, virus influenza, rhinovirus, atau adenovirus yang memiliki Gejala ISPA bervariasi, tetapi umumnya meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan nyeri kepala, Penularan ISPA dapat menular melalui kontak dengan percikan air liur penderita saat batuk atau bersin, Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan diri, mencuci tangan, menghindari kontak dengan orang yang sakit, dan memperkuat daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi.

Mengingat pernyataan “pasien di Obi didominasi ISPA”, hal ini menunjukkan bahwa ISPA mungkin menjadi masalah kesehatan utama di pulau tersebut, dan perlu ada perhatian lebih dari Perusahan PT. HARITA Group terhadap pencegahan dan penanganan ISPA di wilayah tersebut, karena ini di sebabkan oleh Pencemaran lingkungan di wilayah tambang nikel Pulau Obi, Maluku Utara, menyusul laporan investigatif yang mengungkap adanya kandungan zat berbahaya Kromium-6 (Cr6) di sumber mata air yang digunakan masyarakat oleh masyarakat Desa kawasi yang mengancam kesehatan, keselamatan dan nyawa warga sekitar lingkar tambang nikel PT. Harita group di kecamatan Obi kabupaten Halmahera Selatan.

Hal ini berdasarkan Laporan yang dirilis oleh jaringan media investigatif internasional yang terdiri dari The Gecko Project, Deutsche Welle (DW), OCCRP, KCIJ Newstapa, dan The Guardian, Mereka menyebut bahwa zat beracun Cr6 telah mencemari wilayah sekitar operasi PT Harita Grup, perusahaan tambang nikel yang telah beroperasi lebih dari satu dekade di Pulau Obi yakni Kromium-6 dikenal sebagai zat kimia yang sangat berbahaya, Dalam paparan jangka panjang, Cr6 dapat menyebabkan gangguan serius pada organ vital seperti hati dan ginjal, serta menimbulkan iritasi kulit, kerusakan gigi, hingga meningkatkan risiko kanker.

Afrisal Kasim, Ketua Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup HMI Cabang Bacan, menilai temuan ini sebagai ancaman serius yang tidak bisa diabaikan, Ia mendesak pemerintah daerah dan lembaga berwenang untuk segera melakukan investigasi lapangan dan mengambil langkah mitigasi “Kami menuntut respons cepat dan tanggap dari Pemerintah Daerah kabupaten Halmahera Selatan karena Pencemaran ini mengancam nyawa masyarakat karena sumber air utama tersebut di konsumsi langsung oleh masyarakat dan berpotensi menjadi bencana kemanusiaan jika tidak segera ditangani,” ujarnya.

Afrisal juga mengkritik sikap PT Harita Grup yang dinilai tidak menunjukkan tanggung jawab lingkungan, Meskipun telah mengetahui resiko pencemaran, perusahaan tersebut tetap memperluas wilayah operasinya dan bahkan membantah tudingan pencemaran lingkungan, Menurutnya, sikap yang di tujukan oleh pihak PT. Harita Group tersebut menunjukkan bahwa keselamatan masyarakat dan pekerja tidak menjadi prioritas, melainkan hanya kepentingan bisnis semata yang menguntungkan pihak perusahan dan mengorbankan masyarakat lingkar tambang.

Kasus ini kembali disoroti karena urgensi kehadiran negara dalam mengawasi operasi industri ekstra-aktif di wilayah-wilayah rawan konflik sumber daya alam, Pemerintah provinsi dan pusat didorong untuk turun tangan, memastikan keselamatan warga, serta memulihkan sumber-sumber kehidupan yang terancam rusak permanen “Kami tidak menolak investasi, Tapi investasi yang mengorbankan kesehatan masyarakat adalah bentuk ketidakadilan yang nyata, Negara harus hadir Jika pihak PT Harita grup tidak lakukan pencegahan maka pihaknya mendesak PT. Harita Group angkat kaki dari wilayah tambang pulau Obi dan menghentikan aktifitas produksi tambang,” pungkas Afrisal.

Sementara itu kepala Puskesmas kecamatan Obi kabupaten Halmahera Selatan Sumarni Malang S.tr. keb saat di konfirmasi Malutline Jumat (10/05/2025) melalui sluran teleponnya mengatakan “terkait dengan persoalan pencemaran lingkungan Cromium cr 6 oleh PT. Harita Group yang mengakibatkan pasien di Obi wilayah lingkar tambang Obi yang sebagain besar terpapar (ISPA) akut tersebut kepala Puskesmas tidak mau memberikan komentar dan meminta wartawan konfirmasi langsung ke pihak Dinas kesehatan kabupaten Halsel karena semua data suda masuk di dinas kesehatan dari tahun ke tahun,” pungkasnya. (Red)