Weda, Malutline — Di tengah kesibukan tugas dan rutinitas menjaga ketertiban lalu lintas, Kasat Lantas Polres Halmahera Tengah Iptu Masqun Abdukish kembali menyampaikan pesan moral yang menyentuh hati banyak orang.

Dalam unggahan pribadinya di media sosial, ia menulis kalimat penuh makna:

“Dunia ini ibarat bayangan, kalau kita berusaha menangkapnya maka ia akan lari, Tapi kalau kita membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikuti kita.”
— #JumatBerkah #KasatLantasHalteng #LantasHalteng #SatLantasPolresHalteng #MasqunAbdukish

Pesan sederhana itu mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan. Menurut Iptu Masqun, terlalu mengejar dunia justru membuat manusia kehilangan arah dan kedamaian. Namun, jika seseorang fokus pada kebaikan, ketulusan, dan tanggung jawab, maka keberkahan akan datang mengikuti — seperti bayangan yang tak pernah bisa lepas dari cahaya.

Unggahan tersebut mendapat banyak tanggapan positif dari masyarakat Halmahera Tengah. Banyak warganet yang memuji sosok Kasat Lantas berhijab itu sebagai polisi yang bukan hanya menegakkan aturan, tetapi juga menyebarkan nilai-nilai moral dan spiritual di tengah masyarakat.

Bagi sebagian orang, pesan itu mungkin sederhana. Tapi di balik kata-katanya, tersirat ajakan untuk hidup lebih tenang dan ikhlas dalam menjalani tugas dan tanggung jawab.

“Sosok Bu Kasat bukan hanya menertibkan lalu lintas, tapi juga menertibkan hati,” tulis salah satu warganet di kolom komentar.

Melalui pendekatan humanis dan keteladanan pribadi, Iptu Masqun Abdukish terus menunjukkan bahwa kepolisian bisa hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penuntun moral di tengah masyarakat. (Red)

Weda, Malutline.com Di tengah riuhnya jalanan, sering kali orang lupa bahwa keselamatan lahir dari kesadaran, bukan sekadar dari aturan. Dalam sejarah panjang kepolisian di Maluku Utara, barangkali baru kali ini masyarakat melihat sosok perempuan berhijab berdiri tegak di bawah terik matahari, di persimpangan jalan — bukan sekadar memberi aba-aba, melainkan menebar senyum dan tutur lembut.

Dialah Iptu Masqun Abdukish, putri asal Malifut, Halmahera Utara, yang kini menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Halmahera Tengah. Jabatan itu ia emban sejak 15 Februari 2025, atas kepercayaan Kapolda Maluku Utara Irjen Pol Midi Siswoko dan dikukuhkan pada masa kepemimpinan AKBP Aditya Kurniawan.
Langkahnya di tubuh kepolisian tidak hanya menembus batas gender, tetapi juga merobohkan dinding antara hukum dan humanisme.

Menertibkan dengan Senyum, Mendidik dengan Hati

Iptu Masqun menata ulang wajah lalu lintas bukan dengan amarah, tetapi dengan pendekatan moral yang lembut, edukatif, dan memanusiakan pengendara.
Baginya, helm bukan hanya simbol kewajiban, melainkan pelindung kasih sayang; SIM bukan sekadar surat izin, melainkan bukti kedewasaan berlalu lintas.

Salah satu inovasi yang ia gagas adalah program “Bahasa Lalu Lintas”, yang menyasar para pelajar SMA dan sederajat di wilayah tugasnya.

“Kami ingin menciptakan suasana lalu lintas yang sejuk,” ujarnya lembut, seperti guru yang menasihati murid, bukan aparat yang menegur pelanggar.

Di dunia yang kerap diwarnai citra keras aparat, Masqun menghadirkan paradigma baru: polantas yang tersenyum, menasihati, lalu menegur — dan baru menindak bila semua cara baik tak lagi mempan.

Malaikat di Persimpangan

Pelan-pelan, masyarakat mulai tertegun. Di antara panasnya jalan raya dan bisingnya klakson, muncul figur seorang polwan yang tidak hanya menertibkan, tapi juga menenangkan. Ia menyapa, bukan menghardik. Ia menasihati, bukan menakuti.

Barangkali inilah wajah baru kepolisian yang diimpikan publik: penegakan hukum yang berakar pada kasih dan nilai kemanusiaan.

Apa yang dilakukan Iptu Masqun mungkin tampak sederhana di mata birokrasi, tapi bagi rakyat, ia telah menanamkan revolusi kecil dalam budaya berlalu lintas — revolusi etika yang lahir dari senyum.

Jejak Pendidikan dan Pengabdian

Perjalanan panjang Iptu Masqun berawal dari tanah Halmahera Utara. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Ngofakiaha (lulus 1998), kemudian melanjutkan ke MTs Negeri Ternate (lulus 2001), dan SMA Negeri 4 Kota Ternate (lulus 2004).
Pendidikannya berlanjut ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah, meraih gelar Sarjana (S1) tahun 2016, dan kemudian menyelesaikan Magister Sains (M.Si.) pada September 2023.

Bagi Masqun, gelar akademik bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi bukti bahwa ilmu dan moral bisa berpadu dalam satu tubuh yang melayani dengan nurani.

Kepemimpinan yang Mengayomi

Dalam masyarakat Maluku Utara yang sedang berjuang menyeimbangkan tradisi dan modernitas, Masqun tampil sebagai figur inspiratif.
Ia membuktikan bahwa jabatan bukanlah dinding antara kekuasaan dan kasih, melainkan jembatan pengabdian.

Teori Transformational Leadership dari James MacGregor Burns (1978) menjelaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu “mengangkat moralitas pengikutnya ke tingkat yang lebih tinggi”.

Masqun menerapkannya bukan hanya kepada bawahannya, tapi juga kepada masyarakat: membimbing agar lebih sadar, lebih beradab di jalan raya.

Begitu pula teori Ethics of Care dari Carol Gilligan (1982) — kepemimpinan perempuan yang berakar pada empati dan kepedulian sosial.
Kelembutan Masqun bukan tanda kelemahan, tetapi legitimasi moral yang menumbuhkan rasa hormat tanpa paksaan.

Ketika masyarakat menatapnya di persimpangan jalan, mereka tidak hanya melihat seorang Kasat Lantas, tetapi seorang malaikat lalu lintas — sosok yang memadukan disiplin dan kehangatan.
Inilah wujud sejati dari kata pengayom: tegas tanpa kehilangan sisi manusiawi.

Iptu Masqun Abdukish telah menulis bab baru dalam kisah kepemimpinan perempuan Maluku Utara.
Ia menunjukkan bahwa lembut bukan berarti lemah, dan senyum bukan tanda tunduk — justru dari sanalah lahir kekuatan abadi: kekuatan untuk menata jalan raya dengan hati, bukan sekadar aturan.

Sebagaimana pepatah lama dari Halmahera berkata:

“Jalan yang terang bukan karena lentera, tetapi karena hati yang menyalakan arah.”

Maka biarlah senyum Iptu Masqun terus menjadi lentera di jalanan kita — menuntun setiap pengendara menuju keselamatan sejati: bukan hanya bebas tilang, tetapi juga bebas dari keangkuhan di jalan.

Teruslah menjadi orang baik, menjadi pengayom, menjadi malaikat di jalan.
Dan semoga dari bumi Maluku Utara akan lahir Masqun-Masqun baru — perempuan berhati teduh yang menjadikan tugas sebagai panggilan jiwa, bukan sekadar profesi.

Oleh: Arafik A. Rahman
Morotai, 16 Oktober 2025
#SekadarCatatanApresiasi
#IbuKasatTerbaik #MasqunAbdukish

LABUHA, Malutline – Warga Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, mengeluhkan aktivitas galian pasir yang berlangsung di dekat pemukiman mereka. Aktivitas itu disebut semakin meresahkan karena dilakukan tepat di tepi sungai yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah warga.

Seorang warga yang rumahnya berdekatan langsung dengan lokasi galian mengaku, setiap kali hujan turun mereka selalu berjibaku memperbaiki tanggul agar air tidak melebar ke pemukiman.

“Kalau hujan deras, air cepat naik karena tanah di sekitar sungai makin terkikis. Kami sudah sering perbaiki supaya tidak jebol, tapi kalau pasir terus digali begini, percuma saja,” ungkapnya, Kamis (17/10/2025).

Menurut warga, aktivitas galian ini diduga dilakukan oleh oknum yang memiliki kendaraan alat berat tanpa izin resmi. Mereka khawatir jika hal ini dibiarkan, bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga mengancam keselamatan warga di sekitar bantaran sungai.

“Kami tidak tahu siapa pemilik alat berat itu, tapi kami mohon pemerintah turun tangan. Jangan sampai nanti sudah ada korban baru bertindak,” tambahnya.

Warga berharap Pemerintah Kecamatan Bacan Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan aparat terkait segera melakukan peninjauan ke lokasi dan menghentikan kegiatan tersebut.

Aktivitas galian pasir liar di Halmahera Selatan bukan hal baru. Sejumlah daerah lain juga pernah menghadapi persoalan serupa yang berdampak pada kerusakan lingkungan dan ancaman terhadap infrastruktur warga.

“Kami tidak menolak pembangunan, tapi kalau kegiatan ini merusak alam dan membahayakan kami, tolong segera dihentikan,” tutup salah satu warga Desa Babang penuh harap. (Red)

LABUHA, Malutline — Kinerja dan perilaku salah satu aparatur pemerintahan di Kecamatan Makian Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, menuai sorotan publik. Pasalnya, Bendahara Kecamatan Makian Barat bernama Rosmina diduga melakukan sejumlah pelanggaran disiplin pegawai dan penyalahgunaan fasilitas dinas.

Informasi yang dihimpun median ini menyebutkan, Rosmina diketahui jarang masuk kantor dengan alasan bekerja di Bacan. Namun, di sisi lain, ia tetap menerima Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) meski jarang hadir di tempat tugas.

Tak hanya itu, Rosmina juga diduga membawa sepeda motor dinas milik pemerintah kecamatan Makian Barat ke Kota Ternate untuk digunakan oleh anaknya yang sedang kuliah. Padahal, kendaraan tersebut merupakan aset daerah yang seharusnya digunakan untuk mendukung kegiatan operasional kantor kecamatan, bukan kepentingan pribadi.

Salah satu pegawai kecamatan yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dengan sikap bendahara tersebut.

“Bendahara itu sudah berulang kali diingatkan, tapi tidak pernah berubah. Aset dinas bukan milik pribadi. Motor dinas dibawa ke Ternate untuk anaknya, ini jelas pelanggaran,” ujarnya.

Menurut sumber lain, perilaku tidak disiplin Rosmina juga telah menjadi pembicaraan di lingkungan kerja.

“Ibu bendahara bikin malu saja. Jarang masuk kantor, tapi masih terima TPP. Ini harus jadi perhatian serius pemerintah daerah,” tambahnya.

Sejumlah warga dan pegawai kini mendesak Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, untuk segera melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap pegawai bersangkutan. Mereka menilai, tindakan seperti ini bisa mencoreng citra pemerintahan di tingkat kecamatan.

“Kami harap Pak Bupati Halsel Hasan Ali Bassam kasuba turun tangan, Pegawai seperti ini tidak hanya lalai dalam tugas, tapi juga merusak kepercayaan publik terhadap birokrasi di daerah,” tegas warga Makian Barat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kecamatan Makian Barat maupun yang bersangkutan, Rosmina, belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan tersebut. Namun publik berharap, Inspektorat dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Halsel segera menindaklanjuti laporan ini agar disiplin ASN benar-benar ditegakkan. (Red)

LABUHA, Malutline–Persoalan lahan antara Charles Ong dan Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan (Pemda Halsel) yang berlokasi di jalan baru Desa Tomori akhirnya menemui titik damai.

Proses penyelesaian yang sempat menjadi perhatian masyarakat ini berlangsung secara kekeluargaan dengan mediasi pemerintah daerah dan pihak terkait. Kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan perbedaan secara damai tanpa menimbulkan ketegangan di masyarakat.

salah seorang pejabat di Halsel menyampaikan apresiasi atas sikap kooperatif Charles Ong yang memilih jalur musyawarah. “Kita patut bersyukur karena persoalan ini bisa selesai tanpa konflik. Pemerintah daerah berkomitmen untuk menghormati hak masyarakat sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur yang berjalan,” ujarnya.

Sementara itu, Charles Ong mengaku puas dengan hasil kesepakatan tersebut. Ia menegaskan tidak ada lagi persoalan antara dirinya dan Pemda Halsel. “Saya hanya berharap semua pihak tetap menjaga komunikasi baik agar pembangunan dan arus lalulintas bisa terus berjalan lancar,” katanya.

Dengan tercapainya kesepakatan damai ini, pembangunan di kawasan jalan baru Desa Tomori dipastikan dapat dilanjutkan tanpa hambatan, Masyarakat sekitar pun menyambut positif langkah penyelesaian damai tersebut

Pihaknya berterimakasih kepada Pemda Halsel Bupati dan wakil Bupati Hasan Ali Bassam kasuba dan Helmi Umar Muksin yang mampu memediasi dan menyelesaikan persoalan yang sudah berlarut-larut haing di pemerintahan Bassam-Helmi baru dapat di selesaikan secara Damai. Cetusnya.(red)