LABUHA, Malutline — Kondisi kebersihan di Ibu Kota Kabupaten Halmahera Selatan, Labuha, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Tumpukan sampah yang kian menggunung di sejumlah titik kota dinilai telah mencoreng wajah ibu kota daerah dan memicu keresahan warga.
Sejumlah warga bahkan menyebut kondisi Labuha saat ini mirip “Gunung Sibela kedua”, merujuk pada gunungan sampah yang dibiarkan tanpa penanganan serius. Situasi tersebut mendorong desakan keras kepada Bupati Halmahera Selatan agar segera mengevaluasi, bahkan mencopot Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samsu Abubakar yang dianggap gagal menjalankan tugas.
“Sudah terlalu lama sampah dibiarkan menumpuk. Kepala dinas terkesan hanya melihat-lihat tanpa tindakan nyata. Kalau seperti ini terus, Labuha sudah tidak layak lagi menjadi ibu kota,” ungkap salah satu warga dengan nada kesal.
Warga menilai, sebagai pusat pemerintahan dan wajah Kabupaten Halmahera Selatan, Labuha seharusnya menjadi contoh kebersihan dan penataan lingkungan, bukan justru dipenuhi tumpukan sampah yang berpotensi menimbulkan penyakit dan pencemaran lingkungan.
Selain mengganggu estetika kota, sampah yang tidak tertangani juga dikhawatirkan berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat, terutama di musim hujan, serta mencemari laut dan pesisir yang menjadi sumber penghidupan warga.
“Kami minta Bupati turun langsung melihat kondisi lapangan, bukan hanya menerima laporan di atas meja. Kalau DLH tidak mampu bekerja, sebaiknya dievaluasi atau diganti,” tegas warga lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, mulai dari perbaikan sistem pengelolaan sampah, penambahan armada pengangkut, hingga penegakan disiplin kerja di lingkungan DLH, agar Labuha kembali bersih dan layak sebagai ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Selatan belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan dan tuntutan masyarakat tersebut. (Red)





