LABUHA, Malutline — Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Halmahera Selatan terus mendalami dugaan tindak pidana korupsi anggaran beasiswa fiktif Tahun Anggaran 2024 yang nilainya ditaksir mencapai Rp1 miliar. Dalam perkembangan terbaru, penyidik resmi memeriksa Kepala Dinas Pendidikan Halmahera Selatan, Siti Khotijah, Kamis (2/7/2026).

Pemeriksaan terhadap Siti Khotijah berlangsung di ruang penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Halmahera Selatan sebagai bagian dari proses penyelidikan dugaan penyimpangan penyaluran dana beasiswa pada Kampus STIA Labuha.

Usai menjalani pemeriksaan, Siti Khotijah mengakui dirinya dimintai keterangan oleh penyidik dalam kapasitas sebagai saksi.

“Saya diperiksa sebagai saksi terkait kasus beasiswa di Kampus STIA Labuha,” singkatnya kepada wartawan usai pemeriksaan.

Saat dikonfirmasi terkait durasi pemeriksaan, Kadis Pendidikan Halsel itu menyebut dirinya berada di ruang penyidik selama kurang lebih tiga jam untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan mekanisme penganggaran dan penyaluran dana beasiswa.

Informasi yang dihimpun Malutline menyebutkan, penyidik Pidsus Kejari Halmahera Selatan kini tengah menelusuri dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan anggaran beasiswa Tahun Anggaran 2024 yang diduga kuat mengandung unsur penyalahgunaan kewenangan, manipulasi data penerima, hingga indikasi penyaluran fiktif.

Kasus ini menjadi perhatian publik lantaran anggaran yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan mahasiswa diduga justru diselewengkan secara melawan hukum dan berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara dalam jumlah besar.

Masyarakat kini menaruh harapan besar kepada Kejaksaan Negeri Halmahera Selatan agar proses penegakan hukum dilakukan secara profesional, independen, dan transparan, serta tidak berhenti pada pemeriksaan saksi semata.

Publik mendesak aparat penegak hukum segera mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab dan menyeret seluruh aktor yang terlibat ke proses hukum sesuai ketentuan perundang-undangan tindak pidana korupsi yang berlaku. (Red)

TERNATE, Malutline.com — Penanganan laporan dugaan korupsi anggaran tunjangan perumahan dan transportasi anggota DPRD Kota Ternate kembali menjadi sorotan. Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia meminta Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Utara segera mengalihkan penanganan perkara tersebut ke Bidang Pidana Khusus (Pidsus), bukan hanya berhenti di bidang intelijen.

Permintaan itu disampaikan Ketua Wilayah SEMMI Maluku Utara, Sarjan Hi Rivai, menanggapi pernyataan Kepala Tata Usaha (KTU) Kejati Maluku Utara, Safri Muin, yang sebelumnya menyebut laporan dugaan tindak pidana korupsi terkait anggaran tunjangan DPRD Kota Ternate periode 2019–2024 telah diterima dan didisposisikan ke bidang intelijen.

Menurut Sarjan, langkah cepat Kejati Malut patut diapresiasi. Namun, ia menilai perkara tersebut seharusnya langsung ditangani bidang Pidsus, mengingat substansi laporan menyangkut dugaan tindak pidana korupsi dan saat ini bidang yang sama juga sedang menangani perkara tunjangan DPRD Provinsi Maluku Utara yang telah naik ke tahap penyidikan.

“Kami dari SEMMI mengapresiasi langkah cepat pihak Kejati Malut yang sudah menindaklanjuti pengaduan kami. Tapi alangkah baiknya laporan tersebut diserahkan ke bidang Pidsus saja, karena mereka juga sedang menangani perkara yang sama, yakni tunjangan DPRD Provinsi yang sudah naik ke penyidikan. Ini untuk mempermudah langkah-langkah penyelidikan,” tegas Sarjan.

Lebih jauh, Sarjan mengaku pihaknya memperoleh informasi adanya dugaan manuver internal yang berpotensi memperlambat proses hukum dengan mengarahkan penanganan laporan terlebih dahulu ke bidang intelijen sebelum nantinya masuk ke Pidsus.

Pernyataan itu memunculkan pertanyaan serius mengenai pola penanganan perkara di internal kejaksaan, terutama ketika laporan yang disampaikan menyangkut dugaan penyimpangan anggaran bernilai besar.

“Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap institusi Kejati Malut, tapi berdasarkan informasi yang kami dapat ada dugaan pihak tertentu yang sengaja memperlambat proses hukum perkara ini. Semoga informasi itu tidak benar. Karena di Pidsus sudah ada bidang operasional yang memiliki kewenangan melakukan telaah dan penyelidikan,” ujarnya.

Sarjan juga mengungkapkan bahwa sebelum laporan resmi dimasukkan ke Kejati Maluku Utara, pihaknya terlebih dahulu melakukan konsultasi dengan penyidik di bidang Pidsus terkait kelengkapan data dan dokumen yang dibutuhkan untuk memperkuat dugaan korupsi tersebut.

Menurutnya, langkah itu dilakukan agar proses hukum dapat berjalan lebih efektif dan memiliki dasar awal yang cukup untuk ditindaklanjuti aparat penegak hukum.

“Sebelum kami memasukkan laporan pengaduan, kami lebih dulu berkoordinasi dengan teman-teman di Pidsus terkait bukti dan data untuk memperkuat laporan agar proses penyelidikan berjalan baik dan transparan. Jadi lebih elok Pak Kajati mendisposisikan perkara itu langsung ke teman-teman di Pidsus,” katanya.

Kasus yang dilaporkan SEMMI sebelumnya berkaitan dengan dugaan penyimpangan anggaran tunjangan perumahan dan transportasi DPRD Kota Ternate periode 2020–2024 dengan total realisasi anggaran mencapai Rp64,235 miliar.

Dalam laporan itu, sejumlah nama pejabat ikut disebut sebagai pihak terlapor, di antaranya M. Tauhid Soleman, Dr. Rizal Marsaoly selaku Ketua TAPD, mantan Ketua TAPD Yusuf Sunya, hingga sejumlah pimpinan DPRD periode terkait.

Kini publik menunggu langkah Kejaksaan Tinggi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Sufari.

Pertanyaan yang mulai mengemuka, apakah dugaan skandal anggaran puluhan miliar rupiah ini akan segera masuk meja penyidikan, atau justru tersendat dalam mekanisme internal yang berpotensi memperlambat penegakan hukum? (Bur)

TERNATE, Malutline.com — Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara mulai memproses laporan dugaan korupsi anggaran tunjangan perumahan dan transportasi anggota DPRD Kota Ternate periode 2020–2024 yang sebelumnya dilayangkan Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia. Dalam laporan bernilai jumbo itu, nama Dr. Rizal Marsaoly ikut terseret sebagai salah satu pihak yang dilaporkan.

Kepastian diprosesnya laporan tersebut disampaikan Kepala Tata Usaha (KTU) Kejaksaan Tinggi Maluku Utara, Syafri Hi Muin, saat dikonfirmasi redaksi.

Menurut Syafri, laporan yang masuk melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) telah diteruskan ke Kepala Kejati Maluku Utara, Sufari, dan selanjutnya didisposisikan ke bidang intelijen untuk ditindaklanjuti.

“PTSP ke saya, saya teruskan ke Pak Kajati, Pak Kajati ke Intel. Pak Kajati disposisi ke Intel,” ujar Syafri.

Kasus ini bermula ketika pada Senin, 29 Juni 2026, PW SEMMI Maluku Utara secara resmi melaporkan M. Tauhid Soleman bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kota Ternate dan pimpinan DPRD Kota Ternate atas dugaan tindak pidana korupsi terkait kebijakan kenaikan tunjangan perumahan dan transportasi anggota dewan.

Selain Wali Kota, laporan itu juga menyeret sejumlah nama penting dalam lingkaran penganggaran daerah. Di antaranya Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Dr. Rizal Marsaoly, mantan Ketua TAPD Yusuf Sunya, mantan Sekretaris DPRD Safiah, Sekretaris DPRD Aldi Ali, mantan Ketua DPRD Muhajirin Bailussy, serta sejumlah anggota DPRD periode terkait.

Dalam dokumen pengaduan yang diajukan, SEMMI menduga kebijakan kenaikan tunjangan tersebut lahir melalui serangkaian regulasi yang dinilai bermasalah, yakni Perwali Nomor 2 Tahun 2020, Perwali Nomor 34 Tahun 2020, serta Perwali Nomor 21 Tahun 2021.

Regulasi itu diduga menjadi dasar melonjaknya nilai tunjangan perumahan dan transportasi DPRD Kota Ternate secara signifikan selama empat tahun terakhir.

Data yang dikantongi SEMMI menyebutkan total realisasi anggaran tunjangan DPRD Kota Ternate sepanjang 2020 hingga 2024 mencapai Rp64,235 miliar.

Namun berdasarkan simulasi perhitungan menggunakan standar pembanding dari Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP), ditemukan dugaan selisih pembayaran mencapai Rp23,938 miliar.

Angka tersebut dinilai mengindikasikan potensi pemborosan anggaran yang sangat besar, meski SEMMI menegaskan diperlukan audit resmi untuk memastikan ada atau tidaknya kerugian keuangan negara.

SEMMI menilai kebijakan penetapan tunjangan itu diduga bertentangan dengan Pasal 17 PP Nomor 18 Tahun 2017 yang mengatur bahwa hak keuangan pimpinan dan anggota DPRD wajib memenuhi prinsip kepatutan, kewajaran, rasionalitas, serta standar harga setempat.

Ketua PW SEMMI Maluku Utara, Sarjan Hud, menegaskan pihaknya meminta Kejati Maluku Utara segera membuka penyelidikan terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat dalam penyusunan kebijakan, proses penganggaran, penetapan besaran tunjangan hingga mekanisme pencairan anggaran.

“Kami meminta Kejati segera melakukan penyelidikan secara profesional dan transparan terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat. Publik berhak mengetahui apakah ada kerugian negara dalam kasus ini,” tegas Sarjan.

Masuknya laporan ini kini menjadi perhatian publik Kota Ternate. Sorotan mengarah pada siapa saja aktor utama di balik lahirnya kebijakan anggaran yang menyebabkan belanja tunjangan DPRD mencapai puluhan miliar rupiah.

Dengan nama-nama pejabat penting ikut tercantum sebagai pihak terlapor, termasuk Dr. Rizal Marsaoly sebagai Ketua TAPD, publik kini menunggu langkah serius Kejaksaan Tinggi Maluku Utara: akankah dugaan skandal anggaran Rp64 miliar ini dibongkar hingga tuntas, atau kembali berhenti di meja birokrasi (Bur)

LABUHA, Malutline — Sejumlah warga Desa Sekely, Kecamatan Gane Barat Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, mengeluhkan belum dibayarkannya upah kerja mereka dalam proyek pembangunan jalan lapen Desa Sekely yang dikerjakan pada Tahun Anggaran 2024.

Keluhan tersebut disampaikan masyarakat yang terlibat langsung sebagai pekerja lapangan, khususnya pada pekerjaan hampar batu dalam proyek tersebut. Hingga memasuki pertengahan tahun 2026, para pekerja mengaku belum menerima pembayaran atas pekerjaan yang telah mereka selesaikan sejak proyek berlangsung.

Warga menyebut pihak kontraktor pelaksana, yakni CV Vikram Putra, sampai saat ini belum menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran terhadap para pekerja lokal yang ikut terlibat dalam pelaksanaan proyek.

Salah satu perwakilan warga, Enggar Raffa, mengatakan bahwa masyarakat hanya menuntut hak mereka atas pekerjaan yang telah dikerjakan sesuai tanggung jawab di lapangan. Menurutnya, keterlambatan pembayaran yang berlangsung cukup lama ini telah menimbulkan kekecewaan besar di tengah masyarakat Desa Sekely.

“Kami bekerja secara langsung di lapangan dalam proyek jalan lapen tersebut, khususnya pada pekerjaan hampar batu. Sampai sekarang upah kami belum dibayarkan oleh kontraktor CV Vikram Putra. Kami hanya meminta hak kami diberikan sesuai pekerjaan yang sudah kami selesaikan,” ujar Enggar Raffa saat menyampaikan keluhan masyarakat.

Menurut warga, persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan karena menyangkut hak tenaga kerja lokal yang telah dilibatkan dalam proyek yang menggunakan anggaran pemerintah.

Masyarakat berharap Bupati Halmahera Selatan dapat turun tangan untuk memanggil pihak kontraktor dan memastikan seluruh hak pekerja segera dibayarkan. Mereka menilai pemerintah daerah tidak boleh tinggal diam ketika ada dugaan kelalaian kontraktor dalam memenuhi kewajiban terhadap masyarakat yang terlibat dalam pekerjaan proyek daerah.

“Kami memohon kepada Bupati Halmahera Selatan agar membantu kami. Jangan sampai masyarakat kecil yang sudah bekerja justru dirugikan karena hak-haknya tidak dibayarkan. Kami hanya meminta keadilan,” lanjut Enggar.

Kasus ini pun mulai menjadi perhatian warga setempat yang meminta adanya transparansi dan tanggung jawab penuh dari pihak pelaksana proyek. Jika persoalan tersebut terus dibiarkan tanpa penyelesaian, masyarakat mengaku akan mempertimbangkan langkah lanjutan untuk memperjuangkan hak mereka.

Hingga berita ini diturunkan, pihak CV Vikram Putra belum memberikan penjelasan resmi terkait keluhan masyarakat Desa Sekely atas tunggakan pembayaran upah pekerjaan proyek jalan lapen Tahun Anggaran 2024 tersebut. (Bur)

TERNATE, Malutline-Praktik dugaan bisnis kayu ilegal di wilayah Gane Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali menjadi sorotan serius. Aktivitas pembalakan liar yang berlangsung di sejumlah desa disebut berjalan terang-terangan dan diduga mendapat perlindungan dari oknum aparat kepolisian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan, seorang oknum anggota polisi di Ternate diduga mengendalikan bisnis pengiriman kayu ilegal dari Gane Timur menuju Ternate dalam skala besar.

Sumber di lapangan menyebutkan, dalam satu kali pemuatan menggunakan dump truck, kayu yang diangkut bisa mencapai puluhan kubik. Jika diakumulasi dalam beberapa kali pengiriman, total kayu yang telah keluar dari kawasan Gane Timur menuju Ternate diduga mencapai ratusan kubik.

Kayu-kayu tersebut diduga berasal dari hasil olahan ilegal yang diambil dari sejumlah kawasan hutan dan desa di Gane Timur tanpa izin resmi.

Yang menjadi perhatian publik, aktivitas ini disebut berlangsung secara terbuka dan diduga sudah diketahui aparat setempat.

Sejumlah warga mengaku aktivitas pembalakan hingga proses pengangkutan kayu menuju titik pengiriman berlangsung cukup lama dan dilakukan di lokasi terbuka dekat jalan raya.

Menurut keterangan warga, proses pengeluaran kayu dari area hutan bahkan menggunakan tenaga kerbau sebelum dibawa ke titik pemuatan.

Namun anehnya, meski aktivitas tersebut berlangsung secara terang-terangan, hingga kini tidak terlihat adanya tindakan penegakan hukum dari aparat setempat.

Warga menduga pihak Kepolisian Sektor Gane Timur telah mengetahui aktivitas tersebut namun memilih diam.

“Sudah lama aktivitas itu berjalan. Kayu dikeluarkan dari lokasi pakai kerbau, diproses dekat jalan raya, pekerja muat santai seolah tidak takut karena merasa aman,” ungkap salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Tak hanya itu, muncul dugaan adanya keterlibatan jaringan perlindungan atau backing dari oknum aparat sehingga kayu hasil pembalakan liar itu dapat lolos dari pengawasan dan terus dikirim menuju Ternate.

Informasi yang diperoleh menyebutkan kayu-kayu tersebut kemudian dibawa ke salah satu pangkalan penampungan terbesar di Kota Ternate yang diduga dimiliki seorang oknum anggota polisi.

Situasi ini memunculkan dugaan serius adanya praktik mafia kayu ilegal yang melibatkan jaringan terorganisir dari lokasi penebangan hingga distribusi ke pasar.

Jika dugaan ini benar, maka praktik pembalakan liar di Gane Timur bukan lagi sekadar kejahatan lingkungan, melainkan indikasi adanya jaringan bisnis ilegal yang berjalan di bawah perlindungan pihak tertentu.

Aktivitas tersebut berpotensi merusak kawasan hutan di Gane Timur sekaligus menyebabkan kerugian negara akibat eksploitasi sumber daya alam tanpa izin resmi.

Publik kini menunggu respons tegas dari Kepolisian Daerah Maluku Utara dan Kepolisian Resor Halmahera Selatan untuk mengusut dugaan keterlibatan oknum aparat dalam bisnis kayu ilegal yang diduga sudah berlangsung cukup lama.

Jika aparat di tingkat bawah memilih diam, pertanyaan besarnya: siapa sebenarnya yang sedang melindungi bisnis kayu ilegal di Gane Timur Kabupaten Halmahera Selatan provinsi Maluku Utara.(red)