LABUHA, Malutline. Aroma penyimpangan birokrasi kembali menyeruak dari tubuh UPTD Puskesmas Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan. Informasi yang dihimpun Malutline menyebut adanya dugaan monopoli anggaran dan kewenangan oleh tiga staf perempuan yang dikenal di internal puskesmas masing-masing Marini Mansur, SKM, Fayakun Hasan, dan Hazrivan.

Sumber internal menyebut, Kepala Puskesmas Babang, Noce Dumede, SKM, tak lagi leluasa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan unit kerja, karena hampir semua kegiatan, kebijakan, dan alokasi dana dikendalikan oleh Tiga orang staf tersebut “Semua kegiatan dan dana mereka yang atur. Bahkan keputusan penting sering kali tanpa sepengetahuan kepala puskesmas,” ujar salah satu staf, Rabu (08/10/2025).

Kondisi ini sudah berlangsung lama dan terus berulang setiap kali terjadi pergantian pimpinan. “Begitu ganti kepala puskesmas, masalah yang sama muncul lagi. Banyak staf merasa tidak nyaman, suasana kerja jadi tidak kondusif,” tambah sumber lain.

Situasi memanas setelah insiden memalukan di lapangan, Sejumlah staf yang ditugaskan melakukan pelayanan keliling (pusling) di wilayah kerja Puskesmas Babang dilaporkan diturunkan secara paksa dari speedboat oleh orang-orang yang disebut tiga orang staf yang memonopoli tugas kapus Babang

“Padahal para petugas sudah naik ke atas speedboat dan siap berangkat, tapi tiba-tiba disuruh turun. Alasannya tidak jelas, tapi semua tahu siapa yang perintahkan,” kata seorang tenaga kesehatan yang meminta identitasnya dirahasiakan, Insiden ini membuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat terganggu.

Menanggapi hal tersebut, ketua LSM Front Anti Korupsi Indonesia (FAKI) Maluku Utara Dani Haris Purnawan mendesak Bupati Halmahera Selatan segera mengambil langkah tegas.
“Kuasa pengguna anggaran ada di tangan kepala puskesmas, bukan staf. Kalau benar ada staf yang mengambil alih kewenangan pimpinan, itu pelanggaran serius dan bisa masuk ranah hukum,” tegas perwakilan FAKI, Rabu (08/10/2025).

Ketua front Anti Korupsi Indonesia Dani Haris Purnawan juga meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Inspektorat Halsel melakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan dana Biaya Operasional Kesehatan (BOK) dan program lainnya di Puskesmas Babang.

Menurut Dani Haris purnawan, praktik semacam ini tidak hanya mencederai etika birokrasi, tetapi juga berpotensi merusak sistem pelayanan kesehatan masyarakat.
“Ini harus segera dihentikan. Jangan sampai pelayanan publik terganggu hanya karena oknum-oknum yang merasa lebih berkuasa dari pimpinan,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Marini Mansur dan Kepala Puskesmas Babang, Noce Dumede, belum memberikan tanggapan resmi. Tim Malutline masih berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada keduanya.

Kasus dugaan monopoli kewenangan dan anggaran oleh Tiga orang staf pada puskesmas babang ini kini menjadi sorotan publik. Masyarakat menunggu langkah tegas Pemkab Halsel untuk memulihkan wibawa pimpinan dan menegakkan kembali integritas pelayanan kesehatan di Puskesmas Babang.
(Jul/Red)

LABUHA, Malutline – Musibah angin kencang disertai gelombang laut tinggi kembali melanda wilayah pesisir Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel). Pada Selasa subuh, 7 Oktober 2025 sekitar pukul 06.00 WIT, angin kencang menghantam Desa Kampung Baru, Kecamatan Kepulauan Botang Lomang, hingga menyebabkan satu unit rumah milik Bapak Abdillah Rajak roboh dan rusak parah.

Bangunan yang terbuat dari bahan kayu dan papan tersebut ambruk setelah diterjang hembusan angin dan hantaman ombak besar dari arah laut. Berdasarkan keterangan warga, kejadian berlangsung sangat cepat dan mengejutkan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

“Angin datang tiba-tiba dari arah laut. Suara ombak besar sekali, kami tidak sempat selamatkan banyak barang. Rumah langsung roboh,” tutur Abdillah Rajak dengan nada sedih saat ditemui di lokasi kejadian.

Kini, Abdillah dan keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat. Mereka berharap adanya perhatian dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, terutama dari Bupati Halsel Hasan Ali Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muksin, agar bisa segera mendapatkan bantuan darurat dan perbaikan rumah.

“Kami hanya bisa berharap pemerintah bisa melihat kondisi kami di sini. Rumah kami sudah tidak bisa ditempati lagi. Semoga ada bantuan, setidaknya untuk memperbaiki tempat tinggal kami,” ujarnya lirih.

Warga sekitar turut meminta agar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halsel segera turun ke lokasi untuk melakukan pendataan dan menyalurkan bantuan kepada korban terdampak. Menurut warga, musibah serupa sering kali terjadi di wilayah pesisir Botang Lomang akibat cuaca ekstrem, namun penanganan masih minim.

“Daerah kami ini rawan gelombang dan angin besar. Kami harap pemerintah bisa perhatikan, jangan tunggu ada korban baru turun tangan,” kata seorang warga lainnya.

Masyarakat berharap Pemkab Halsel melalui Dinas Sosial dan BPBD segera menindaklanjuti laporan tersebut agar keluarga korban dapat segera memperoleh bantuan dan tempat tinggal layak.

LABUHA, Malutline — Dalam dinamika kepemimpinan daerah, hadir sosok muda yang menjadi inspirasi dan teladan bagi banyak orang. Beliau adalah Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, S.Pd.I., M.I.Kom, figur pemimpin muda yang dikenal luas karena keteguhan prinsip, keterbukaan dalam berdialog, serta kebiasaan bermusyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.

Ir. Masykur Mahdi ST tokoh muda makayoa ini mengatakan Bagi banyak kalangan, Bassam Kasuba bukan sekedar seorang kepala daerah, tetapi simbol kepemimpinan yang berakar pada nilai kekeluargaan dan musyawarah. Dalam setiap kebijakan yang diambil, ia selalu membuka ruang bagi semua pihak untuk menyampaikan pandangan dan masukan, agar keputusan yang dihasilkan menjadi keputusan bersama, bukan semata keputusan seorang pemimpin.

“Bupati Bassam selalu memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk berbicara dan berpendapat. Ia ingin setiap keputusan lahir dari kesepahaman, bukan paksaan,” ungkap salah satu pejabat di lingkungan Pemkab Halmahera Selatan dengan nada kagum.

Kebiasaan bermusyawarah ini tidak hanya diterapkan di lingkup pemerintahan daerah, tetapi juga dalam berbagai kebijakan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Bupati kelahiran tahun 1988 ini dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang komunikatif dan inklusif, mampu menjembatani setiap perbedaan pandangan dengan pendekatan dialog yang hangat dan penuh empati.

Selain dikenal piawai dalam membangun komunikasi lintas lapisan masyarakat, Bassam Kasuba juga memiliki kepribadian yang sederhana, rendah hati, dan apa adanya. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang harus dijaga jarak, melainkan sebagai pemimpin yang dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakatnya.

Sikap terbuka dan kepedulian yang tinggi terhadap aspirasi rakyat membuatnya digambarkan sebagai pemimpin yang adil, mengayomi, dan bersahaja. Ia tidak hanya mendengarkan, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, merasakan langsung denyut kehidupan mereka — dari para petani dan nelayan, hingga pelaku UMKM dan generasi muda.

Dalam setiap langkah dan kebijakannya, Bupati Bassam Kasuba seolah menegaskan bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan dan pengabdian.

Dengan prinsip “bermusyawarah sebelum menetapkan,” beliau menunjukkan bahwa kemajuan daerah tidak lahir dari satu pikiran, melainkan dari kesatuan hati dan semangat bersama seluruh elemen masyarakat.

Sosok muda yang visioner, komunikatif, dan penuh ketulusan ini kini menjadi inspirasi bagi generasi baru Halmahera Selatan — bahwa memimpin dengan hati jauh lebih kuat daripada memimpin dengan kuasa. (Red)

LABUHA, Malutline — Warga Desa Lelei, Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, menyampaikan surat terbuka kepada Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, S.Pd.I., M.I.Kom, terkait dugaan ketidakefektifan penggunaan Dana Desa dan lambannya penanganan kerusakan jalan akibat abrasi di wilayah mereka.

Dalam surat terbuka yang ditandatangani oleh warga yang mengatasnamakan diri sebagai “Anak Pesisir Lelei,” disampaikan bahwa kondisi jalan utama desa telah mengalami kerusakan cukup parah selama berbulan-bulan, namun tidak ada langkah perbaikan maupun tindak lanjut dari pemerintah desa.

“Sudah beberapa bulan jalan kami rusak parah karena abrasi, tapi tidak ada tindakan nyata dari pemerintah desa. Beberapa waktu lalu mereka hanya menanam cabang pohon mangrove, tapi cara itu sangat tidak efektif dan tidak masuk akal, apalagi dengan anggaran desa yang katanya besar,” tulis warga dalam surat tersebut.

Warga menilai, langkah penanaman mangrove tanpa perencanaan matang tersebut tidak sebanding dengan besarnya anggaran Dana Desa yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut, warga juga menyoroti lemahnya respon pemerintah desa terhadap persoalan publik. “Mereka hanya datang melihat kerusakan jalan, lalu pergi begitu saja, tanpa ada inisiatif untuk memperbaikinya,” ungkap isi surat tersebut.

Dalam surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Bupati Halmahera Selatan, warga Lelei meminta agar pemerintah kabupaten melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pemerintah desa, khususnya dalam pengelolaan Dana Desa dan perencanaan pembangunan.

Selain itu, warga juga menyampaikan saran agar ke depan calon kepala desa, sekretaris desa, dan bendahara desa merupakan figur yang berpendidikan dan berkompeten, minimal berstatus sarjana, agar memahami tata kelola anggaran dan mampu merencanakan program yang tepat sasaran.

“Jika pemerintah desa tetap seperti ini, kami khawatir sepuluh tahun ke depan Desa Lelei akan semakin tertinggal. Padahal negeri yang maju berawal dari desa yang kuat,” tulis warga dengan nada keprihatinan.

Surat terbuka ini diakhiri dengan permohonan kepada Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba untuk turun langsung melihat kondisi di lapangan serta menindaklanjuti persoalan yang telah lama dikeluhkan warga.

“Kami percaya, di bawah kepemimpinan Bupati Bassam Kasuba yang dikenal peduli dan komunikatif, aspirasi masyarakat kecil seperti kami akan mendapat perhatian,” tutup surat tersebut penuh harap.(Red)

LABUHA, Malutline — Innalillahi Wainnailaihi Roji’un…Kullu nafsin dzaikatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.

Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Halmahera Selatan. Telah berpulang ke rahmatullah Ibu Rahmania W. Jabid, guru tercinta SD Negeri 16 Halmahera Selatan, Desa Saketa, Kecamatan Gane Barat, pada Senin, 6 Oktober 2025, pukul 08.00 WIT.

Kepergian almarhumah membawa duka mendalam bagi keluarga besar SDN 16 Halsel, para murid, rekan guru, serta seluruh masyarakat Saketa yang mengenalnya sebagai sosok pendidik yang sabar, penuh kasih, dan berdedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan.

“Atas nama keluarga besar SDN 16 Halsel, kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya almarhumah Ibu Rahmania. Kami juga memohon maaf kepada orang tua atau wali murid apabila selama beliau mendidik anak-anak terdapat perkataan atau sikap yang kurang berkenan. Mohon kiranya dimaafkan, sebab almarhumah hanyalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf,” demikian pernyataan tertulis pihak sekolah dengan penuh haru.

Semasa hidupnya, almarhumah dikenal sebagai guru yang berdedikasi, lembut dalam tutur kata, dan tulus dalam mengabdi. Beliau selalu hadir di tengah murid-muridnya dengan senyum dan kesabaran, menjadi sosok ibu kedua di sekolah yang senantiasa menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan cinta belajar.

Kini, kepergiannya meninggalkan kenangan dan teladan yang abadi bagi dunia pendidikan di Halmahera Selatan. Doa dan air mata mengiringi kepergian sang pahlawan tanpa tanda jasa ini.

Selamat jalan, Ibu Rahmania W. Jabid.
Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan pengabdianmu, melapangkan jalanmu menuju surga-Nya, serta memberikan kekuatan dan keikhlasan bagi keluarga yang ditinggalkan.(Red)