HALSEL, Malutline.com Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan, Asia Hasjim, menegaskan bahwa apabila pembangunan Puskesmas Laluin di Kecamatan Kayoa Selatan terbukti tidak sesuai dengan ketentuan konstruksi bangunan dan penggunaan material yang tidak memenuhi standar teknis, maka bangunan tersebut akan dibongkar.

Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Asia Hasjim saat di konfirmasi waratawan di ruang kerjanya Senin (27/10/2025) menyusul munculnya temuan di lapangan terkait penggunaan batu rijang dan pasir putih dalam pembangunan gedung puskesmas yang menelan anggaran miliaran rupiah tersebut.

Menurut Asia Hasyim, secara teknis pelaksanana di lapangan ada tin pengawas dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan selalu dilaksanakan rapat evaluasi progres pekerjaan dn permasalahan yg di hadapi dilapangan .. yang pada intinya memastikan teknik pelaksanan dan progres pekerjaan sesuai dengan kontrak yg telah disepakati bersama ..rapat evaluasi kerja tidak pernah menerima laporan terkait penggunaan material yang tidak sesuai standar.

“Dalam setiap rapat evaluasi, tidak pernah disampaikan adanya penggunaan material seperti batu rijang atau pasir yang tidak sesuai standar, batu cadas yg di gunakan sudah melalui pemeriksaan di Lab unkhair dan memenuhi standar hasil uji kualitas dari tehnik unkhair Ternate. Jika memang terbukti ada pelanggaran teknis, maka kami akan perintahkan untuk dibongkar,” tegas Asia Hasyim.

Ia menjelaskan, pasir yang seharusnya digunakan dalam proyek tersebut adalah pasir yang diangkut dari Pulau Makian, karena telah melalui uji kualitas dan dinyatakan memenuhi standar material konstruksi bangunan. Namun, kontraktor justru menggunakan pasir putih lokal yang dinilai tidak sesuai ketentuan.

Selain itu, penggunaan batu rijang juga menjadi sorotan. Menurut Kadinkes, meski batu tersebut merupakan batu gunung, namun secara teknis dan ketentuan bangunan besar, batu rijang tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai bahan material konstruksi karena kualitasnya tidak memenuhi standar kekuatan struktur.

“Kami mendapat informasi bahwa batu yang digunakan adalah batu rijang. Mungkin secara teknis bisa digunakan dalam skala tertentu, tapi untuk bangunan besar itu tidak diperbolehkan. Jika terbukti digunakan untuk struktur utama, maka konsekuensinya harus dibongkar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asia Hasyim menambahkan bahwa pihak pengawas proyek diyakini memahami sepenuhnya tanggung jawab teknis mereka dan tidak mungkin menjerumuskan diri pada persoalan hukum yang fatal dengan membiarkan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi.

“Saya yakin pengawas tidak mungkin menjerumuskan dirinya ke persoalan yang sangat fatal. Mereka pasti tahu konsekuensi hukum dan teknis jika ada pelanggaran dalam pekerjaan proyek pemerintah,” kata Kadinkes menegaskan.

Terkait dengan polemik penggunaan batu rijang, Asia Hasyim juga mengungkapkan bahwa material tersebut pernah diuji secara laboratorium oleh tim teknik Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Hasil uji tersebut menyebutkan bahwa batu rijang dapat digunakan jika memenuhi standar kekuatan tertentu.

“Batu rijang itu sudah diuji secara teknis oleh tim teknik Unkhair Ternate. Jika hasil uji menunjukkan batu tersebut memenuhi standar kekuatan, maka bisa digunakan oleh kontraktor,” jelasnya.

Namun, pernyataan ini menimbulkan perdebatan di kalangan ahli bangunan lainnya. Seorang insinyur bangunan (Ir) yang enggan disebutkan namanya mengatakan, hasil uji batu rijang oleh pihak Unkhair tersebut patut dipertanyakan secara ilmiah.

“Kalau hasil uji dari teknik Unkhair menyatakan batu rijang bisa digunakan untuk bangunan besar, itu perlu ditinjau ulang. Secara disiplin ilmu teknik, batu rijang termasuk material getas yang tidak bisa menahan tekanan dan getaran tinggi. Jadi, hasil uji itu sangat diragukan validitasnya,” tegasnya.

Ahli tersebut juga menilai bahwa hasil uji dari pihak universitas seharusnya tidak dijadikan dasar tunggal untuk menentukan kelayakan material konstruksi proyek pemerintah yang bernilai besar.

“Uji material memang penting, tapi kalau hasilnya menyimpang dari prinsip dasar ilmu konstruksi, maka hasil tersebut tidak bisa dijadikan acuan utama. Apalagi untuk proyek fasilitas publik seperti puskesmas,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu, pihak kontraktor pelaksana, Haji Asbar, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa material batu yang digunakan di proyek tersebut adalah batu putih. Ia mengakui penggunaan material itu dilakukan di lapangan meski anggaran pengadaan material mencapai sekitar Rp700 juta.

“Memang benar material batu yang digunakan itu batu putih. Padahal anggaran untuk pengadaan material dalam proyek ini nilainya cukup fantastis, mencapai sekitar Rp700 juta,” ungkap Haji Asbar saat dikonfirmasi wartawan.

Namun pernyataan Kadis Kesehatan yang menyebutkan bahwa sebagian bangunan sudah dibongkar, dibantah oleh warga Kecamatan Kayoa Selatan. Warga menyebut bahwa tidak ada pembongkaran sama sekali, justru pihak kontraktor menutupi bagian pondasi dengan plesteran semen untuk menyamarkan penggunaan material yang tidak sesuai.

“Kalau mau bongkar, harus bongkar semua. Karena batu yang digunakan itu bukan cuma di teras, tapi di seluruh bangunan. Itu semua batu putih, atau yang disebut juga batu rijang. Tidak ada pembongkaran sama sekali, malah kami lihat kontraktor suruh pekerja plester fondasi supaya tidak kelihatan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga juga menilai bahwa pengawasan terhadap proyek tersebut lemah, dan berharap pemerintah daerah serta aparat penegak hukum dapat turun langsung memeriksa kualitas pembangunan puskesmas tersebut.

“Bangunan ini uang negara, dan kalau kualitasnya diragukan, ya harus diperiksa. Jangan cuma dibiarkan begitu saja,” tegas warga tersebut.

Dinas Kesehatan Halmahera Selatan memastikan akan memperketat pengawasan mutu dan kelayakan konstruksi, agar bangunan Puskesmas Laluin benar-benar aman, kuat, dan layak digunakan untuk pelayanan kesehatan masyarakat di Kecamatan Kayoa Selatan.

Sementara itu ketua PPK Pembangunan Puskesmas laluin kecamatan kayoa selatan hingga berita ini di publish belum dapat di konfirmasi dan masih dalam upaya konfirmasi.(Red

LABUHA, Malutline.com Momentum Hari Sumpah Pemuda tahun ini menjadi hari penuh kebanggaan bagi masyarakat Halmahera Selatan, khususnya Kecamatan Kayoa. Dua siswi berprestasi asal daerah tersebut, Maya Dira Suriandi dan Nursyifa Alhaddad, menerima penghargaan dan apresiasi dari Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, masing-masing sebesar Rp 25 juta atas prestasi mereka sebagai delegasi JIES (Japan Intercultural Exchange and Summit).

Penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh Bupati Halsel Hasan Ali Bassam kasuba melalui anggaran pada Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan yang dipimpin oleh Siti Khodijah, M.Pd, sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah daerah terhadap generasi muda yang membawa nama baik daerah di tingkat internasional.

Bupati Bassam Kasuba dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa apresiasi ini bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga dorongan moral agar para pelajar terus berprestasi dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya di Halmahera Selatan.

“Prestasi ini adalah bukti bahwa anak-anak Halsel mampu bersaing di tingkat dunia. Pemerintah daerah akan selalu hadir memberi dukungan bagi generasi muda yang mengharumkan nama daerah,” ujar Bassam Kasuba.

Kedua siswi penerima apresiasi, Maya Dira Suriandi-putri dari pasangan Suriandi Sabtu dan Gamar Anwar, S.Pd, serta Nursyifa Alhaddad — putri dari Saleh Alhaddad dan Bidahati Anwar, menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat Kayoa.

Sebagai orang tua, mereka menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan di Bawak kepemimpinan Hasan Ali Bassam kasuba dan wakil Bupati Halsel Helmi Umar Muksin atas perhatian dan penghargaan yang diberikan.

“Kami orang tua sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati Halsel Hasan Ali Bassam kasuba bersama Ibu Kadis Pendidikan Halsel Siti Khodijah MPd atas apresiasi dan penghargaan ini. Ini menjadi penyemangat bagi anak-anak kami dan seluruh pelajar Halsel untuk terus berprestasi,” ungkap salah satu orang tua dengan penuh haru.

Sementara itu, Kadis Pendidikan Siti Khodijah, M.Pd, menambahkan bahwa pemberian apresiasi ini merupakan bentuk komitmen Dinas Pendidikan dalam mendukung peningkatan kualitas dan semangat belajar pelajar Halsel di berbagai bidang, termasuk di level internasional.

“Kami ingin menumbuhkan generasi muda yang percaya diri, kreatif, dan memiliki wawasan global. Karena masa depan Halsel ada di tangan mereka,” ujarnya.

Di momen Sumpah Pemuda yang penuh makna ini, langkah Maya Dira dan Nursyifa menjadi simbol semangat baru pemuda-pemudi Halmahera Selatan — semangat untuk terus belajar, berprestasi, dan membawa nama daerah ke panggung dunia. (Red)

Ternate, Malutline.com Langit sore di Pulau Maitara perlahan berubah dari jingga lembut menjadi keemasan. Pulau kecil di antara Ternate dan Tidore itu tak hanya dikenal karena pesonanya, tetapi juga karena menjadi gambar ikonik pada uang seribu rupiah emisi tahun 2000. Di tengah semilir angin laut yang menenangkan, Hj. Eka Dahliana Usman, istri mendiang Bupati Halmahera Selatan Hi. Usman Sidik, tampak menikmati suasana bersama keluarga tercinta.

Sore itu, langkah Hj. Eka menyusuri tepian pantai Maitara dengan penuh ketenangan. Pandangannya sesekali terhenti pada hamparan laut biru yang berkilau diterpa cahaya mentari.

“Keindahan alam seperti ini adalah cara Allah menunjukkan kebesaran-Nya,” ujarnya lembut. “Setiap jengkalnya mengajarkan kita untuk selalu bersyukur.”

Pulau Maitara memang bukan sekadar destinasi wisata, ia adalah lukisan hidup ciptaan Tuhan yang menyimpan keheningan dan kedamaian yang Dikelilingi laut jernih dan panorama Gunung Tidore di kejauhan, setiap pengunjung seakan diajak untuk merenung dan mensyukuri karunia alam Maluku Utara.

Bagi Hj. Eka, perjalanan sore itu bukan sekadar rekreasi keluarga, melainkan refleksi spiritual dan rasa syukur atas kehidupan, Dalam setiap embusan angin, ia menemukan ketenangan; dalam setiap debur ombak, ia mengenang kebesaran Sang Pencipta.

“Alam adalah guru terbaik,” ujarnya sambil tersenyum. “Ia mengajarkan tentang kesabaran, ketulusan, dan rasa syukur yang tak pernah habis.”

Di sela menikmati panorama, Hj. Eka mengenang sosok almarhum suaminya, Hi. Usman Sidik, yang semasa hidup dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat dan sangat mencintai keindahan daerahnya.

“Almarhum selalu mengatakan, ‘Keindahan alam ini harus dijaga, karena di dalamnya ada kehidupan dan kebahagiaan rakyat.’ Setiap kali melihat laut dan langit yang tenang, saya selalu teringat pesan itu,” tuturnya dengan nada haru.

Meski Maitara berada di wilayah berbeda, keindahannya menjadi inspirasi bagi Hj. Eka untuk terus menumbuhkan semangat cinta alam dan wisata di Maluku Utara, terutama di kampung halamannya, Halmahera Selatan.

“Insya Allah, saya akan melanjutkan cita-cita almarhum untuk memajukan pariwisata Halmahera Selatan,” ujarnya tegas namun lembut. “Daerah kita punya potensi luar biasa — dari pantai, pulau, hingga budaya masyarakatnya. Meningkatkan wisata berarti meningkatkan kesejahteraan rakyat.”

Keindahan senja di Pulau Maitara pun menjadi simbol keteguhan dan harapan — bahwa di balik kehilangan, selalu ada cahaya baru yang memantulkan kekuatan, cinta, dan semangat untuk terus berkarya bagi daerah tercinta.

“Setiap sudut alam adalah lukisan tanpa kata. Di setiap pelukan alam, kita menemukan keindahan sejati,” tulis Hj. Eka dalam unggahan pribadinya dengan tagar #FamilyTime #HappyFamily #MaitaraIsland #Ternate_MalukuUtara #WonderfulIndonesia. (Red)

LABUHA, Malutline– Dua orang jamaah haji asal kecamatan kayoa selatan Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, mengeluhkan adanya pemotongan dana sebesar Rp15 juta per orang yang dilakukan oleh pihak Bank Muamalat. Pemotongan tersebut disebut-sebut dengan alasan “asuransi”, namun para nasabah mengaku tidak pernah mendapat penjelasan resmi mengenai dasar atau sumber pemotongan tersebut.

Dua jamaah haji dimaksud yakni Ita Sidik dan Taher Umar, keduanya merupakan warga Kecamatan Kayoa, Halmahera Selatan. Berdasarkan keterangan yang diterima media ini, keduanya mengetahui adanya potongan tersebut setelah proses keberangkatan haji tahun 2025 selesai.

“Kami kaget karena dana yang seharusnya kembali ke rekening haji kami berkurang Rp15 juta. Katanya untuk asuransi, tapi kami tidak tahu asuransi apa, dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya,” ujar salah satu jamaah yang enggan disebutkan namanya secara lengkap, Minggu (26/10/2025).

Lebih lanjut dijelaskan, pihak bank sempat melakukan pengembalian sebagian dana sebesar Rp10 juta per orang, sementara Rp5 juta lainnya tidak dikembalikan dengan alasan yang belum jelas.

“Kami sudah konfirmasi ke pihak bank, tapi katanya hanya bisa kembalikan sepuluh juta. Sisa lima juta tidak bisa karena sudah masuk asuransi. Tapi kami tidak pernah ikut asuransi apa pun,” tambahnya.

Para jamaah berharap agar pihak Bank Muamalat Cabang Halmahera Selatan memberikan kejelasan dan transparansi terkait pemotongan dana tersebut, sebab uang itu berasal dari tabungan haji yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun.

Hingga berita ini dipublikasikan, pihak Bank Muamalat Halmahera Selatan belum dapat dikonfirmasi untuk dimintai keterangan resmi terkait dugaan pemotongan dana jamaah haji tersebut. Upaya konfirmasi melalui telepon dan pesan singkat ke pihak manajemen belum mendapat tanggapan. (Red)

LABUHA,Malutline- Tokoh masyarakat Desa Wayamiga, Kecamatan Bacan Timur, Dahlan Matly, memberikan apresiasi dan rasa hormat yang tinggi kepada Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Halmahera Selatan, Ramli Manui, atas kepedulian dan keaktifannya dalam kegiatan sosial keagamaan di desa tersebut.

Apresiasi tersebut disampaikan Dahlan usai kegiatan kerja bakti rutin di Masjid Riyadhusshalihin, Desa Wayamiga, Sabtu (25/10/2025). Dalam kegiatan tersebut, Kadishub Halsel tampak hadir dan ikut langsung bergotong-royong bersama masyarakat, membersihkan area masjid, serta membantu persiapan sarana ibadah.

Menurut Dahlan, kehadiran Ramli Manui dalam setiap kegiatan bakti masyarakat Wayamiga bukan hanya menunjukkan kedekatan dengan warga, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi pejabat daerah lainnya untuk tetap rendah hati dan peduli terhadap kegiatan keagamaan.

“Dengan kehadiran Bapak Kadishub di setiap kegiatan bakti masjid hari Sabtu, kami merasa bangga dan termotivasi. Beliau tidak hanya hadir, tapi ikut bekerja bersama kami. Insya Allah, kehadiran beliau menambah semangat kami dalam membangun Rumah Allah,” tutur Dahlan penuh haru.

Ia menambahkan, masyarakat Wayamiga sangat berterima kasih atas dukungan dan sumbangan yang diberikan oleh Kadishub Halsel, baik dalam bentuk tenaga, waktu, maupun bantuan materiil untuk kelancaran kegiatan di Masjid Riyadhusshalihin.

“Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan mempermudah segala urusan Bapak Ramli Manui dalam menjalankan tugas membangun daerah ini,” ucap Dahlan.

Sementara itu, Kadishub Halmahera Selatan Ramli Manui saat dimintai tanggapannya menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan bakti sosial di masjid adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai bagian dari masyarakat Halsel.

“Saya datang bukan sebagai pejabat, tapi sebagai saudara dan bagian dari masyarakat Wayamiga. Masjid adalah rumah kita bersama. Ketika kita merawatnya, kita sedang menjaga hubungan dengan Allah dan dengan sesama,” ujar Ramli.

Ia menegaskan, nilai gotong-royong dan kebersamaan merupakan fondasi penting dalam membangun daerah, baik secara fisik maupun spiritual. Pemerintah, kata Ramli, tidak boleh jauh dari masyarakat, sebab pembangunan sejati dimulai dari kebersamaan di akar rumput.

“Saya percaya, kemajuan Halsel tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh kuatnya semangat kebersamaan masyarakat. Kegiatan seperti ini sederhana, tapi maknanya besar — karena dari sinilah rasa persaudaraan tumbuh,” ungkapnya.

Ramli juga mengapresiasi semangat warga Wayamiga yang selalu kompak dalam menjaga masjid dan lingkungan sekitar. Ia berharap kegiatan serupa terus dijaga agar menjadi tradisi baik bagi generasi muda.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Wayamiga atas sambutan hangatnya. Mari kita terus jaga kebersamaan dan semangat gotong-royong, sebab dari sinilah kekuatan besar Halsel berasal,” tutupnya.

Kegiatan kerja bakti di Masjid Riyadhusshalihin merupakan agenda rutin masyarakat setiap akhir pekan, melibatkan tokoh agama, pemuda, dan perangkat desa. Selain menjaga kebersihan lingkungan masjid, kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. (Red)