LABUHA, Malutline Halmahera Selatan — Bagi masyarakat Bacan dan sekitarnya yang sedang membangun atau merenovasi rumah, Percetakan Batu Bata / Tela Pres Siyong Ong yang berlokasi di Jalan Baru, Desa Tomori, Kecamatan Bacan, hadir sebagai solusi bahan bangunan berkualitas dengan harga terjangkau.
Percetakan ini dikenal konsisten menjaga mutu hasil cetakan. Dengan sistem produksi terjadwal dan tenaga kerja berpengalaman, setiap tela pres yang dihasilkan memiliki bentuk rapi, padat, dan siap pakai. Tidak heran jika permintaan terus meningkat sejak usaha ini berjalan beberapa bulan terakhir.
Pemilik usaha, Siyong Ong, menyampaikan bahwa selain fokus pada kualitas, pihaknya juga memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan. Setiap hari, percetakan ini mengeluarkan biaya upah tenaga kerja antara Rp500 ribu hingga Rp750 ribu, sebagai bentuk komitmen menjaga kinerja dan kualitas produksi.
“Kami ingin pelanggan puas. Karena itu, untuk pembelian minimal 50 buah tela di wilayah Labuha dan Mandaong, kami antar langsung ke tempat,” ujar Siyong.
Soal harga, Percetakan Siyong Ong menawarkan harga bersahabat, yakni Rp2.000 per buah, sudah termasuk layanan antar. Hingga kini, belum pernah ada keluhan dari pelanggan terkait harga maupun kualitas hasil cetakan.
“Kami bersyukur, sampai saat ini tidak ada komplain. Itu artinya pelanggan merasa cocok dengan harga dan kualitas yang kami berikan,” tambahnya.
Dengan harga terjangkau, kualitas terjamin, serta layanan antar langsung ke lokasi, Percetakan Batu Bata / Tela Pres Siyong Ong menjadi pilihan tepat bagi masyarakat yang membutuhkan bahan bangunan tanpa ribet.
Bagi calon pembeli yang membutuhkan tela dalam jumlah besar, disarankan melakukan pemesanan lebih awal agar jadwal produksi dan pengantaran dapat disesuaikan.
Alamat Jalan Baru, Desa Tomori, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan (red)


Sejak beroperasi sekitar empat bulan terakhir, permintaan batu bata dan tela pres dari percetakan ini terus meningkat. Hampir seluruh hasil produksi langsung keluar untuk pengantaran dan tidak pernah mengendap lebih dari tiga hingga empat hari di lokasi produksi. Hal ini menjadi indikator tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas produk yang dihasilkan.
Saat ditemukan, korban dalam posisi telentang, tidak mengenakan baju dan hanya menggunakan celana pendek berwarna biru dongker. Pada tubuh korban terlihat bekas luka gigitan di bagian lutut kanan, yang menguatkan dugaan bahwa korban merupakan anak yang sebelumnya diterkam buaya.

