HALSEL, Malutline— Harita Nickel menyampaikan ucapan Selamat Hari Natal 25 Desember 2025 dan Tahun Baru 1 Januari 2026 kepada seluruh umat Kristiani serta masyarakat pada umumnya.

Dalam momentum perayaan Natal dan Tahun Baru, Harita Nickel menegaskan komitmennya untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan persaudaraan antarumat manusia. Perayaan ini diharapkan menjadi sarana untuk mempererat keakraban, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan semangat saling menghargai dan menjaga satu sama lain.

Natal merupakan hari raya besar umat Kristiani yang memperingati kelahiran Yesus Kristus, sebagai simbol kasih, pengharapan, dan keselamatan bagi umat manusia. Sementara itu, Tahun Baru menjadi momen refleksi dan harapan baru untuk meninggalkan masa lalu serta menyongsong masa depan dengan semangat yang lebih baik.

Kedua perayaan ini, meski memiliki makna yang berbeda, sering dirayakan secara berdekatan dan menjadi waktu yang tepat bagi banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga, mempererat tali persaudaraan, serta memperkuat nilai kemanusiaan.

Harita Nickel berharap semangat Natal dan Tahun Baru dapat menjadi inspirasi bagi seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga kerukunan, toleransi, dan kedamaian, demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan saling menghormati sebagai sesama umat manusia.
(red)

LABUHA, Halmahera Selatan — Pasien rawat inap Gedung Bedah RSUD Labuha menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba serta Direktur RSUD Labuha dr. Titin, atas respons cepat dan tegas menindaklanjuti keluhan pasien terkait privasi ruang perawatan Bedah.

Keluhan tersebut disampaikan oleh pasien pada Rabu, (24/12/ 2025) menyangkut kondisi ruang rawat inap di Gedung Bedah RSUD Labuha yang sebelumnya menggabungkan pasien laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan tanpa pembatas. Kondisi ini dinilai mengganggu kenyamanan, terutama bagi pasien perempuan saat mengganti pakaian maupun menjalani perawatan medis.

Menanggapi laporan tersebut, Bupati Halmahera Selatan bersama manajemen RSUD Labuha bergerak cepat. Pembatas berupa tirai (sekat) langsung dipasang di setiap ruang rawat inap guna memisahkan pasien laki-laki dan perempuan.

Langkah cepat ini disambut positif oleh para pasien dan keluarga. Mereka menilai kebijakan tersebut sangat membantu menjaga privasi, kenyamanan, serta martabat pasien, khususnya pasien perempuan, sehingga dapat menjalani perawatan dengan lebih tenang dan manusiawi.

“Sekarang kami sudah merasa lebih nyaman. Privasi pasien perempuan sudah terjaga, terutama saat mengganti pakaian dan menjalani perawatan,” ungkap salah satu pasien.

Selain itu, kebijakan ini dinilai sejalan dengan norma agama dan adat istiadat masyarakat Halmahera Selatan, yang dikenal sebagai wilayah Kesultanan dengan nilai budaya dan etika yang masih dijunjung tinggi.

Pasien berharap, ke depan RSUD Labuha terus meningkatkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya fokus pada tindakan medis, tetapi juga memperhatikan hak, kenyamanan, dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat.

Respons cepat pemerintah daerah dan pihak rumah sakit ini menjadi bukti nyata komitmen dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kemanusiaan dan kepentingan masyarakat Halmahera Selatan. (Red)

TERNATE, Malutline— Suasana dini hari di Kelurahan Ngade, Kecamatan Ternate Selatan, mendadak berubah mencekam. Samsudin Sidik (50), seorang warga Desa Orimakurunga kecamatan kayoa selatan yang berdomisili di nde kecamatan Ternate Selatan kota Ternate, nyaris kehilangan tangan kirinya setelah dibacok secara brutal oleh pria mabuk, Selasa (23/12/2025) sekitar pukul 03.00 WIT.

Insiden berdarah itu bermula ketika korban menegur sekelompok pria yang tengah berpesta minuman keras tepat di depan rumahnya, Teguran tersebut dilakukan lantaran korban merasa terganggu, terlebih anaknya sedang dalam kondisi sakit dan membutuhkan ketenangan.
Alih-alih mengindahkan teguran, kelompok tersebut justru kembali mendatangi lokasi beberapa saat kemudian. Adu mulut pun tak terhindarkan antara korban dan salah satu pelaku berinisial AM alias Adam (35), yang saat itu berada dalam pengaruh alkohol.

Dalam kondisi emosi memuncak, korban sempat menampar pelaku dan kembali meminta agar mereka segera pergi. Namun pelaku yang tersulut amarah justru bertindak nekat. Ia mengambil sebuah gergaji yang berada tidak jauh dari lokasi dan secara membabi buta menebas korban.

Korban mengalami luka parah pada tangan kiri saat berusaha melindungi bagian kepala. Akibat serangan tersebut, dua tulang telapak tangan (metacarpal) serta tulang ulna korban dilaporkan putus.
“Korban saat ini masih dirawat intensif di IGD RSUD dr. Chasan Boesoerie Ternate,” ungkap Baim (38), keluarga korban.
Pihak keluarga mendesak aparat penegak hukum agar memproses pelaku secara tegas dan transparan. “Kami berharap kasus ini diusut sampai tuntas agar menjadi efek jera,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Ternate Selatan, Ipda Fatmawati Sukur, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyampaikan bahwa pelaku utama telah diamankan tak lama setelah laporan diterima.

“Pelaku sudah kami amankan dan saat ini menjalani proses hukum,” tegasnya.
Diketahui, korban Dino Sidik merupakan adik kandung almarhum mantan Bupati Halmahera Selatan, Hi. Usman Sidik. Sementara pelaku diketahui bernama Adam Melmanbessy, kelahiran Ternate 14 Februari 1990, berusia 35 tahun, berprofesi sebagai wiraswasta dengan alamat Desa amasing kota Utara kecamatan Bacan kabupaten Halmahera Selatan.

Kasus ini juga diduga melibatkan sejumlah orang lain yang berada di lokasi kejadian. Namun hingga kini, polisi masih melakukan pengembangan dan pendalaman, sementara pelaku lain belum berhasil diamankan.

Peristiwa ini kembali menegaskan betapa konsumsi minuman keras kerap menjadi pemicu utama tindak kekerasan yang meresahkan masyarakat serta mengancam keamanan dan ketertiban umum. (Red)

HALSEL, Malutline.com Seorang wanita pemandu lagu (LC) berinisial NR resmi melaporkan pria bernama Rano ke Polres Halmahera Selatan atas dugaan kekerasan dan pelecehan seksual yang dialaminya di Cafe The Voice, Desa Marabose, Kecamatan Bacan.

Laporan tersebut tercatat dengan Nomor Polisi: 178/XXII/2025/SPKT Polres Halmahera Selatan, terkait peristiwa yang terjadi pada Selasa (23/12/2025) sekitar pukul 02.00 WIT.

NR menuturkan, insiden bermula saat dirinya duduk bersama terlapor sambil bernyanyi. Situasi awalnya berjalan normal hingga keduanya berdiri dan berjoget. Namun, suasana berubah ketika Rano diduga mulai bertindak agresif dan mengintimidasi korban.

“Kami duduk bernyanyi, lalu berdiri dan berjoget. Tiba-tiba dia mencoba membuka pakaian yang saya pakai. Saya menolak, tapi dia langsung meremas payudara saya secara paksa,” ujar NR dengan suara bergetar.

Korban mengaku, meski dirinya bekerja sebagai pemandu lagu yang bertugas menemani tamu bernyanyi, tindakan kekerasan seksual tetap tidak bisa ditoleransi.

“Kami ini bekerja mencari nafkah. Siapa saja yang mau ditemani bernyanyi kami layani, tapi kalau sudah melakukan kekerasan, kami tidak terima,” tuturnya sambil menangis.

Akibat peristiwa tersebut, NR akhirnya melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian. Ia juga menyebut telah menjalani visum sebagai bagian dari proses hukum “Saya sudah lapor ke Polres. Hasil visum juga menunjukkan ada bekas cakaran di payudara saya,” jelasnya.

Sementara itu, Rano, saat dikonfirmasi media ini di sebuah warung kopi, membantah tudingan tersebut. Ia mengakui sempat memberikan saweran, namun menolak keras tuduhan melakukan pelecehan seksual, “Saya memang sawer, tapi tidak pernah melakukan hal seperti meremas payudara,” singkatnya.

Hingga berita ini diterbitkan, kasus tersebut masih dalam penanganan Polres Halmahera Selatan untuk proses penyelidikan lebih lanjut. (Red)

LABUHA, Malutline— Keluarga pasien perempuan yang menjalani tindakan operasi di RSUD Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali mengeluhkan buruknya tata kelola pelayanan rumah sakit pada rawat inap ruang Bedah.

Keluhan tersebut mengarah pada tidak tersedianya pembatas kain atau gorden di setiap tempat tidur pasien, sehingga pasien perempuan harus dirawat dan dipersiapkan operasi dan di rawat pasca operasi bersama pasien laki-laki dalam satu ruangan tanpa sekat apa pun.

Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan, terutama ketika pasien perempuan harus menjalani pergantian kain dan persiapan tindakan operasi, Tanpa adanya gorden pembatas, keluarga pasien merasa sangat kesulitan menjaga privasi dan aurat pasien saat kain pasien di ganti.

“Di setiap tempat tidur pasien tidak ada gorden pembatas sama sekali Saat kain pasien diganti, pasien perempuan bisa terlihat oleh pasien laki-laki Ini sangat tidak pantas,” ujar salah satu anggota keluarga pasien.

Lebih lanjut, keluarga menyebutkan bahwa pada saat setelah di lakukan tindakan operasi, sebagian besar pakaian pasien dilepas dan hanya ditutupi kain tipis, sementara ruangan inap pasien operasi tetap terbuka dan bercampur, Situasi tersebut dinilai bertentangan dengan standar etika pelayanan kesehatan serta norma adat dan budaya masyarakat Halmahera Selatan yang menjunjung tinggi nilai kesopanan.

Keluarga pasien juga mengungkapkan bahwa ketika keberatan disampaikan kepada pihak rumah sakit, mereka justru mendapat jawaban bahwa kondisi tersebut terjadi karena pasien berstatus pasien non-kelas, sehingga harus dirawat bersama pasien lain tanpa pemisahan jenis kelamin.

“Ini bukan soal kelas atau tidak kelas. Torang pasien juga tidak mau digabung, tapi apa boleh buat. Ini soal martabat manusia dan privasi pasien,” tegas keluarga.

Mengingat Halmahera Selatan dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi adat, budaya, dan nilai keagamaan—serta dipimpin oleh Bupati dengan latar belakang ustaz—keluarga pasien mendesak Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam kasuba untuk segera mengevaluasi dan mencopot Direktur RSUD Labuha, yang dinilai tidak mampu mengatur manajemen rumah sakit serta mengabaikan hak dasar pasien, khususnya terkait privasi dan kenyamanan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak RSUD Labuha belum memberikan klarifikasi resmi. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan pembenahan serius agar pelayanan kesehatan di RSUD Labuha berjalan sesuai standar medis, etika profesi, serta nilai-nilai budaya lokal. (Sadi)