LABUHA, Malutline – Pengurus Asosiasi Gamestone Kolano Bacan (AGKB) periode 2026–2031 resmi dikukuhkan dalam sebuah prosesi adat dan kelembagaan yang berlangsung khidmat di Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Jumat (30/1/2026). Pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam upaya menjadikan batu Bacan sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat lokal.
Kegiatan pengukuhan mengusung semangat “Bacan Mendunia, Masyarakat Sejahtera, Budaya Terjaga”, dan dikukuhkan langsung oleh Jou Kolano Sultan Bacan, sebagai simbol legitimasi adat dan budaya.
Ketua Panitia Pengukuhan, Subhan Saleh, dalam laporannya menyampaikan bahwa pembentukan asosiasi ini bertujuan menyatukan para pelaku usaha batu Bacan dalam satu wadah resmi yang berorientasi pada pelestarian budaya, penguatan ekonomi, dan legalitas usaha.
“Batu Bacan bukan hanya komoditas, tetapi warisan budaya yang harus dikelola secara bermartabat agar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Subhan.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Gamestone Kolano Bacan, M. Husni Muslim, dalam sambutannya menegaskan bahwa batu Bacan merupakan batu mulia yang melalui proses panjang, mulai dari batu alam hingga menjadi batu super Bacan bernilai tinggi.
“Batu Bacan bukan sekadar batu. Ia melalui proses alam, proses tangan manusia, hingga menjadi bagian dari siklus ekonomi berkelanjutan yang menopang kehidupan masyarakat Bacan,” jelasnya.
Menurut Husni, keberadaan asosiasi diharapkan mampu menjaga kesinambungan ekonomi masyarakat, sekaligus mencegah eksploitasi yang merusak nilai budaya dan lingkungan.
Dalam sambutannya, Sultan Bacan menekankan pentingnya peran para pengusaha gamestone Bacan untuk berjiwa wirausaha sekaligus berlandaskan adat dan budaya. Ia menilai, pengelolaan batu Bacan harus dilakukan secara strategis agar mampu mengangkat citra Bacan di tingkat nasional hingga internasional.
“Batu Bacan adalah identitas. Cara mengelolanya harus beradab, berbudaya, dan berpikir jauh ke depan,” tegas Sultan Bacan.
Sultan juga mendorong agar Pemerintah Daerah memasukkan batu Bacan sebagai bagian utama dalam setiap festival dan event promosi daerah, sehingga dapat dikenal luas sebagai ikon budaya dan ekonomi Bacan.
Hal senada disampaikan Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, yang menegaskan bahwa batu Bacan memiliki keunikan dan ciri khas yang tidak dimiliki batu mulia lainnya. Selama ini, kata dia, batu Bacan dikelola oleh warga lokal dan telah menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Nilai historis, nilai adat, dan nilai ekonomi batu Bacan tidak bisa dibandingkan dengan batu lainnya. Karena itu, tata kelola, aturan adat, serta nilai budaya harus dijaga agar keberkahannya dirasakan bersama,” ujar Bassam.
Bupati juga menegaskan komitmen Pemerintah Daerah untuk fokus pada regulasi, penataan kawasan tambang, peta wilayah, serta jenis perizinan, guna memastikan aktivitas penambangan batu Bacan berjalan secara legal, tertib, dan berkelanjutan.
Pengukuhan pengurus Asosiasi Gamestone Kolano Bacan dilakukan melalui pembacaan Naskah Pengukuhan, diawali dengan pertanyaan kesediaan pengurus, dilanjutkan dengan pengukuhan resmi oleh Jou Kolano Sultan Bacan Muhamad Irsyad Maulana Syah.
Melalui pengukuhan ini, diharapkan Asosiasi Gamestone Kolano Bacan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dan lembaga adat dalam menjaga kelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, serta keberlanjutan batu Bacan sebagai warisan daerah yang mendunia. (Haji)



Untuk memastikan penyebab pasti kondisi tersebut, diperlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak dapat dilakukan di RSUD Labuha. Oleh karena itu, sampel darah pasien direncanakan akan dikirim ke rumah sakit rujukan di Manado atau Makassar.

Dalam sambutannya, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda berharap Rakornas Keuangan Daerah dapat menghadirkan kesederhanaan dan efektivitas dalam proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan hingga pengawasan anggaran daerah.
“Melalui pembahasan bersama antara pemerintah pusat dan daerah, kita berharap dukungan pendanaan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan prioritas pembangunan daerah,” tegas Abdillah.