LABUHA, Malutline – Masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan Kasat Reskrim Polres Halmahera Selatan Iptu Rizaldi Pasaribu S.ik.

Pelaku diketahui menghubungi warga melalui panggilan telepon maupun pesan WhatsApp dengan menggunakan foto profil aparat kepolisian lengkap dengan atribut dinas. Akun tersebut bahkan terdeteksi menggunakan WhatsApp Business untuk menambah kesan resmi dan meyakinkan calon korban.

Dalam aksinya, pelaku biasanya menyampaikan pesan bernada mendesak yang bertujuan memancing kepanikan, sehingga korban mengikuti arahan yang diberikan tanpa berpikir panjang, Tidak menutup kemungkinan, modus ini diarahkan untuk meminta data pribadi, uang, maupun informasi penting lainnya.

Masyarakat perlu memahami bahwa aparat kepolisian, termasuk Kasat Reskrim, tidak pernah melakukan komunikasi resmi melalui nomor pribadi yang tidak dapat diverifikasi, apalagi meminta uang atau data pribadi melalui telepon maupun chat.

Warga yang menerima telepon atau pesan WhatsApp dengan modus seperti ini diimbau untuk tidak menanggapi dan segera melakukan konfirmasi langsung ke Polres Halmahera Selatan atau kantor kepolisian terdekat.

Informasi ini diharapkan dapat disebarluaskan kepada keluarga dan kerabat sebagai langkah pencegahan, agar tidak ada warga yang menjadi korban penipuan dengan memanfaatkan nama baik institusi kepolisian. (Red)

TERNATE, Malutline – Ternate kembali diguncang kabar yang membuat warga resah. Sebuah unggahan di media sosial menyebutkan adanya temuan satu kantong berisi sejumlah kepala kucing yang dibuang di area belakang bandara. Informasi ini dengan cepat menyebar dan memicu beragam reaksi publik—mulai dari rasa jijik, marah, hingga kekhawatiran akan kemungkinan praktik-praktik tak lazim yang terjadi di sekitar lokasi tersebut.

Unggahan tersebut memperlihatkan kepanikan warga yang menemukan benda mencurigakan itu. Narasi yang menyertainya mempertanyakan, untuk apa daging kucing tersebut digunakan, sekaligus menyiratkan kekhawatiran bahwa wilayah Ternate kini menghadapi situasi yang semakin “rawan” dan tidak wajar.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait kebenaran temuan tersebut. Namun, jika informasi ini benar adanya, maka peristiwa tersebut bukan sekadar persoalan pembuangan bangkai hewan, melainkan indikasi adanya tindakan kekerasan terhadap hewan serta potensi pelanggaran hukum yang lebih luas.

Secara hukum, penyiksaan dan pembunuhan hewan tanpa alasan yang sah dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Selain itu, pembuangan bagian tubuh hewan secara sembarangan di ruang terbuka juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan ancaman kesehatan masyarakat. Bau menyengat, risiko penyebaran bakteri, hingga potensi penyakit zoonosis menjadi dampak nyata yang bisa muncul dari tindakan semacam ini.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Temuan seperti ini memunculkan spekulasi yang berkembang liar di tengah masyarakat: apakah daging kucing tersebut dikonsumsi, dijual secara ilegal, digunakan sebagai umpan, atau bahkan untuk praktik-praktik menyimpang lainnya. Meski spekulasi ini belum dapat dibuktikan, keresahan yang timbul menunjukkan bahwa rasa aman masyarakat sedang terusik.

Pengamat sosial menilai, kejadian semacam ini—benar atau tidak—tetap harus disikapi secara serius oleh pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Klarifikasi cepat, investigasi lapangan, serta penyampaian informasi yang transparan kepada publik menjadi langkah penting untuk mencegah kepanikan dan menghentikan peredaran isu liar yang bisa memperburuk situasi.

Warga di sekitar lokasi diharapkan tidak hanya berhenti pada unggahan media sosial, tetapi segera melaporkan temuan tersebut kepada RT/RW setempat, kelurahan, dinas terkait, maupun kepolisian agar dapat ditindaklanjuti secara resmi. Tanpa pelaporan yang jelas, peristiwa ini berpotensi menjadi sekadar isu viral tanpa penyelesaian yang konkret.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap aktivitas di ruang-ruang sepi kota perlu diperkuat. Area belakang bandara yang relatif jauh dari pemukiman padat bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan aktivitas ilegal yang luput dari perhatian.

Lebih jauh, kasus ini menyentuh sisi kemanusiaan yang mendasar. Perlakuan kejam terhadap hewan sering kali menjadi indikator lemahnya empati dan potensi munculnya perilaku menyimpang lain di tengah masyarakat. Karena itu, persoalan ini tidak bisa dipandang remeh atau dianggap sekadar “urusan hewan”.

Kini, publik menunggu langkah cepat dari pihak berwenang untuk memastikan fakta di balik temuan yang menghebohkan ini. Apakah benar terjadi praktik keji yang tersembunyi? Ataukah ada penjelasan lain yang lebih rasional di balik peristiwa tersebut?

Satu hal yang pasti, warga Ternate berharap kota ini tetap menjadi ruang hidup yang aman, bersih, dan manusiawi—bukan tempat berkembangnya praktik-praktik gelap yang mencederai rasa kemanusiaan dan ketertiban lingkungan. (Red)

LABUHA, Malutline— Isu dugaan keterlibatan tenaga kesehatan di Puskesmas Laluin, Kecamatan Kayoa Selatan, dalam aktivitas investasi digital bernama Snabbos menjadi perbincangan warga. Kepala Puskesmas (Kapus) Laluin, Ikra Mahmud, disebut-sebut ikut merekrut sejumlah tenaga kesehatan untuk bergabung dalam investasi tersebut.

Sejumlah sumber di masyarakat menduga, keterlibatan tersebut berdampak pada menurunnya fokus pelayanan di puskesmas, karena sebagian tenaga kesehatan lebih disibukkan dengan aktivitas terkait investasi tersebut dibanding tugas pokok pelayanan kesehatan.

“Beberapa petugas lebih banyak membahas investasi itu daripada urusan pelayanan, Ini yang membuat kami sebagai warga merasa pelayanan jadi kurang maksimal,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Dugaan ini juga dikaitkan dengan keluhan sebelumnya terkait ketersediaan obat yang kerap disebut habis serta pasien yang disebut tidak tertangani secara optimal Warga menilai, jika benar tenaga kesehatan terlibat aktif dalam aktivitas di luar tugasnya, maka hal tersebut berpotensi mengganggu pelayanan dasar kepada masyarakat.

Sebagaimana diketahui, Snabbos sendiri ramai diperbincangkan di berbagai daerah dan disebut-sebut sebagai platform investasi yang belum memiliki kejelasan legalitas.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Puskesmas Laluin maupun Kapus Ikra Mahmud masih diupayakan untuk dikonfirmasi guna memperoleh klarifikasi terkait dugaan tersebut. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan juga diharapkan dapat menindaklanjuti informasi ini dengan melakukan penelusuran langsung di lapangan.

Masyarakat berharap agar pelayanan kesehatan di Puskesmas Laluin tetap menjadi prioritas utama, serta tenaga kesehatan dapat menjalankan tugas sesuai tanggung jawab profesinya. (Red)

LABUHA, Malutline.com Sorotan masyarakat terhadap pelayanan di Puskesmas Laluin, Kecamatan Kayoa Selatan kabupaten Halmahera Selatan, kembali ditegaskan tidak berkaitan dengan kepentingan jabatan tertentu Warga menyatakan, kritik yang disampaikan murni berangkat dari keluhan atas mutu pelayanan kesehatan yang dirasakan di lapangan.

Muslim Jufri, warga Laluin, menegaskan bahwa dorongan evaluasi terhadap Kepala Puskesmas (Kapus) Laluin, Ikra Mahmud, bukan karena adanya kepentingan pihak lain yang ingin mengisi jabatan tersebut.

“Jadi kalau ada dorongan pencopotan kapus, itu bukan karena ada kepentingan jabatan untuk diisi oleh pihak lain. Ini murni karena keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan yang disuarakan menyangkut kebutuhan dasar masyarakat, seperti ketersediaan obat dan optimalnya pelayanan bagi pasien di wilayah kerja Puskesmas Kayoa Selatan, karena alasan obat habis dan tidak di lakukan pelayanan terhadap pasien ini bukan baru pertama kali di alami warga laluin namun juga pernah di alami salah seorang warga orimakurunga yang pernah muntah darah juga tidak di layani dengan alasan obat habis sehingga pasien tersebut melakukan pengobatan secara mandiri di rumah sakit di kota Ternate.

Olehnya itu Warga berharap pernyataan ini dapat meluruskan anggapan yang berkembang, sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi objektif demi perbaikan layanan kesehatan di wilayah tersebut. (Red)

LABUHA, Malutline — Dugaan pelayanan kurang optimal di Puskesmas Laluin, Kecamatan Kayoa Selatan, kembali menjadi sorotan. Keluhan warga terkait alasan ketersediaan obat yang kerap disebut “habis” serta pasien yang disebut terlantar berulang kali, memicu perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan.

Sejumlah keluarga pasien mengaku kecewa karena harus pulang tanpa penanganan maksimal dengan alasan stok obat tidak tersedia. Peristiwa serupa disebut bukan kali pertama terjadi, sehingga memunculkan pertanyaan warga terhadap manajemen pelayanan di fasilitas kesehatan tersebut.

Menanggapi hal itu, Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, saat di konfirmasi waratawan Jumat (30/01/2026) di aula kantor Bupati Halsel menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap Kepala Puskesmas (Kapus) Laluin, Ikra Mahmud, guna memastikan pelayanan kesehatan berjalan sesuai standar.

“Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar masyarakat. Jika benar ada kejadian berulang seperti ini, tentu akan menjadi bahan evaluasi serius,” tegas Bupati.

Bupati juga meminta Dinas Kesehatan segera turun melakukan pengecekan langsung terkait ketersediaan obat, sistem pelayanan, serta kehadiran tenaga kesehatan di Puskesmas Laluin.

Warga berharap evaluasi tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menghadirkan perbaikan nyata agar kejadian pasien tidak terlayani karena alasan obat habis tidak lagi terulang.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Puskesmas Laluin maupun Kapus Ikra Mahmud masih diupayakan untuk dikonfirmasi guna memperoleh penjelasan dan klarifikasi. (Red)