TERNATE, Malutline – Insiden pengusiran pengunjung secara kasar oleh salah satu pemilik kedai Nukila di kawasan Taman Nukila menuai sorotan publik. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (2/04/2025) di Kelurahan Gamalama, Kota Ternate, dan dinilai mencoreng citra ruang publik yang seharusnya ramah bagi masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, seorang pemilik lapak makanan yang diketahui berinisial Y diduga mengusir sejumlah pengunjung dengan nada tinggi dan kata-kata yang tidak pantas. Pengunjung yang hendak duduk di kursi dan meja yang berada di area taman diminta untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
“Ngoni keluar dari kedai ini! Meja di luar jangan dulu dipakai karena hari ini kami belum berjualan,” ujar pemilik lapak dengan nada keras, sebagaimana disaksikan di lokasi kejadian.
Tindakan tersebut sontak memicu ketidaknyamanan di kalangan pengunjung. Sejumlah warga menilai sikap tersebut tidak mencerminkan etika pelayanan, apalagi lokasi tersebut merupakan fasilitas umum yang diperuntukkan bagi masyarakat luas, bukan ruang privat milik individu atau kelompok tertentu.
Kawasan Taman Nukila sendiri dikenal sebagai salah satu ruang publik favorit di Kota Ternate, yang sering dikunjungi warga untuk bersantai bersama keluarga. Namun, perilaku oknum pengelola kedai Nukila seperti ini dinilai berpotensi merusak kenyamanan dan citra pariwisata daerah.

Ironisnya, menurut sejumlah sumber, tindakan pengusiran tersebut bukan kali pertama terjadi. Oknum pemilik kedai yang akrab disapa “Ibu Haji” itu disebut-sebut telah berulang kali melakukan hal serupa kepada pengunjung, bahkan terhadap tamu yang hanya duduk di area kursi sebelum lapak dibuka.
“Sudah sering terjadi. Bahkan pernah ada tamu penting juga diusir hanya karena duduk sebelum lapak buka,” ungkap salah satu pengunjung yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari masyarakat yang meminta perhatian serius dari Pemerintah Kota. Wali Kota M. Tauhid Soleman didesak untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kedai di kawasan tersebut.
Selain itu, Dinas Pariwisata yang memiliki kewenangan pengelolaan kawasan juga diminta untuk tidak tinggal diam. Pengawasan terhadap pelaku usaha di ruang publik dinilai perlu diperketat agar tidak terjadi penyalahgunaan fasilitas umum yang merugikan masyarakat.
Publik menilai, jika dibiarkan, tindakan semena-mena seperti ini dapat menimbulkan kesan bahwa ruang publik di Kota Ternate dikuasai oleh kepentingan pribadi. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip pelayanan publik yang mengedepankan kenyamanan, keterbukaan, dan keadilan bagi semua warga.
Lebih jauh, beredar pula anggapan di tengah masyarakat bahwa oknum tersebut merasa “kebal” karena kedekatan dengan pihak tertentu. Meski demikian, hal tersebut perlu dibuktikan dan tidak boleh menjadi alasan pembiaran oleh pemerintah.
Masyarakat berharap Wali Kota M. Tauhid Soleman segera mengambil langkah tegas, baik melalui pembinaan maupun penertiban, guna memastikan bahwa kawasan Taman Nukila tetap menjadi ruang publik yang nyaman, tertib, dan ramah bagi seluruh warga tanpa diskriminasi.
Jika tidak ada tindakan konkret, dikhawatirkan insiden serupa akan terus berulang dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan fasilitas publik di daerah tersebut. (Red)





