TERNATE, Malutline— Krisis air bersih kembali menjadi sorotan tajam. Warga mengeluhkan buruknya pelayanan air dari PDAM Kota Ternate yang dinilai semakin tidak menentu. Dalam beberapa pekan terakhir, aliran air disebut-sebut hanya mengalir sekitar lima menit dalam satu malam, itupun dengan debit yang sangat kecil.
Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari warga terganggu secara serius. Air bersih yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar, justru menjadi barang langka. Warga terpaksa menampung air seadanya atau mencari sumber alternatif dengan biaya tambahan.
“Air cuma mengalir sebentar, paling lima menit. Itu pun tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kami sangat kesulitan,” ungkap salah satu warga Salero dengan nada kesal.
Keluhan ini bukan hal baru. Warga mengaku krisis air bersih telah berlangsung cukup lama tanpa solusi yang jelas dari pihak terkait. Bahkan, sebagian warga menyebut kondisi saat ini lebih parah dibanding sebelumnya.
Akibatnya, kebutuhan dasar seperti air minum, memasak, mencuci piring, hingga mencuci pakaian menjadi terbengkalai. Tidak sedikit warga yang harus membeli air galon atau menyewa jasa pengangkut air, yang tentunya menambah beban ekonomi rumah tangga.
Situasi ini memicu gelombang desakan dari masyarakat kepada pimpinan baru PDAM. Warga secara tegas meminta direktur baru dan Dewan Pengawas (Dewas) PDAM segera turun tangan dan mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan krisis tersebut.
“Jangan hanya janji. Kami butuh tindakan nyata. Ini menyangkut kebutuhan hidup orang banyak,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Warga juga meminta adanya transparansi dari pihak PDAM terkait penyebab utama terganggunya distribusi air, apakah karena kerusakan jaringan, keterbatasan sumber air, atau masalah manajemen.
Hingga berita ini diturunkan pada hari ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak PDAM Kota Ternate terkait keluhan warga Salero tersebut. Namun, tekanan publik dipastikan akan terus meningkat jika masalah ini tidak segera ditangani.
Krisis air bersih di Salero kini menjadi ujian awal bagi kepemimpinan baru PDAM.
Masyarakat menunggu bukti, bukan sekadar retorika. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin persoalan ini akan berkembang menjadi gejolak sosial yang lebih besar. (Red)







