Ternate, Malutline — Dukungan moral terhadap Nazlatan Ukhra Kasuba, Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara dari Partai Gerindra, terus mengalir setelah dirinya menjadi sasaran serangan dan bully di media sosial.

Tokoh muda Halmahera Selatan, Sefnat Tagaku, angkat bicara dan menyampaikan pembelaan terbuka terhadap Nazlatan, yang dinilainya sedang menjadi korban serangan karena keberaniannya bersuara atas nama kepentingan rakyat.

Dalam pernyataannya yang diunggah di media sosial, Sefnat menegaskan bahwa Nazlatan hanya menjalankan tugas dan fungsi sebagai wakil rakyat untuk menyuarakan aspirasi masyarakat terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Maluku Utara, termasuk kondisi pemerintahan daerah yang dinilainya masih banyak masalah mendasar.

“Kak Nazlatan hebat! Di tengah menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, dia dibully dengan narasi yang memojokkan tanpa melihat fakta, tanpa melihat realitas pemerintahan ini yang carut-marut, yang membuatnya bersuara atas nama kepentingan rakyat,” ujar Sefnat dalam keterangannya, Sabtu (2/11/2025).

Menurut Sefnat, sebagian pihak yang menyerang Nazlatan justru memilih jalan tidak terhormat — dengan menyerang ranah pribadi dan keluarga almarhum AGK (Ahmad Hidaya Kasuba), yang dikenal luas sebagai sosok pemimpin yang berjasa besar bagi Maluku Utara.

“Dia dilemahkan dengan narasi yang menyerang privasinya secara terang-terangan, seolah almarhum ayahnya tak berjasa atas negeri ini. Padahal, ada banyak hal positif yang lahir dari tangan dingin sosok AGK,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sefnat menilai bahwa kelompok yang menyerang Nazlatan hanyalah mereka yang tidak mampu berdiri tegak dalam kebenaran, serta lebih sibuk mencari keuntungan pribadi dari kekuasaan.

“Para pembully yang berkotek melalui media sosial sedang menghina diri mereka sendiri, karena tak punya kemampuan seperti yang dimiliki Kak Nazla. Di antara mereka hanya ada yang mengemis jabatan atau mencari sisa-sisa remah kekuasaan,” tambahnya.

Sefnat pun menyemangati Nazlatan agar tetap kuat, sabar, dan konsisten memperjuangkan suara rakyat Maluku Utara.

“Tetap semangat Kakakku, tetap berani bersuara lantang, hingga mereka sadar bahwa negeri kita sedang tidak baik-baik saja,” tutupnya. (Red)

Jakarta, Malutline— Koordinator Pusat Jaringan Aksi Solidaritas Membela Rakyat (JAS-MERAH) yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara Jabodetabek (PB-FORMMALUT), M. Reza A. Syadik, menantang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara yang baru, Sufari, untuk menjadikan tiga kasus besar di Kota Ternate sebagai prioritas penanganan hukum.

Ketiga kasus tersebut yakni skandal Haornas 2018, dugaan korupsi penyertaan modal investasi pada BUMD PT BPRS Bahari Berkesan yang diduga menyeret nama Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, serta pembelian eks rumah dinas Gubernur Maluku Utara oleh Pemkot Ternate pada 2018 yang disebut-sebut melibatkan Rizal Marsaoly.

Menurut Reza, transaksi pembelian rumah dinas senilai Rp2,8 miliar yang menggunakan kas daerah dipersoalkan karena dilakukan kepada pihak yang bukan pemilik sah. Ia menilai selama ini Kejati Maluku Utara cenderung pasif dan lamban dalam menuntaskan berbagai kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat publik.

“Kini saatnya Kepala Kejati menunjukkan komitmen terhadap penegakan hukum yang bersih. Kasus-kasus yang mengendap tanpa kejelasan harus dibuka kembali, termasuk perkara yang pernah di-SP3 seperti kasus Halsel Ekspres di Halmahera Selatan,” ujar Reza dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (2/11/2025).

Reza menjelaskan, dugaan penyalahgunaan dana penyertaan modal Pemkot Ternate ke PT BPRS Bahari Berkesan mencapai Rp22,85 miliar, dengan potensi kerugian negara sekitar Rp7 miliar. Ia menegaskan, mahasiswa Maluku Utara di Jabodetabek tidak akan diam melihat lambannya penegakan hukum di daerah.

“Kami tidak mau hanya bicara. Di Jakarta, kami sedang melakukan konsolidasi nasional untuk menggelar aksi besar pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, dengan target menduduki KPK dan Kejagung RI. Tujuannya bukan untuk menekan, tapi memberi dukungan moral agar kedua lembaga ini turut mengawal penegakan hukum di Maluku Utara,” tegas Reza.

Ia menambahkan, JAS-MERAH dan PB-FORMMALUT mendukung penuh Kepala Kejati Maluku Utara yang baru agar bekerja tanpa pandang bulu dalam mengusut kasus korupsi, baik di provinsi maupun kabupaten/kota.

“Menolak lupa! Kami ingin Kejati yang baru bersih dan berani. Jangan hanya menyentuh kasus kecil. Kami menantang: bersihkan semua kasus korupsi di sepuluh kabupaten/kota di Maluku Utara. Kami di Jakarta siap mengawal,” tandas Reza.

Reza juga mengingatkan bahwa publik Maluku Utara tengah menaruh harapan besar kepada Kejati baru untuk mengembalikan kepercayaan terhadap institusi penegak hukum.

“Momentum ini harus dimanfaatkan. Rakyat ingin melihat hukum tidak lagi tajam ke bawah, tumpul ke atas,” pungkasnya. (Red)

LABUHA, Malutline — Sebuah tulisan berjudul “INTRIK” yang diposting oleh Nazlatan Ukhra Kasuba, putri dari mantan Bupati Halmahera Selatan sekaligus tokoh politik ternama Maluku Utara, mengundang perhatian luas di media sosial.

Unggahan tersebut menggambarkan pengalaman pribadi yang penuh emosi, saat ia harus menghadapi permainan politik di tengah kondisi sang ayah yang sedang sakit.

Dalam tulisannya, Nazlatan dengan jujur menuturkan bagaimana ia melarang sejumlah utusan politik datang menjenguk ayahnya. Alasannya sederhana — bukan karena aturan rumah sakit, tetapi untuk melindungi sang ayah dari tekanan dan intrik politik yang saat itu sedang memanas.

“Saya masih ingat bagaimana saya melarang utusan para calon itu datang dan ‘sowan’ kepadamu, Papa. Untuk menjaga kondisi kesehatanmu dan melepasmu dari perpolitikan saat itu,” tulis Nazlatan.

Namun, ia mengaku sempat kecolongan. Beberapa orang yang dikenal aktif dalam kontestasi politik justru datang menjenguk. Mereka, menurutnya, adalah pihak-pihak yang sebelumnya pernah menulis narasi negatif tentang ayahnya di media sosial.

“Bagaimana mungkin seseorang yang menulis dan memainkan konten buruk tentangmu, datang dengan wajah malaikat seolah peduli? Adakah manusia yang seperti itu?” tulisnya dalam nada getir.

Nazlatan menggambarkan suasana batin yang penuh kelelahan — di antara rasa cinta kepada ayahnya dan kejenuhan terhadap dinamika politik yang tak jarang mengabaikan nilai kemanusiaan. Ia menulis, setelah kejadian itu ia memilih keluar sebentar untuk menenangkan diri, menikmati kopi di kafe kecil sambil melihat anak muda yang tertawa dan bermimpi.

“Ada kehidupan. Ada harapan,” lanjutnya.

Namun beberapa jam kemudian, ia menerima pesan singkat: “Ada banyak orang yang menjenguk.” Ia pun bergegas ke rumah sakit dan mendapati wajah-wajah yang sudah dikenalnya. Ia sempat meminta agar momen itu tidak dipublikasikan. Tetapi, tak lama kemudian, pertemuan itu sudah beredar luas di grup WhatsApp dan media sosial.

“Ya, ini politik. Tapi saya memilih menjadi manusia,” tegas Nazlatan.

Tulisan itu diakhiri dengan refleksi mendalam tentang makna kejujuran dan kemanusiaan dalam dunia politik. Nazlatan menegaskan bahwa ia lebih memilih mendengar satu suara jujur yang ia kenal, daripada seribu suara tanpa identitas yang membawa narasi seragam.

Unggahan tersebut menuai banyak komentar dan simpati dari warganet. Banyak yang menilai, tulisan INTRIK bukan sekadar curahan hati, melainkan potret nyata tentang kerasnya politik di daerah dan pergulatan batin seorang anak yang mencoba menjaga marwah keluarganya di tengah badai opini publik.

Tulisan Nazlatan Ukhra Kasuba juga dianggap sebagai bentuk introspeksi — mengingatkan bahwa di balik politik dan perebutan kekuasaan, selalu ada sisi manusiawi yang tak boleh hilang: cinta, kesetiaan, dan kejujuran.(Red)

LABUHA, Malutline- — Unggahan Husain Said, mantan anggota DPRD Halmahera Selatan, di media sosial yang menyoroti kondisi jalan rusak di wilayah Desa Indong, Kecamatan Mandioli Utara, menuai beragam tanggapan dari masyarakat.

Dalam postingannya, Husain Said mengeluhkan kondisi akses jalan berlubang dan becek yang setiap hari dilalui oleh guru, siswa, dan warga dari Desa Pelita menuju Desa Indong. Ia menulis bahwa kondisi tersebut telah lama menyulitkan aktivitas warga, terutama tenaga pendidik yang tetap berjuang ke sekolah meski harus menempuh jalan rusak.

Namun, keluhan itu justru mendapat reaksi balik dari warga. Mereka menilai kritik Husain Said terhadap pemerintah saat ini datang terlambat, mengingat dirinya pernah memiliki posisi strategis untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat ketika masih menjabat sebagai anggota DPRD Halmahera Selatan selama dua periode.

“Sekarang baru curhat di media sosial, padahal dulu waktu masih duduk di DPRD, jalan ini tidak pernah disentuh. Di mana mereka waktu punya wewenang dan kesempatan memperjuangkan jalan ini?” ujar salah satu warga Desa Indong dengan nada kecewa.

Tak hanya Husain Said, warga juga menyinggung nama Asnawi Lagalante, yang juga merupakan putra asal Desa Indong dan pernah menjabat sebagai anggota DPRD Halsel dalam periode yang sama. Keduanya disebut tidak mampu memperjuangkan pembangunan jalan Indong–Pelita melalui jalur aspirasi masyarakat.

“Mereka berdua dari kampung ini. Dua periode duduk di DPRD, tapi jalan tetap rusak. Sekarang baru bicara soal kepedulian rakyat,” ungkap warga lainnya.

Menurut warga, kondisi jalan tersebut bukan hanya menyulitkan masyarakat umum, tapi juga mengancam keselamatan guru dan pelajar yang setiap hari melewati jalan penuh lumpur dan lubang besar.

“Kami berharap pemerintah sekarang jangan seperti dulu. Segera bangun jalan ini, karena ini akses utama untuk sekolah dan ekonomi warga,” tambah tokoh masyarakat setempat.

Meski dikritik, beberapa pihak menilai apa yang dilakukan Husain Said di media sosial tetap memiliki nilai positif sebagai bentuk kepedulian dan dorongan moral agar pemerintah saat ini lebih memperhatikan daerah pelosok seperti Mandioli Utara.

“Mungkin beliau sadar, bahwa kritiknya sekarang bisa menjadi pengingat bagi pemimpin saat ini agar lebih cepat bertindak,” kata seorang warga muda di Indong.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan pihak DPRD Halsel belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan kondisi jalan di wilayah Indong–Pelita. Warga berharap, persoalan ini tidak hanya berhenti di media sosial, tetapi ditindaklanjuti dengan pembangunan nyata di lapangan. (Red)

Jakarta, Malutline – Di bawah langit cerah ibu kota, semarak budaya Maluku Utara mewarnai Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan bertajuk Festival Budaya Maluku Utara ini menjadi panggung bagi warisan sejarah, seni, dan nilai-nilai hidup masyarakat negeri rempah yang telah dikenal dunia sejak berabad-abad lalu.

Dalam sambutannya, Sherly Tjoanda menyampaikan bahwa perayaan ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi bentuk nyata merawat identitas dan memperkenalkan jati diri Maluku Utara kepada dunia.

“Hari ini, kami merayakan warisan yang hidup — budaya, sejarah, dan jiwa Maluku Utara yang penuh warna di Taman Mini Indonesia,” ujar Sherly dengan semangat.

Festival tersebut menampilkan tarian tradisional, musik daerah, hingga kuliner khas yang dimasak menggunakan bambu, membawa para pengunjung menelusuri jejak peradaban lama yang kaya rasa dan makna.

Turut hadir dalam acara ini Duta Besar Austria, perwakilan Kedutaan Spanyol dan Bosnia, Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara, perwakilan Bank Indonesia Malut, Direktur TMII, serta komunitas diaspora Maluku Utara di Jakarta.

Mereka bersama-sama menikmati suasana penuh kehangatan dan harmoni yang mencerminkan falsafah hidup masyarakat Maluku Utara:

“Hidup dalam harmoni, menghargai perbedaan, dan berbagi dalam kasih.”

Menurut Sherly, melalui festival ini Maluku Utara ingin menunjukkan kepada dunia bahwa keindahan sejatinya tidak hanya terletak pada alam dan lautnya yang memesona, tetapi juga pada cara warganya hidup dalam damai dan kebersamaan.

“Melalui festival ini, kami ingin dunia mengenal bahwa keindahan Maluku Utara bukan hanya pada alamnya, tetapi pada cara warganya hidup dalam damai, dalam kebersamaan, dan dalam kasih,” tutup Sherly.

Festival budaya ini diharapkan menjadi momentum mempererat persaudaraan, memperkuat diplomasi kebudayaan, serta meneguhkan posisi Maluku Utara sebagai negeri rempah yang kaya nilai dan keindahan hati. (Sabrun/red)