LABUHA, Malutline – Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan menegaskan komitmennya untuk menjaga dan mengembangkan Batu Bacan sebagai warisan budaya sekaligus identitas kebanggaan daerah. Hal tersebut ditegaskan dalam kegiatan pengukuhan Asosiasi Batu Bacan, yang berlangsung khidmat dan dihadiri para pelaku usaha, pengrajin, tokoh adat, serta unsur pemerintah daerah.

Dalam sambutannya, Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para pekerja, pengrajin, dan pengusaha Batu Bacan yang selama ini telah menjaga eksistensi batu mulia khas Bacan hingga dikenal secara nasional bahkan internasional.

“Batu Bacan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi memiliki nilai historis, budaya, dan identitas yang melekat kuat pada masyarakat Halmahera Selatan. Ini adalah kebanggaan daerah yang harus kita jaga bersama,” ujar Bupati.

Bupati menilai pembentukan Asosiasi Batu Bacan merupakan langkah strategis dalam menata pengelolaan, perdagangan, dan pengembangan Batu Bacan secara berkelanjutan. Melalui asosiasi ini, para pelaku usaha diharapkan dapat terorganisir dengan baik, menjunjung etika usaha, serta menjaga nilai adat dan budaya yang menyertai Batu Bacan.

Lebih lanjut, Pemerintah Daerah juga menegaskan komitmennya untuk menyiapkan regulasi dan perizinan yang aman, jelas, dan berpihak pada pelaku usaha lokal. Hal ini mencakup penataan kawasan, jenis perizinan, hingga mekanisme penambangan agar aktivitas Batu Bacan dapat berjalan secara legal, tertib, dan berkelanjutan.

“Nilai ekonomi Batu Bacan tidak bisa dibandingkan dengan batu lainnya. Karena itu, tata kelola, aturan adat, serta nilai budaya harus tetap dijaga agar keberkahannya dirasakan oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengingatkan bahwa Batu Bacan dikenal memiliki dua warna utama yang khas, yakni hijau dan biru muda, yang menjadi ciri pembeda sekaligus daya tarik tersendiri di pasar batu mulia.

Pengukuhan Asosiasi Batu Bacan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat adat dalam menjaga keberlanjutan Batu Bacan, baik sebagai sumber ekonomi rakyat maupun sebagai simbol jati diri Halmahera Selatan.

Kegiatan ditutup dengan ajakan bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mempromosikan Batu Bacan sebagai bagian dari kebudayaan daerah, sejalan dengan semangat “Bersama Jaga Batu Bacan, Bersama Bangun Halmahera Selatan.” (haji)

LABUHA, Malutline – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Halmahera Selatan resmi menggelar Operasi Keselamatan Kie Raha 2026 yang akan berlangsung selama 14 hari, terhitung mulai 2 hingga 15 Februari 2026.

Operasi ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas (Kamseltibcarlantas) yang aman, nyaman, dan selamat, khususnya menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat Kie Raha 2026.

Kapolres Halmahera Selatan, AKBP Hendra Gunawan, S.H., S.I.K., M.M, melalui jajaran Satlantas menegaskan bahwa Operasi Keselamatan Kie Raha mengedepankan pendekatan edukatif, persuasif, dan humanis, guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Halmahera Selatan, IPTU Irfan Muzaffar Sondani, S.Tr.K, menyampaikan bahwa operasi ini difokuskan pada upaya pencegahan pelanggaran lalu lintas yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas utama. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk selalu tertib dan mematuhi aturan lalu lintas,” ujarnya.

Dalam Operasi Keselamatan Kie Raha 2026, masyarakat diingatkan untuk:
Menggunakan helm berstandar SNI saat berkendara Melengkapi surat-surat dan kelengkapan kendaraan Memastikan kondisi kendaraan layak jalan Mengutamakan keselamatan diri dan pengguna jalan lainnya

Satlantas Polres Halmahera Selatan berharap melalui operasi ini dapat menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, sekaligus membangun budaya tertib berlalu lintas di tengah masyarakat Bumi Saruma.

“Mari bersama-sama menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas demi keamanan dan kenyamanan kita bersama di jalan raya,” imbau pihak kepolisian. (Bur)

LABUHA, Malutline – Pengurus Asosiasi Gamestone Kolano Bacan (AGKB) periode 2026–2031 resmi dikukuhkan dalam sebuah prosesi adat dan kelembagaan yang berlangsung khidmat di Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Jumat (30/1/2026). Pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam upaya menjadikan batu Bacan sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat lokal.

Kegiatan pengukuhan mengusung semangat “Bacan Mendunia, Masyarakat Sejahtera, Budaya Terjaga”, dan dikukuhkan langsung oleh Jou Kolano Sultan Bacan, sebagai simbol legitimasi adat dan budaya.

Ketua Panitia Pengukuhan, Subhan Saleh, dalam laporannya menyampaikan bahwa pembentukan asosiasi ini bertujuan menyatukan para pelaku usaha batu Bacan dalam satu wadah resmi yang berorientasi pada pelestarian budaya, penguatan ekonomi, dan legalitas usaha.

“Batu Bacan bukan hanya komoditas, tetapi warisan budaya yang harus dikelola secara bermartabat agar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Subhan.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Gamestone Kolano Bacan, M. Husni Muslim, dalam sambutannya menegaskan bahwa batu Bacan merupakan batu mulia yang melalui proses panjang, mulai dari batu alam hingga menjadi batu super Bacan bernilai tinggi.

“Batu Bacan bukan sekadar batu. Ia melalui proses alam, proses tangan manusia, hingga menjadi bagian dari siklus ekonomi berkelanjutan yang menopang kehidupan masyarakat Bacan,” jelasnya.

Menurut Husni, keberadaan asosiasi diharapkan mampu menjaga kesinambungan ekonomi masyarakat, sekaligus mencegah eksploitasi yang merusak nilai budaya dan lingkungan.

Dalam sambutannya, Sultan Bacan menekankan pentingnya peran para pengusaha gamestone Bacan untuk berjiwa wirausaha sekaligus berlandaskan adat dan budaya. Ia menilai, pengelolaan batu Bacan harus dilakukan secara strategis agar mampu mengangkat citra Bacan di tingkat nasional hingga internasional.

“Batu Bacan adalah identitas. Cara mengelolanya harus beradab, berbudaya, dan berpikir jauh ke depan,” tegas Sultan Bacan.

Sultan juga mendorong agar Pemerintah Daerah memasukkan batu Bacan sebagai bagian utama dalam setiap festival dan event promosi daerah, sehingga dapat dikenal luas sebagai ikon budaya dan ekonomi Bacan.

Hal senada disampaikan Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, yang menegaskan bahwa batu Bacan memiliki keunikan dan ciri khas yang tidak dimiliki batu mulia lainnya. Selama ini, kata dia, batu Bacan dikelola oleh warga lokal dan telah menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Nilai historis, nilai adat, dan nilai ekonomi batu Bacan tidak bisa dibandingkan dengan batu lainnya. Karena itu, tata kelola, aturan adat, serta nilai budaya harus dijaga agar keberkahannya dirasakan bersama,” ujar Bassam.

Bupati juga menegaskan komitmen Pemerintah Daerah untuk fokus pada regulasi, penataan kawasan tambang, peta wilayah, serta jenis perizinan, guna memastikan aktivitas penambangan batu Bacan berjalan secara legal, tertib, dan berkelanjutan.

Pengukuhan pengurus Asosiasi Gamestone Kolano Bacan dilakukan melalui pembacaan Naskah Pengukuhan, diawali dengan pertanyaan kesediaan pengurus, dilanjutkan dengan pengukuhan resmi oleh Jou Kolano Sultan Bacan Muhamad Irsyad Maulana Syah.

Melalui pengukuhan ini, diharapkan Asosiasi Gamestone Kolano Bacan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dan lembaga adat dalam menjaga kelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, serta keberlanjutan batu Bacan sebagai warisan daerah yang mendunia. (Haji)

LABUHA, Malutline – Lima orang warga Desa Waya, Kabupaten Halmahera Selatan, hingga kini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuha akibat dugaan keracunan makanan.

Kondisi medis para pasien memerlukan perhatian serius, lantaran hasil pemeriksaan menunjukkan penurunan kadar hemoglobin (Hb) yang signifikan, sehingga membutuhkan transfusi darah dalam jumlah besar.

Dokter penanggung jawab pelayanan, dr. Taufikurahma, Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD), melalui Kepala Bidang Humas RSUD Labuha, Hj. Harliyani Hi Arwi, Str.Keb, menjelaskan bahwa hingga hari kedua perawatan, total pasien yang dirawat berjumlah lima orang.

“Seluruh pasien awalnya masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD), kemudian dirawat lanjutan di ruang interna dan ICU sesuai dengan kondisi klinis masing-masing,” ujar Harliyani, Jumat (30/1/2026).

Menurutnya, secara umum kondisi pasien mulai menunjukkan perbaikan, dengan keluhan yang berangsur berkurang. Namun demikian, hasil pemeriksaan laboratorium mengungkap adanya anemia berat pada beberapa pasien.

“Dua pasien tercatat memiliki kadar Hb sangat rendah, sekitar 2 g/dL, sehingga membutuhkan transfusi darah dalam jumlah besar, masing-masing hingga 10 kantong darah,” jelasnya.

Salah satu pasien anak, Acu Wa Arisna, yang dirawat di ruang perawatan anak, sebelumnya memiliki kadar Hb sekitar 2 g/dL. Setelah mendapatkan transfusi darah, kadar Hb pasien meningkat menjadi 6 g/dL, meski masih berada di bawah ambang normal yang berkisar 12–14 g/dL.

Selain itu, seorang pasien bernama Warisma yang dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) telah menerima tiga kantong darah golongan O. Namun, secara keseluruhan kebutuhan darah untuk seluruh pasien masih sangat tinggi.

“Lima pasien asal Desa Waya ini masing-masing membutuhkan sekitar 10 kantong darah per orang, terutama darah golongan A dan B,” ungkap Harliyani.

Berdasarkan evaluasi medis terhadap satu keluarga pasien, tim dokter mencurigai adanya gangguan hemolitik, yaitu kondisi medis di mana sel darah merah mengalami pemecahan secara berlebihan. Kondisi tersebut juga disertai gejala ikterus (penyakit kuning) yang ditemukan pada beberapa pasien.

Untuk memastikan penyebab pasti kondisi tersebut, diperlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak dapat dilakukan di RSUD Labuha. Oleh karena itu, sampel darah pasien direncanakan akan dikirim ke rumah sakit rujukan di Manado atau Makassar.

“Di RSUD Labuha saat ini hanya tersedia pemeriksaan dasar hemoglobin. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit bawaan yang mendasari kondisi pasien,” terangnya.

Fokus utama penanganan medis saat ini adalah transfusi darah guna meningkatkan kadar hemoglobin hingga mendekati nilai normal, disertai pemantauan fungsi organ dalam secara ketat dan berkelanjutan.

Pihak RSUD Labuha mengimbau dan berharap adanya dukungan masyarakat serta para pendonor darah untuk membantu pemenuhan kebutuhan transfusi, demi menunjang keselamatan dan mempercepat proses pemulihan para pasien. (Haji)

LABUHA, Malutline – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuha terus melakukan penanganan intensif terhadap sejumlah warga Desa Waya yang dirawat akibat dugaan keracunan makanan. Dari hasil pemeriksaan medis, dokter menemukan adanya penurunan kadar hemoglobin (Hb) yang signifikan pada beberapa pasien, disertai gejala ikterus (penyakit kuning).

Keterangan tersebut disampaikan oleh dr. Taufikurahma, Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) selaku dokter penanggung jawab pelayanan, melalui Kepala Bidang Humas RSUD Labuha, Hj. Harliyani Hi Arwi, Str.Keb, Jumat (30/1/2026).

Menurut Harliyani, hingga hari kedua perawatan, total pasien yang dirawat berjumlah lima orang. Seluruh pasien awalnya masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebelum menjalani perawatan lanjutan di ruang interna.

“Secara umum, keluhan pasien sudah berkurang dan kondisi klinis relatif stabil. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya penurunan kadar hemoglobin pada semua pasien,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, terdapat dua pasien dengan kadar Hb sangat rendah, sekitar 2 g/dL, sehingga membutuhkan transfusi darah dalam jumlah besar, masing-masing hingga 10 kantong darah.

Salah satu pasien anak, Acu Wa Arisna, yang dirawat di ruang perawatan anak, sebelumnya tercatat memiliki kadar Hb sekitar 2 g/dL. Setelah dilakukan transfusi darah, kadar Hb pasien mengalami peningkatan menjadi 6 g/dL, meski masih berada di bawah nilai normal yang berkisar 12–14 g/dL.

Berdasarkan evaluasi medis terhadap satu keluarga pasien, dokter mencurigai adanya gangguan hemolitik, yaitu kondisi medis di mana terjadi pemecahan sel darah merah secara berlebihan, Untuk memastikan diagnosis penyebab pasti, diperlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak dapat dilakukan di RSUD Labuha.

“Di RSUD Labuha saat ini hanya tersedia pemeriksaan dasar hemoglobin Untuk memastikan apakah ada penyakit bawaan, sampel darah pasien perlu dikirim ke rumah sakit rujukan di Manado atau Makassar,” terang Harliyani.

Selain anemia berat, sebagian pasien juga menunjukkan tanda-tanda ikterus, yang mengindikasikan gangguan metabolisme bilirubin. Oleh karena itu, fokus utama penanganan medis saat ini adalah transfusi darah untuk meningkatkan kadar hemoglobin hingga mendekati normal, disertai pemantauan fungsi organ dalam secara ketat.

Sementara itu, seorang pasien bernama Warisma yang dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) telah menerima tiga kantong darah golongan O. Namun demikian, secara keseluruhan kebutuhan darah masih sangat tinggi.

“Saat ini pasien-pasien asal Desa Waya kecamatan Mandioli Utara yang telah dirawat selama dua hari sangat membutuhkan darah golongan A dan B, masing-masing sebanyak 10 kantong,” ungkapnya.

Pihak RSUD Labuha berharap adanya partisipasi aktif masyarakat dan para pendonor darah untuk membantu pemenuhan kebutuhan transfusi, demi menunjang keselamatan dan kesembuhan para pasien. (Haji)