HALSEL, Malutline— Sebuah kisah pilu tentang dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perampasan hak, serta ancaman pembunuhan mengguncang hati publik. Seorang perempuan bernama Harsinta La Harsa, anak sulung dari delapan bersaudara, memberanikan diri mengungkap penderitaan yang dialami ibunya selama bertahun-tahun akibat perlakuan ayah kandungnya sendiri.
Dalam pengakuannya, Harsinta menyampaikan bahwa selama belasan tahun sang ayah diduga tidak memberikan nafkah lahir maupun batin kepada keluarga. Selama itu pula, ibunya berjuang seorang diri membesarkan delapan anak, membangun rumah, hingga menopang perekonomian keluarga dengan bekerja keras tanpa dukungan suami.
“Selama bertahun-tahun ibu kami berjuang sendiri. Dari membiayai hidup kami, membangun rumah, sampai membantu ayah membuat kebun cengkeh. Semua dilakukan dengan tenaga dan air mata ibu,” ungkap Harsinta dengan suara bergetar.
Ironisnya, setelah rumah dan aset keluarga berdiri berkat kerja keras sang ibu, ayah mereka justru diduga berniat menjual seluruh aset tersebut secara sepihak. Padahal, menurut Harsinta, rumah yang hendak dijual murni dibangun dari hasil jerih payah ibunya.
Bahkan, untuk material bangunan seperti pasir dan kerikil, Harsinta mengaku dirinya bersama ibu dan beberapa adiknya harus mengangkat langsung dari tepi pantai, bukan dibeli menggunakan uang ayah.
“Rumah itu berdiri dari keringat ibu kami. Ayah hampir tidak pernah memberi biaya. Tapi sekarang beliau ingin menguasai dan menjual semuanya,” tutur Harsinta.
Situasi semakin memprihatinkan ketika, menurut pengakuan keluarga, sang ayah pernah mengancam akan membakar rumah beserta ibu dan salah satu adiknya. Ancaman tersebut membuat keluarga ketakutan dan memaksa sang ibu meninggalkan rumah demi menyelamatkan nyawa.
Peristiwa itu sempat dilaporkan ke Polsek Obi. Namun, karena keterbatasan bukti, laporan tersebut disebut belum dapat diproses secara hukum. Hingga kini, tidak ada sanksi pidana yang dijatuhkan kepada terduga pelaku.
Akibat ancaman tersebut, ibu dan salah satu anaknya terpaksa mengungsi dan menumpang di rumah warga yang bersimpati. Mereka hidup dalam kondisi tidak menentu, jauh dari rumah sendiri yang dibangun dengan susah payah.
“Kami merasa sangat dizalimi. Ibu sekarang tidak punya tempat tinggal sendiri, padahal rumah itu hasil kerja kerasnya,” kata Harsinta.
Karena keterbatasan ekonomi, keluarga ini mengaku tidak mampu menyewa pengacara atau menempuh jalur hukum secara maksimal. Dalam kondisi terdesak, Harsinta pun memberanikan diri mengadu kepada aktivis kemanusiaan dan figur publik, salah satunya kepada Pratiwi Noviyanthi, guna meminta bantuan pendampingan hukum dan perlindungan bagi ibunya.
Ia juga mengajak masyarakat Desa Sambiki, Anggai, dan wilayah sekitar yang mengetahui perjuangan sang ibu untuk tidak tinggal diam dan membantu menyuarakan kebenaran.
“Kami hanya ingin ibu kami hidup tenang, mendapatkan haknya, dan bebas dari ancaman,” ujar Harsinta penuh harap.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi persoalan serius di tengah masyarakat. Perlindungan terhadap perempuan dan anak membutuhkan perhatian sungguh-sungguh dari aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat.
Harsinta berharap, dengan viralnya kisah ini, pintu keadilan akan terbuka dan ibunya dapat memperoleh perlindungan hukum yang layak. (Haji/red)











Komentar