LABUHA, Malutline – Kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan di ruang publik di Kabupaten Halmahera Selatan masih menjadi tantangan serius, Kondisi ini terlihat dari banyaknya keluhan warga terkait taman dan fasilitas umum yang kerap dipenuhi sampah akibat kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya.
Pemerintah daerah sebenarnya telah menyediakan tempat sampah di sejumlah lokasi strategis, Namun fasilitas tersebut dinilai belum optimal karena tidak dilengkapi penanda visual, gambar, maupun warna pembeda jenis sampah, sehingga masyarakat kesulitan melakukan pemilahan. Akibatnya, sampah organik, anorganik, dan sampah berbahaya (B3) masih tercampur.
Sebagai solusi, sejumlah pemerhati lingkungan mendorong penerapan inovasi tempat sampah edukatif yang mengedepankan pendekatan visual dan informasi sederhana. Tempat sampah ini dirancang dengan ikon, warna, dan gambar yang mudah dipahami, serta dilengkapi informasi singkat mengenai dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.
Selain itu, pengelolaan sampah B3 diusulkan agar dipusatkan di rumah sakit dan masing-masing puskesmas di wilayah Halmahera Selatan. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah pencampuran sampah medis dengan sampah rumah tangga yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Permasalahan lain yang menjadi sorotan adalah belum adanya sosialisasi sebelum pengadaan fasilitas kebersihan. Padahal, edukasi kepada masyarakat dinilai sangat penting agar sarana yang disediakan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
โFasilitas saja tidak cukup. Perubahan perilaku masyarakat harus dibangun melalui edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan,โ ujar salah satu aktivis lingkungan di Halmahera Selatan.
Melalui inovasi berbasis edukasi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta masyarakat, diharapkan kesadaran menjaga kebersihan dapat meningkat.
Upaya ini menjadi langkah penting dalam menciptakan ruang publik yang bersih, sehat, dan nyaman di Kabupaten Halmahera Selatan. (Red











Komentar