Halsel, Malutline – Proyek pembangunan di SDN 58 Halmahera Selatan tengah menjadi sorotan setelah para tukang diduga mengambil dua unit lemari sebagai jaminan akibat upah pengawasan lapangan yang belum dibayarkan. Peristiwa ini memicu perhatian publik, terutama terkait sistem pembayaran proyek dan kesejahteraan para pekerja di lapangan.
Menurut informasi yang diterima, para tukang mengaku telah bekerja sesuai kesepakatan namun pembayaran upah untuk pengawas lapangan belum juga dipenuhi hingga waktu yang disetujui. Kondisi ini disebut menjadi alasan para pekerja mengambil dua unit lemari sekolah sebagai bentuk penjaminan agar hak mereka tidak terabaikan.
“Kami menuntut hak kerja. Sudah lama menunggu pembayaran tapi tidak ada kejelasan,” ujar salah satu tukang yang terlibat dalam pekerjaan proyek tersebut.
Aksi pengambilan lemari itu sontak mengundang perhatian dan menuai ragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai tindakan tersebut muncul karena tidak adanya penyelesaian pembayaran, sementara pihak lain menilai lembaga pendidikan seharusnya lebih tegas dalam menjaga aset sekolah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun dari penanggung jawab proyek terkait keterlambatan pembayaran tersebut. Warga pun menaruh harapan besar agar pihak terkait segera menyelesaikan permasalahan ini secara adil, sehingga proses pembangunan sekolah tidak terganggu dan aset negara tetap terjaga.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa transparansi dan kepastian pembayaran dalam proyek pendidikan sangat penting, tidak hanya demi kelancaran pekerjaan tetapi juga untuk menjaga hubungan profesional antara pihak pelaksana, pekerja, dan pengawas. (Red)





