TERNATE, Malutline – Insiden kandasnya KM Bunda Maria di kawasan pesisir Dusun Paceda, yang kini masuk wilayah Desa Akedotilou, kembali memunculkan pertanyaan serius mengenai keselamatan pelayaran pada rute Ternate–Babang.
Kapal yang melayani rute tersebut dilaporkan kandas hingga menabrak kawasan pesisir. Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat, terutama karena jalur pelayaran Ternate–Babang merupakan salah satu rute transportasi laut yang cukup vital bagi mobilitas masyarakat Maluku Utara.
Pertanyaan utama yang kini berkembang di tengah masyarakat adalah bagaimana sebuah kapal penumpang dapat keluar cukup jauh dari jalur pelayarannya hingga akhirnya mencapai kawasan pesisir.
Secara umum, kapal penumpang modern dibekali perangkat navigasi untuk membantu nakhoda dan perwira jaga mengetahui posisi kapal secara terus-menerus. Salah satu perangkat yang lazim digunakan adalah GPS dan sistem navigasi elektronik yang dapat menampilkan posisi kapal serta rute atau track yang telah ditentukan.
Dengan perangkat tersebut, perubahan posisi kapal dari jalur yang telah direncanakan semestinya dapat diketahui dan dikoreksi oleh awak kapal.
Namun, dalam kasus KM Bunda Maria, kondisi tersebut justru menjadi tanda tanya.
Informasi yang beredar menyebutkan kapal diduga telah keluar cukup jauh dari jalur pelayaran Ternate–Babang sebelum akhirnya kandas di kawasan pesisir. Bahkan, penyimpangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 2,6 mil laut atau kurang lebih 5 kilometer dari jalur yang seharusnya.
Jika angka tersebut benar setelah diverifikasi melalui data GPS atau AIS, maka penyimpangan tersebut tentu perlu mendapatkan penjelasan dari pihak yang berwenang.
Mengapa Penyimpangan Tidak Segera Diketahui?
Masyarakat mempertanyakan bagaimana kapal bisa bergerak keluar dari jalur dalam jarak yang cukup jauh tanpa segera diketahui oleh nakhoda maupun perwira yang sedang bertugas di ruang kendali kapal.
Sebab, dalam pelayaran, posisi kapal merupakan salah satu aspek utama yang harus terus dipantau.
Apalagi ketika kapal menggunakan sistem navigasi berbasis GPS, posisi kapal dapat terlihat secara digital. Jalur yang telah ditentukan juga dapat menjadi acuan bagi perwira jaga untuk mengetahui apakah kapal masih berada di koridor pelayaran atau mulai mengalami penyimpangan.
Jika kapal memang keluar beberapa derajat dari jalur, maka seharusnya perubahan tersebut dapat terdeteksi dan dilakukan tindakan koreksi sebelum kapal mendekati daratan.
Karena itu, publik menilai insiden tersebut tidak cukup hanya dilihat sebagai sebuah kecelakaan biasa.
Ada sejumlah pertanyaan teknis yang perlu dijawab secara terbuka.
Apakah sistem navigasi kapal bekerja secara normal?
Apakah kapal menggunakan autopilot?
Apakah rute pelayaran yang tersimpan dalam sistem navigasi sudah benar?
Apakah alarm penyimpangan jalur berfungsi?
Apakah GPS atau perangkat navigasi lainnya mengalami gangguan?
Ataukah terdapat faktor manusia yang menyebabkan posisi kapal tidak terpantau sebagaimana mestinya?
Semua pertanyaan tersebut tentunya harus dibuktikan melalui pemeriksaan teknis dan investigasi resmi.
Cuaca Disebut Bersahabat, Faktor Alam Perlu Diverifikasi
Selain persoalan navigasi, kondisi cuaca pada saat kejadian juga menjadi salah satu hal yang perlu diperiksa.
Jika benar kondisi laut relatif bersahabat dan tidak terdapat gelombang ekstrem, kabut tebal, badai, maupun gangguan cuaca lainnya, maka faktor alam perlu dikaji secara objektif untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap pergerakan kapal.
Namun demikian, kondisi cuaca yang baik juga tidak serta-merta menghilangkan kemungkinan faktor lain.
Penyebab kandasnya kapal harus ditentukan berdasarkan data dan pemeriksaan, bukan berdasarkan dugaan semata.
Karena itu, data meteorologi dan kondisi laut pada saat kejadian juga penting untuk diperiksa bersama dengan data navigasi kapal.
Data GPS dan AIS Penting untuk Mengungkap Kronologi
Salah satu data penting yang dapat membantu mengungkap kejadian ini adalah rekaman perjalanan kapal.
Jika kapal dilengkapi dengan sistem AIS (Automatic Identification System), maka jejak perjalanan kapal sebelum kandas dapat menjadi salah satu bahan penting untuk mengetahui posisi, arah, kecepatan, serta perubahan haluan kapal.
Begitu pula dengan rekaman GPS dan perangkat navigasi lainnya.
Dari data tersebut, penyidik maupun otoritas pelayaran dapat mengetahui apakah kapal secara perlahan keluar dari jalur, tiba-tiba mengalami perubahan haluan, atau terdapat kondisi tertentu sebelum kapal mendekati pesisir.
Dengan demikian, penyelidikan tidak hanya berdasarkan keterangan awak kapal maupun saksi mata, tetapi dapat diperkuat dengan data elektronik.
Keselamatan Penumpang Harus Menjadi Prioritas
Terlepas dari berbagai pertanyaan yang muncul, hal paling penting dalam insiden ini adalah keselamatan seluruh penumpang dan awak kapal.
Masyarakat berharap seluruh penumpang KM Bunda Maria dapat dievakuasi dalam keadaan selamat dan mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Insiden tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
Kapal penumpang membawa manusia dalam jumlah banyak. Karena itu, setiap potensi kesalahan navigasi, gangguan peralatan, maupun kelalaian dalam pengawasan harus mendapatkan perhatian serius.
Masyarakat Minta Evaluasi Pelayaran Ternate–Babang
Kejadian ini juga mendorong munculnya tuntutan agar sistem keselamatan pelayaran pada rute Ternate–Babang dievaluasi secara menyeluruh.
Evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap KM Bunda Maria, tetapi juga terhadap prosedur keselamatan dan navigasi kapal-kapal lain yang melayani rute serupa.
Masyarakat ingin memastikan bahwa setiap kapal yang membawa penumpang memiliki perangkat navigasi yang berfungsi baik, awak kapal yang kompeten, serta sistem pengawasan yang berjalan sebagaimana mestinya.
Jika kemudian hasil investigasi menemukan adanya kelalaian manusia, maka tentu harus ada tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebaliknya, apabila ditemukan gangguan teknis, maka pihak operator harus memastikan seluruh perangkat diperbaiki sebelum kapal kembali beroperasi.
Bukan Sekadar Mencari Kesalahan, Tetapi Mencegah Korban Terulang
Insiden kandasnya KM Bunda Maria seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang salah.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Jika penyebabnya adalah kesalahan navigasi, maka prosedur navigasi harus diperketat. Jika persoalannya menyangkut kedisiplinan awak kapal, maka sistem pengawasan harus diperbaiki. Jika terdapat masalah perangkat, maka seluruh peralatan navigasi harus diperiksa secara menyeluruh.
Masyarakat tentu berharap hasil investigasi nantinya disampaikan secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan.
Sebab, dalam setiap kecelakaan transportasi laut, keselamatan manusia harus menjadi ukuran utama, sementara penyebab kejadian harus diungkap berdasarkan fakta dan bukti.
Kandasnya KM Bunda Maria di pesisir Dusun Paceda, Desa Akedotilou, akhirnya menjadi pertanyaan besar yang menunggu jawaban: bagaimana kapal yang memiliki perangkat navigasi dapat menyimpang jauh dari jalur pelayaran hingga akhirnya mencapai pesisir?
Pertanyaan tersebut kini menjadi kewenangan pihak berwenang untuk menjawabnya melalui investigasi yang objektif, transparan, dan berbasis data.
Masyarakat berharap kejadian ini menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan keselamatan pelayaran di Maluku Utara, khususnya pada rute Ternate–Babang, sehingga keselamatan penumpang tidak kembali dipertaruhkan akibat kesalahan yang sebenarnya dapat dicegah. (Red)





