TERNATE, Malutline — Provinsi Maluku Utara kembali mencatat capaian membanggakan di sektor ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai 19,64 persen. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,61 persen.
Meski lebih rendah dibanding capaian tertinggi sebelumnya yang sempat menyentuh angka 39,10 persen, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tetap menempatkan daerah ini sebagai salah satu provinsi dengan laju pertumbuhan ekonomi tercepat di Indonesia.
Kuatnya pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tidak lepas dari peran sektor industri pengolahan yang menjadi penopang utama dengan kontribusi mencapai 37,09 persen. Selain itu, sektor perdagangan, pertambangan dan penggalian, administrasi pemerintahan, serta pertanian juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan ekonomi daerah.
Dominasi sektor industri pengolahan menunjukkan bahwa hilirisasi sumber daya alam, khususnya komoditas tambang, mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah ekonomi di daerah.
Salah satu faktor utama yang menjadi kekuatan ekonomi Maluku Utara adalah kekayaan sumber daya nikel. Provinsi ini diketahui menjadi salah satu penghasil nikel terbesar di Indonesia bahkan dunia. Lebih dari 20 persen kebutuhan nikel global disebut berasal dari wilayah Maluku Utara.
Potensi besar tersebut menjadikan Maluku Utara sebagai pusat perhatian investasi nasional maupun internasional, terutama dalam pengembangan industri hilirisasi mineral dan pembangunan kawasan industri berbasis pengolahan nikel.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, pemerintah daerah terus mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Sejak memimpin pada Februari 2025, Sherly dinilai berhasil menghadirkan berbagai kebijakan yang mampu mendorong peningkatan investasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Kinerja tersebut bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri karena dianggap sukses menjadikan potensi sumber daya alam sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi Maluku Utara.
Selain sektor pertambangan dan industri pengolahan, pemerintah daerah juga terus berupaya memperkuat sektor perdagangan dan pertanian agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada industri tambang semata. Langkah tersebut dilakukan guna menciptakan keseimbangan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang tinggi menjadi sinyal positif bagi peningkatan investasi dan pembangunan infrastruktur di kawasan timur Indonesia. Namun demikian, pemerintah juga diingatkan agar pertumbuhan tersebut dapat diiringi dengan pemerataan kesejahteraan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perlindungan lingkungan hidup.
Dengan capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 19,64 persen, Maluku Utara kini semakin diperhitungkan sebagai salah satu daerah dengan perkembangan ekonomi paling pesat di Indonesia.
Pemerintah daerah berharap momentum tersebut dapat terus dijaga untuk memperkuat daya saing daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. (Bul)










