LABUHA –Malutline – Sejumlah warga Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) mengeluhkan kekosongan buku nikah di berbagai Kantor Urusan Agama (KUA). Kondisi ini membuat pasangan suami istri baru kesulitan dalam pengurusan administrasi penting, meski sebagian warga sudah menyetorkan biaya administrasi yang ditetapkan.

Berdasarkan keterangan warga yang ditemui wartawan, mereka mengaku sudah melakukan pembayaran sesuai prosedur untuk pengurusan buku nikah. Namun hingga kini, buku tersebut belum juga diterima dengan alasan stok buku nikah kosong di seluruh KUA di Halsel.

Padahal, buku nikah merupakan dokumen resmi yang sangat vital sebagai legalitas perkawinan. Tanpa buku nikah, banyak pasangan suami istri terhambat dalam pengurusan dokumen lain di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), seperti penerbitan Kartu Keluarga (KK), KTP, hingga akta kelahiran anak.

“Kami sudah bayar, tapi sampai sekarang buku nikah belum ada. Katanya kosong di semua KUA. Padahal buku ini sangat penting untuk urusan ke Capil dan keperluan administrasi lain,” keluh seorang warga yang baru saja menikah.

Dampak Serius pada Rumah Tangga Muda Ketiadaan buku nikah bukan hanya menyulitkan pasangan dalam urusan administrasi, tetapi juga bisa menimbulkan kerugian sosial dan psikologis. Banyak pasangan muda merasa tidak tenang karena status perkawinannya belum sepenuhnya memiliki bukti fisik yang sah.

Selain itu, beberapa pasangan juga mengaku mengalami hambatan saat hendak mengurus keperluan perbankan, BPJS, hingga bantuan sosial yang biasanya mensyaratkan dokumen buku nikah.

Pertanyaan Publik: Transparansi dan Distribusi Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di masyarakat. Apakah kekosongan buku nikah murni karena keterlambatan distribusi dari pusat, atau ada persoalan manajemen di tingkat daerah? Warga mendesak agar Kementerian Agama Kabupaten Halsel memberikan penjelasan terbuka terkait penyebab keterlambatan dan kapan stok buku nikah akan tersedia kembali.

“Kalau memang kosong dari pusat, seharusnya ada surat resmi pemberitahuan. Jangan sampai masyarakat sudah bayar, tapi barangnya tidak ada. Ini membuat orang curiga dan kecewa,” tambah warga lainnya.Mendesak Penyelesaian Cepat

Kekosongan buku nikah di Halsel dianggap sangat mencederai hak masyarakat dalam memperoleh pelayanan publik. Apalagi, di sejumlah daerah lain di Maluku Utara, ketersediaan buku nikah relatif aman. Hal ini membuat publik membandingkan pelayanan KUA Halsel dengan kabupaten/kota lain.

Masyarakat berharap agar Kementerian Agama Kabupaten Halsel segera melakukan langkah cepat, baik dengan mengajukan tambahan stok ke pusat, maupun memberikan solusi sementara berupa surat keterangan sah perkawinan yang bisa dipakai untuk pengurusan administrasi, hingga buku nikah resmi tersedia.

Hingga berita ini dipublikasikan, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Halmahera Selatan belum memberikan keterangan resmi terkait kekosongan buku nikah ini. Sementara itu, warga berharap agar masalah ini bisa segera diatasi, sehingga hak-hak administratif masyarakat tidak terurus terhambat. (Red)

LABUHA, Malutline– Universitas Nurul Hasan (UNSAN) Bacan terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Halmahera Selatan. Pada 29 Agustus 2025, kampus kebanggaan masyarakat Bacan ini sukses menyelenggarakan Asesmen Lapangan oleh tim asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Kehadiran langsung tim asesor BAN-PT menjadi momentum penting bagi UNSAN Bacan dalam upaya meraih akreditasi unggul. Tim asesor yang hadir yaitu:

Prof. Dr. Muhammad Iqbal, M.Sc., Ph.D

Dr. Ir. Abd. Haris, M.P

Prof. Dr. Ansar, M.Si

Apresiasi untuk Seluruh Pihak Rektor Universitas Nurul Hasan Bacan menyampaikan terima kasih mendalam kepada tim asesor atas waktu dan kesediaannya hadir secara langsung di Bacan untuk melakukan asesmen lapangan.

Tak lupa apresiasi juga diberikan kepada Tim Penyusun Borang Akreditasi UNSAN Bacan, para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta stakeholder terkait, termasuk dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan yang ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan penting ini.

“Keberhasilan asesmen ini adalah hasil kerja kolektif seluruh civitas akademika UNSAN Bacan bersama masyarakat dan pemerintah daerah. Kami optimis UNSAN Bacan bisa semakin maju dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” ujar pimpinan UNSAN Bacan.

UNSAN Bacan, Kampus dengan Banyak Program Studi

Sebagai salah satu perguruan tinggi yang berkembang pesat di Maluku Utara, UNSAN Bacan kini memiliki sejumlah program studi yang menjadi pilihan generasi muda Halsel, antara lain:

Prodi Agribisnis

Prodi Perikanan

Prodi Kehutanan

Prodi Hukum

Prodi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)

Prodi Pertambangan

Prodi TPI (Teknologi Pendidikan Islam)

Dengan beragam pilihan prodi tersebut, UNSAN Bacan bertekad mencetak lulusan yang unggul, berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.Menuju Kampus Unggul

Melalui asesmen lapangan ini, UNSAN Bacan semakin mantap menatap masa depan sebagai kampus unggulan di Maluku Utara. Tidak hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, UNSAN Bacan juga berkomitmen mencetak sumber daya manusia yang siap membangun Halmahera Selatan dan daerah-daerah sekitarnya. (Red)

LABUHA, Malutline– Nama Dr. Muhammad Kasuba masih melekat kuat di hati masyarakat Halmahera Selatan (Halsel). Dua periode menjabat sebagai Bupati Halsel, dari 2005–2010 dan 2011–2016, ia meninggalkan warisan besar berupa program-program pro-rakyat yang hingga kini masih dikenang. Salah satu yang paling fenomenal adalah program pendidikan gratis dan kesehatan gratis, yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia kala itu.

Kebijakan tersebut tidak hanya populer, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat Halsel, terutama kalangan kurang mampu. Rakyat kecil merasakan langsung manfaat kepemimpinannya, sehingga sosoknya tetap dikenang sebagai bupati yang membumikan visi pelayanan publik yang sederhana: memanusiakan manusia.

Pendidikan Gratis, Investasi untuk Generasi Muda

Di masa kepemimpinannya, Muhammad Kasuba berani mengambil langkah bersejarah dengan menghapus biaya sekolah bagi seluruh siswa SD hingga SMA. Program ini lahir dari keyakinannya bahwa pendidikan adalah pintu utama kemajuan sebuah daerah.

“Kalau anak-anak Halsel bisa sekolah tanpa terbebani biaya, mereka akan punya masa depan yang lebih baik. Itulah cita-cita utama saya,” ungkapnya dalam salah satu kesempatan wawancara saat menjabat.

Program ini menjadi tonggak penting karena mampu menekan angka putus sekolah di Halsel secara signifikan. Anak-anak dari keluarga petani, nelayan, hingga buruh yang sebelumnya kesulitan membayar biaya sekolah, akhirnya bisa menempuh pendidikan tanpa cemas soal biaya.

Kesehatan Gratis, Perlindungan untuk Rakyat Kecil

Selain pendidikan, bidang kesehatan juga mendapat perhatian serius. Muhammad Kasuba meluncurkan program kesehatan gratis bagi seluruh masyarakat Halsel. Warga yang sakit cukup membawa KTP atau kartu keluarga untuk mendapat layanan kesehatan tanpa dipungut biaya.

Program ini sangat membantu, terutama bagi masyarakat di desa-desa terpencil yang sebelumnya kesulitan mengakses layanan kesehatan karena mahalnya biaya pengobatan. “Saya tidak ingin ada rakyat Halsel yang sakit lalu tidak bisa berobat karena tidak punya uang,” tegasnya kala itu.

Kebijakan ini menjadikan Halsel sebagai daerah pionir di Indonesia dalam penerapan layanan kesehatan gratis. Bahkan, banyak kepala daerah lain yang kemudian datang belajar dari Halsel untuk mengadopsi program serupa.

Dikenang sebagai Pemimpin Rakyat

Bukan hanya pendidikan dan kesehatan, kepemimpinan Muhammad Kasuba juga ditandai dengan pembangunan infrastruktur dasar, pemberdayaan masyarakat, hingga program sosial berbasis agama. Namun, yang paling membekas di hati masyarakat adalah keberpihakannya kepada rakyat kecil.

Warga Halsel masih mengenang bagaimana ia kerap turun langsung ke desa-desa, berdialog dengan masyarakat, dan memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Sikap sederhana, merakyat, dan religius membuatnya dicintai lintas kalangan.

Jejak Kepemimpinan yang Menjadi Inspirasi

Hari ini, meski sudah tidak lagi menjabat sebagai bupati, nama Muhammad Kasuba tetap harum. Banyak masyarakat menilai, jejak kepemimpinannya menjadi standar sekaligus inspirasi bagi pemimpin daerah berikutnya.

“Pak Muhammad Kasuba meninggalkan warisan besar bagi Halsel. Pendidikan gratis dan kesehatan gratis itu bukan sekadar program, tapi bukti nyata keberpihakan kepada rakyat,” ujar seorang tokoh masyarakat Bacan.

Membangun dengan Hati

Apa yang dilakukan Muhammad Kasuba selama dua periode kepemimpinannya menunjukkan bahwa pembangunan tidak semata soal infrastruktur, tetapi juga soal membangun manusia. Filosofi ini membuatnya dikenang bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai sosok pemimpin yang benar-benar mengemban amanat rakyat.

Dengan segala prestasinya, Dr. Muhammad Kasuba menorehkan sejarah bahwa Halsel pernah dipimpin oleh seorang bupati yang berani membuat terobosan, berpihak kepada rakyat kecil, dan membangun daerah dengan hati. (Red)

Labuha, Malutline – Sebuah mobil Toyota Avanza bernomor polisi DG 1354 P mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Oesman Syah, Desa Tomori, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Senin (29/9/2025) sekitar pukul 05.30 WIT. Kendaraan dilaporkan menabrak tiang listrik hingga mengalami kerusakan parah.

Bagian depan mobil ringsek, kaca belakang terlepas, serta dua ban depan dan satu ban belakang pecah. Polisi menduga laju kendaraan sangat tinggi sebelum benturan terjadi. Saat ini, mobil sudah diamankan di halaman Polres Halsel untuk proses identifikasi forensik.

Kasat Lantas Polres Halsel AKP Adil, S.AP. menyatakan, pihaknya telah mengerahkan Unit Penegakan Hukum (Gakkum) untuk melacak identitas pengemudi dan penumpang. “Kami juga menyisir rumah sakit, untuk memastikan apakah ada korban yang sempat mencari pertolongan medis. Pelaku masih dicari untuk menemukan titik terang,” ujarnya.

Berdasarkan perkiraan, terdapat sekitar 4–5 orang dalam mobil tersebut. Namun hingga kini, identitas pengemudi maupun penumpang masih dalam penyelidikan. Polisi juga mengumpulkan rekaman CCTV di sepanjang jalan untuk mengungkap kronologi pasti kecelakaan.

Sejumlah warga menyebutkan, mobil itu merupakan milik seorang oknum anggota Polres Halsel. Saat kejadian, kendaraan diduga dikemudikan anak dari oknum polisi tersebut dan ditumpangi sejumlah waria yang dalam kondisi mabuk berat. Usai menabrak tiang listrik, sopir dan penumpangnya langsung melarikan diri.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Satlantas Polres Halsel masih terus melakukan penelusuran guna mengungkap siapa pihak yang bertanggung jawab atas insiden kecelakaan tunggal ini. (Red)

Labuha, Malutline – Fajar 1 Oktober segera tiba. Di berbagai sudut Halmahera Selatan, nuansa persiapan menyambut Hari Kesaktian Pancasila mulai terasa. Dari kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga desa-desa di pelosok, bendera Merah Putih siap dikibarkan sebagai simbol penghormatan terhadap ideologi bangsa.

Instruksi itu datang langsung dari Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba. Ia meminta seluruh pejabat daerah hingga kepala desa memastikan Merah Putih berkibar sejak pagi. Tidak hanya itu, dokumentasi pengibaran juga harus dilaporkan, sebagai bentuk kepatuhan dan tanda komitmen bersama.

“Pengibaran bendera bukan sekadar seremonial, tetapi pengingat bahwa Pancasila tetap menjadi dasar persatuan bangsa di tengah tantangan zaman,” ujar Bassam dalam arahannya.

Bagi masyarakat Halsel, Pancasila bukanlah sekadar lima sila yang dihafal di sekolah. Nilai-nilainya hidup dalam keseharian: semangat gotong royong di desa, musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, hingga toleransi yang terus dijaga di tengah keberagaman.

Di sebuah desa pesisir, warga sudah bersiap dengan bambu dan tali untuk memasang bendera di depan rumah. Di kantor kecamatan, staf menyiapkan dokumentasi, memastikan instruksi Bupati berjalan sebagaimana mestinya. Ada kebanggaan tersendiri melihat Merah Putih berkibar serentak, seakan menegaskan bahwa Halsel tetap teguh bersama Indonesia.

Hari Kesaktian Pancasila adalah momen untuk mengenang sejarah kelam bangsa, sekaligus meneguhkan kembali keyakinan bahwa persatuan adalah kunci menghadapi segala ujian. Di Halmahera Selatan, instruksi sederhana tentang pengibaran bendera itu menjadi simbol besar: bahwa di ujung timur Nusantara, semangat Pancasila terus hidup dan dijaga. (Red)