HALSEL, Malutline- Suasana Rabu pagi (3/12/2025) sekitar pukul 09.00 WIT mendadak mencekam di SMP Negeri 42 Desa Orimakurunga, Kecamatan Kayoa Selatan, setelah terdengar bunyi ledakan disertai percikan api dari bagian atas ruang kelas IX.

Insiden tersebut membuat para siswa yang sedang mengikuti proses belajar mengajar panik dan langsung berhamburan keluar dari kelas untuk menyelamatkan diri. Beruntung tidak ada korban dalam peristiwa itu.

Kepala Sekolah SMP Negeri 42 Halmahera Selatan, Hi Wahab Hi Talib, melalui akun Facebook resminya membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa sumber ledakan berasal dari kabel jaringan listrik yang berada tepat di atas atap ruang kelas.

“Ledakan dan percikan api membuat siswa panik dan keluar dari kelas. Kami berharap kabel jaringan listrik dapat segera dipindahkan dari atas atap bangunan sekolah agar tidak terjadi hal yang lebih buruk di kemudian hari,” tulis Wahab.

Pihak sekolah berharap perhatian serius dari instansi terkait untuk mencegah kejadian serupa, mengingat posisi kabel listrik yang melintas dekat bangunan sekolah berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik. (Red)

Ternate, Malutline— Jagat media sosial, khususnya TikTok, tengah diramaikan kritik publik terkait video para pimpinan dan ASN Pemerintah Kota Ternate yang terlihat berjoget ria dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun Korpri. Momen tersebut menuai sorotan tajam karena terjadi bersamaan dengan situasi bencana besar yang menimpa masyarakat di Sumatra dan Aceh.

Dalam sejumlah unggahan warganet, terlihat masyarakat mempertanyakan kepekaan para pejabat daerah. “Tong sayangkan saja, di tengah situasi bencana di Sumatra dan Aceh, di sana sudara-sudara kita lagi susah, seluruh kekuatan negara diturunkan bahkan Presiden juga turun langsung karena prihatin. Tapi di kantor Wali Kota Ternate para pemimpin dan ASN berjoget dalam HUT Korpri. Sangat disayangkan,” tulis salah satu akun di TikTok.

Komentar tersebut mendapat dukungan dari banyak warganet lain yang menilai bahwa kegiatan hiburan itu tidak mempertimbangkan suasana duka nasional. Mereka berharap pejabat daerah menunjukkan empati dan mengutamakan solidaritas terhadap korban bencana.

Hingga berita ini dirilis, pihak Pemerintah Kota Ternate belum memberikan klarifikasi resmi terkait acara tersebut. Namun publik mendesak agar pemerintah lebih berhati-hati dalam menyelenggarakan kegiatan di tengah situasi darurat kemanusiaan yang sedang ditangani negara.(Red)

HALSEL, Malutline— Program santunan kematian Pemerintah Daerah Halmahera Selatan yang dikelola melalui Badan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) dinyatakan telah kehabisan anggaran. Informasi ini dibenarkan langsung oleh pejabat terkait, Yudi Eka Prasetiya, yang mengakui bahwa alokasi dana untuk tahun berjalan sudah tidak tersedia.

“Benar, anggaran santunan kematian yang melekat di Bagian Kesra sudah habis,” kata Yudi saat dikonfirmasi. Ia menyebutkan bahwa tingginya jumlah pengajuan santunan dalam beberapa bulan terakhir menjadi salah satu faktor cepatnya penyerap­an anggaran.

Program santunan kematian merupakan bantuan yang diberikan kepada keluarga ahli waris untuk meringankan biaya pemakaman dan kebutuhan darurat setelah kehilangan anggota keluarga. Namun dengan habisnya anggaran tersebut, sejumlah warga yang mengajukan bantuan dikabarkan terpaksa harus menunggu hingga kebijakan anggaran berikutnya.

Sejumlah tokoh masyarakat menyayangkan kondisi ini, mengingat santunan kematian termasuk program yang sangat dibutuhkan warga, terutama keluarga kurang mampu.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah, baik melalui penyesuaian anggaran perubahan maupun kebijakan tambahan, agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti terlalu lama.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemda belum mengeluarkan keterangan resmi mengenai solusi atau tindak lanjut atas kekosongan anggaran tersebut. (Red)

LABUHA, Malutline — Program transmigrasi di Desa Jojame, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali mendapat sorotan. Tokoh masyarakat Halsel yang juga mantan anggota DPRD Halsel dari Partai Hanura, Samuel Ongky, menyatakan bahwa program tersebut seharusnya memprioritaskan warga lokal yang sudah berkeluarga namun belum memiliki lahan kebun.

Menurutnya, kondisi lahan di Halmahera Selatan yang semakin terbatas membuat prioritas transmigrasi dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa, dinilai kurang tepat.

“Saya berpendapat program transmigrasi di Desa Jojame seharusnya diperuntukkan bagi warga lokal Halsel yang sudah berkeluarga dan belum punya lahan kebun, agar mereka punya masa depan yang lebih baik,” ujar Samuel.

Ia menegaskan bahwa warga lokal yang belum memiliki lahan merupakan kelompok yang harus mendapat perhatian pemerintah daerah untuk mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Kalau transmigrasi dari Jawa, saya kurang setuju. Lahan di Halsel semakin sedikit. Sebaiknya fokus pada transmigrasi lokal saja,” tambahnya.

Pernyataan tersebut mengundang perhatian publik, terutama di tengah wacana pengembangan wilayah dan pemanfaatan lahan bagi masyarakat. Samuel berharap pemerintah dapat meninjau kembali skema transmigrasi agar lebih berpihak pada masyarakat lokal yang membutuhkan lahan untuk bertani maupun berkebun.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah belum memberikan tanggapan terkait pernyataan tersebut.(Red)

HALSEL, Malutline— Suasana penuh haru dan kebahagiaan menyelimuti prosesi Aqiqah Muhammad Sa’ad Abdurahman Kasuba, putra Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba. Acara yang berlangsung di kediaman keluarga besar Kasuba di Desa Babang itu dihadiri kerabat dekat dan sejumlah tokoh penting, sekaligus menjadi momentum penuh doa untuk sang buah hati.

Ungkapan syukur keluarga terlihat dari lantunan doa-doa yang mengiringi jalannya prosesi. “MaasyaAllah Tabaarakallah… semoga semua bagian dalam hidupnya menjadi keberkahan dan kebaikan dunia akhirat,” demikian harapan yang disampaikan keluarga untuk Muhammad Sa’ad.

Doa Qur’ani رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا turut dibacakan sebagai pengharapan agar sang anak tumbuh menjadi generasi yang menyejukkan hati, berakhlak mulia, dan menjadi penerus kebaikan di masa depan.

Aqiqah ini menjadi simbol rasa syukur dan komitmen keluarga besar Kasuba dalam memberikan yang terbaik bagi putra mereka, sekaligus mempererat tali silaturahmi di antara keluarga dan tamu yang hadir.

Momentum sakral tersebut tidak hanya menjadi catatan indah bagi keluarga, tetapi juga menjadi doa bersama agar Muhammad Sa’ad Abdurahman Kasuba tumbuh dalam lindungan Allah SWT dan menjadi kebanggaan masyarakat Halmahera Selatan. (Red)