HALSEL,Malutline— Insiden kecelakaan tragis yang terjadi pada Selasa, 13 Januari 2026, sekitar pukul 15.20 WIT di Desa Samo, Kecamatan Gane Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali membuka mata publik terhadap lemahnya sistem pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan. Peristiwa tersebut merenggut nyawa dua anak di bawah umur berinisial SJ dan AI.
Tragedi ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi cermin kelalaian bersama, khususnya bagi pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam pelayanan dasar masyarakat. Mulai dari Pemerintah Kecamatan Gane Barat Utara, UPTD Puskesmas Dolik, Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan, hingga Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan sebagai pemegang otoritas tertinggi di daerah.
Dari peristiwa memilukan ini, muncul sejumlah catatan penting yang dinilai harus segera menjadi perhatian serius. Warga menilai, kematian dua anak tersebut bukan semata-mata akibat kecelakaan, melainkan diperparah oleh keterbatasan fasilitas dan kesiapsiagaan layanan kesehatan.
Seorang warga setempat menyampaikan bahwa masih banyak persoalan mendasar yang selama ini dihadapi masyarakat Gane Barat Utara ketika membutuhkan penanganan medis darurat. Salah satunya adalah belum optimalnya fasilitas penanganan medis di setiap Puskesmas Pembantu (Pustu).
“Pustu ada, petugas ada, tapi fasilitas yang dibutuhkan sering tidak tersedia. Dalam kondisi darurat, ini sangat berbahaya,” ungkap warga dengan nada kecewa.
Selain itu, persoalan transportasi rujukan juga menjadi masalah krusial. Hingga saat ini, fasilitas ambulans laut yang sangat dibutuhkan untuk wilayah kepulauan masih belum tersedia secara memadai.
Akibatnya, pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit di wilayah lain terpaksa menunggu lama untuk menyeberang laut.
“Kalau pasien kritis dan harus dirujuk, tapi ambulans laut tidak ada, maka yang terjadi hanya buang waktu. Kita menunggu sambil melihat pasien menghembuskan napas terakhir,” ujar warga tersebut dengan nada pilu.
Tak hanya itu, kondisi fasilitas kesehatan di Puskesmas Dolik juga disorot karena dinilai masih memiliki banyak kekurangan dan perlu segera ditinjau ulang. Ketersediaan alat medis, obat-obatan, hingga sarana penunjang lainnya dinilai belum memadai untuk menangani kasus-kasus darurat.
Sorotan tajam juga diarahkan pada kehadiran tenaga medis, khususnya dokter. Warga menilai, dokter seharusnya berada di tempat tugas dan siap siaga, terutama di luar hari libur. Ketidakhadiran dokter pada saat-saat krusial dinilai dapat berdampak fatal bagi keselamatan pasien.
Atas berbagai persoalan tersebut, warga berharap kepada Camat Gane Barat Utara dan Kepala UPTD Puskesmas Dolik agar dapat menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada dinas terkait, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan. Harapan besar juga disematkan kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan agar segera mengambil langkah konkret dan tidak menutup mata terhadap penderitaan masyarakat di wilayah terpencil.
“Ini bukan sekadar kritik, tapi jeritan masyarakat. Kami ingin ke depan, jika ada warga Gane Barat Utara yang kritis dan membutuhkan penanganan medis atau rujukan ke rumah sakit, mereka bisa mendapatkan fasilitas yang layak dan memadai,” tegas warga.
Tragedi yang merenggut nyawa SJ dan AI kini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan di Halmahera Selatan. Masyarakat berharap, duka ini tidak berlalu begitu saja tanpa evaluasi dan perbaikan nyata, agar kalimat duka innalillahi tidak terus berulang akibat kelalaian sistem yang seharusnya melindungi nyawa. (Haji/red)





Peristiwa ini kemudian disampaikan kepada masyarakat luas dengan harapan ada warga yang mengenali kedua anak tersebut atau mengetahui identitas keluarganya. Warga juga mengimbau kepada siapa pun yang merasa kehilangan anak atau mengenali ciri-ciri keduanya agar segera menghubungi pihak desa atau datang langsung ke kediaman Kepala Desa Imbu-Imbu.