HALSEL, Malutline – Gerakan Pramuka Kabupaten Halmahera Selatan kembali meneguhkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kepramukaan melalui pelaksanaan Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar (KMD) yang akan digelar pada 21 hingga 25 Januari 2026 di Bumi Perkemahan Omamoi, Panamboang, Bacan Selatan.

Kegiatan bergengsi ini mengusung tema besar “Sinergi Pembina Pramuka Memperkuat Kemitraan untuk Pembinaan yang Inovatif dan Berdampak”, sebuah tema yang mencerminkan semangat kolaborasi, pembaruan, serta tekad kuat untuk melahirkan pembina-pembina Pramuka yang profesional, kreatif, dan berdaya saing.

Pelaksanaan KMD tahun ini mendapat perhatian khusus karena dihadiri langsung oleh dua tokoh penting kepramukaan Halmahera Selatan, yakni Kakak Bassam Kasuba, selaku Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Halmahera Selatan, serta Kakak Rifaat, Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Halmahera Selatan. Kehadiran kedua pimpinan ini menjadi simbol kuatnya dukungan pimpinan daerah terhadap kemajuan pembinaan generasi muda melalui gerakan Pramuka.

Dalam suasana perkemahan yang sarat nilai kebersamaan dan pendidikan karakter, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang inspiratif bagi para peserta. Selama lima hari pelaksanaan, para calon pembina akan dibekali berbagai materi dasar kepramukaan, mulai dari metodik pembinaan, kepemimpinan, manajemen satuan, hingga penguatan nilai-nilai kepramukaan yang berlandaskan Dasa Dharma dan Tri Satya.

Ketua Mabicab Halmahera Selatan, Kakak Bassam Kasuba, dalam pesannya menegaskan bahwa pembina Pramuka memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, keberhasilan pembinaan di gugus depan sangat ditentukan oleh kualitas pembina yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan pengabdian.

“Melalui kursus ini, kita berharap lahir para pembina yang tidak hanya mahir secara keterampilan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, jiwa kepemimpinan, dan semangat pengabdian yang tinggi kepada bangsa dan daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kwarcab Halmahera Selatan, Kakak Rifaat, menyampaikan bahwa KMD merupakan fondasi penting dalam jenjang pendidikan pembina. Ia menekankan pentingnya inovasi dalam pembinaan agar kegiatan Pramuka tetap relevan dengan perkembangan zaman dan mampu menjawab tantangan generasi muda saat ini.

“Tema sinergi dan kemitraan menjadi sangat penting. Pembinaan Pramuka tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus melibatkan sekolah, orang tua, pemerintah, serta seluruh elemen masyarakat,” tuturnya.

Bumi Perkemahan Omamoi yang dipilih sebagai lokasi kegiatan menghadirkan suasana alam yang asri dan mendukung proses pendidikan karakter. Di tengah rindangnya pepohonan dan semilir angin pesisir Bacan Selatan, para peserta diharapkan dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat, disiplin, dan rasa tanggung jawab.

Kegiatan Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar ini tidak hanya menjadi ajang peningkatan kapasitas, tetapi juga wahana silaturahmi, berbagi pengalaman, serta mempererat persaudaraan antarpembina dari berbagai gugus depan di Halmahera Selatan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi investasi jangka panjang bagi pembentukan generasi muda yang berkarakter, mandiri, dan cinta tanah air.

Dengan terselenggaranya KMD 2026 ini, Gerakan Pramuka Halmahera Selatan optimistis dapat melahirkan pembina-pembina andal yang mampu menggerakkan satuan Pramuka secara lebih kreatif, inovatif, dan berdampak nyata bagi pembangunan karakter generasi penerus bangsa. (Haji)

HALSEL, Malutline-— Warga Desa Kaireu, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, digegerkan dengan penemuan seorang warga yang ditemukan meninggal dunia di samping rumahnya, Senin (19/1/2026) sekitar pukul 10.40 WIT.

Korban diketahui bernama Lasamadi, warga setempat. Jasad korban ditemukan tergeletak di samping rumah miliknya dalam kondisi tidak bernyawa. Penemuan tersebut sontak mengundang perhatian warga sekitar dan menghebohkan lingkungan setempat.

Informasi awal terkait peristiwa ini pertama kali diterima media dari seorang warga bernama Edo, yang melaporkan kejadian tersebut melalui sambungan telepon WhatsApp. Ia menyampaikan bahwa telah terjadi penemuan mayat seorang warga di Desa Kaireu.

Menurut keterangan warga setempat, Rusdi, penemuan mayat bermula saat dirinya hendak meminjam sepeda motor milik korban. Namun setibanya di rumah korban, ia melihat korban sudah terbaring di samping rumah dalam keadaan tidak bernyawa.

“Saya mau pinjam motor, tapi waktu sampai di rumah, korban sudah terbaring dan tidak bernyawa di samping rumah,” ujar Rusdi kepada warga.

Melihat kondisi tersebut, Rusdi segera memberitahukan warga sekitar untuk memastikan keadaan korban sekaligus meminta agar peristiwa itu segera dilaporkan kepada pihak berwajib. Warga kemudian berdatangan ke lokasi untuk melihat langsung kejadian tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga bersama warga setempat masih menunggu kedatangan aparat kepolisian dari Polsek Bacan Timur untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut. Polisi diharapkan segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengungkap penyebab pasti kematian korban.

Belum diketahui secara pasti penyebab meninggalnya korban. Namun, pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk meminta keterangan saksi-saksi di sekitar lokasi kejadian.

Peristiwa ini menambah daftar kejadian penemuan mayat yang menggegerkan masyarakat di wilayah Halmahera Selatan. Warga berharap pihak kepolisian dapat segera mengungkap penyebab kematian korban agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. (Haji)

HALBAR, Malutline— Meski banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Barat telah surut, dampaknya masih dirasakan warga hingga kini. Di beberapa desa terdampak, kondisi permukiman masih memprihatinkan, dengan rumah warga rusak, sebagian bangunan roboh, serta lingkungan dipenuhi lumpur dan material sisa banjir.

Aktivitas dan akses masyarakat belum sepenuhnya pulih. Warga masih bergotong royong membersihkan lumpur dari rumah dan fasilitas umum agar dapat kembali ditempati. Pada fase pemulihan awal pascabencana ini, kebutuhan akan alat kebersihan dan air bersih menjadi sangat mendesak.

Merespons kondisi tersebut, Turun Tangan Maluku Utara berkolaborasi dengan Ayo Baronda menggelar kegiatan penggalangan donasi sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Bantuan difokuskan pada penyediaan air minum dan alat kebersihan lingkungan di salah satu titik terdampak, yakni Desa Tongute Ternate, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat.

Koordinator Turun Tangan Maluku Utara, Ariyo Dermawan, mengatakan bahwa fase pascabencana sering kali kurang mendapat perhatian, padahal menjadi masa krusial bagi masyarakat terdampak.
“Ketika banjir sudah surut, tantangan justru semakin nyata bagi warga. Rumah rusak, lumpur menumpuk, dan aktivitas belum bisa berjalan normal. Pada fase inilah solidaritas dan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan,” ujarnya saat dihubungi.

Ia menambahkan, seluruh proses distribusi bantuan dilakukan melalui koordinasi dengan posko resmi serta aparat desa setempat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan tersalurkan secara tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan bantuan dari instansi pemerintah.

Turun Tangan Maluku Utara bersama Ayo Baronda mengapresiasi seluruh donatur, relawan, dan pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam aksi kemanusiaan tersebut. Kolaborasi lintas komunitas ini diharapkan dapat meringankan beban warga sekaligus mempercepat proses pemulihan sosial dan lingkungan di wilayah terdampak banjir dan longsor di Halmahera Barat. (Red)

HALSEL, Malutline– Setelah melalui proses dan kerja keras bersama, Pemerintah Desa Gunange, Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara akhirnya menuntaskan pemasangan pipa air pancuran Ake Dabo, Kehadiran fasilitas ini menjadi harapan baru bagi masyarakat dalam memperoleh akses air bersih yang layak dan berkelanjutan.

Kepala Desa Gunange, Den Muhajir, menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan sarana air bersih tersebut. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah desa terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

“Alhamdulillah, pemasangan pipa air Ake Dabo telah tuntas. Ini adalah hasil kebersamaan dan gotong royong kita semua. Semoga airnya mengalir lancar dan membawa manfaat bagi seluruh warga,” ujar Den Muhajir.

Menurutnya, air bukan hanya sekadar kebutuhan harian, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Desa Gunange kecamatan kayoa untuk memiliki rasa tanggung jawab dalam merawat pipa air yang telah dibangun.

“Fasilitas ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Jika kita jaga bersama, insya Allah air bersih ini bisa dinikmati hingga anak cucu kita,” tambahnya.

Lebih lanjut, Den Muhajir berharap keberadaan pancuran Ake Dabo dapat memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan air secara bijak demi keberlanjutan sumber daya alam.

Pemerintah Desa Gunange optimistis bahwa akses air bersih ini akan memberikan dampak positif bagi kesehatan, kesejahteraan, serta kualitas hidup masyarakat, sekaligus menjadi langkah awal menuju desa yang lebih mandiri dan sejahtera.

Atas kerja keras kepala Desa Den Muhajir tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat Desa Gunange kecamatan kayoa secara keseluruhan ujar salah satu warga gunange. (Haji)

Jakarta, Malutline– Konstelasi politik nasional pasca-Pemilu 2024 mulai memperlihatkan dinamika baru yang kian menarik untuk dicermati. Sejumlah figur bermunculan dan mulai diperbincangkan publik sebagai kandidat potensial dalam bursa Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2029. Di antara nama-nama tersebut, Sherly Tjoanda mencuri perhatian setelah disebut masuk dalam radar calon wakil presiden (cawapres) dengan tingkat elektabilitas yang dinilai menjanjikan, khususnya di kalangan pemilih muda.

Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis lembaga riset independen dan dipublikasikan oleh platform media digital NOWDOTS, Sherly Tjoanda mencatatkan tingkat dukungan sebesar 7,25 persen di segmen pemilih muda. Capaian ini menempatkannya di atas Gibran Rakabuming Raka, yang meraih 6,13 persen. Meski selisih angka tersebut relatif tipis, temuan ini dinilai signifikan karena menunjukkan adanya pergeseran preferensi politik generasi muda yang semakin terbuka terhadap figur-figur alternatif di luar arus utama kekuasaan.

Pengamat politik menilai, menguatnya elektabilitas Sherly Tjoanda tidak terjadi secara tiba-tiba. Sosoknya dinilai merepresentasikan wajah kepemimpinan baru yang modern, komunikatif, serta responsif terhadap isu-isu strategis yang dekat dengan kehidupan anak muda. Narasi pembangunan berkelanjutan, penguatan peran perempuan, serta pemberdayaan generasi muda menjadi tema-tema yang kerap melekat dalam citra publik Sherly.

Di sisi lain, Gibran Rakabuming Raka tetap dipandang sebagai figur kuat dalam lanskap politik nasional. Dengan latar belakang keluarga politik dan pengalaman di pemerintahan, Gibran masih memiliki basis dukungan yang solid, terutama dari pemilih yang menginginkan kesinambungan kepemimpinan nasional. Namun, hasil survei ini mengindikasikan bahwa generasi muda kini semakin kritis dan selektif, tidak semata-mata mempertimbangkan popularitas atau garis keturunan politik.

Menariknya, diskursus politik yang berkembang belakangan juga mulai mengaitkan kemungkinan terbentuknya duet-duet potensial menuju 2029. Salah satu yang ramai diperbincangkan publik adalah wacana duet Prabowo Subianto–Sherly Tjoanda. Kombinasi ini dinilai memiliki daya tarik tersendiri karena merepresentasikan pertemuan antara pengalaman politik nasional yang matang dan figur perempuan muda yang progresif serta adaptif terhadap perubahan zaman.

Sejumlah analis menilai, duet semacam ini berpotensi menjangkau spektrum pemilih yang lebih luas. Prabowo Subianto dikenal memiliki basis pemilih nasionalis dan loyal yang kuat, sementara Sherly Tjoanda dinilai mampu menggaet dukungan pemilih muda, pemilih perempuan, serta kelompok urban yang menginginkan pembaruan dalam gaya kepemimpinan.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa peta politik menuju 2029 masih sangat cair dan dinamis. Elektabilitas figur-figur yang kini muncul masih berpotensi berubah seiring waktu, dipengaruhi oleh kinerja, konsistensi komunikasi publik, serta kemampuan merespons isu-isu strategis nasional yang berkembang. Dengan rentang waktu yang masih cukup panjang, ruang kompetisi tetap terbuka lebar bagi figur-figur lain untuk menguatkan posisi mereka di mata publik.

Fenomena menguatnya nama-nama baru dalam bursa cawapres 2029 mencerminkan semakin dewasanya demokrasi Indonesia. Pemilih, khususnya generasi muda, tidak lagi terpaku pada nama besar semata, melainkan mulai menimbang kapasitas kepemimpinan, gagasan, serta rekam jejak yang ditawarkan.

Ke depan, publik akan terus mencermati langkah-langkah politik Sherly Tjoanda dan tokoh-tokoh lainnya dalam membangun komunikasi, memperluas basis dukungan, serta menghadirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Apakah tren dukungan ini mampu dipertahankan atau justru bergeser, akan sangat bergantung pada konsistensi, integritas, dan kemampuan menjawab harapan rakyat.

Satu hal yang pasti, suhu politik menuju 2029 mulai menghangat. Persaingan gagasan antara generasi pemimpin lama dan baru dipastikan akan menjadi dinamika menarik yang mewarnai perjalanan demokrasi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. (Haji