Halsel,Malutline – 28 Juni 2025  Sebuah video yang beredar di media sosial Facebook memicu perhatian publik setelah menampilkan dugaan kelalaian dalam penanganan medis terhadap seorang karyawan PT Parama Group, yang beroperasi di bawah naungan PT Harita Group, perusahaan pertambangan nikel di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Dalam video berdurasi sekitar dua menit tersebut, terlihat seorang karyawan dalam kondisi kritis dievakuasi menggunakan ambulans menuju sebuah longboat. Ironisnya, korban tidak tampak mendapatkan tindakan medis seperti pemasangan infus atau peralatan penunjang lainnya. Lebih memprihatinkan lagi, korban disebut ditinggalkan tanpa pendampingan tenaga medis sebelum longboat berangkat menuju RSUD Labuha.

Identitas korban belum diumumkan secara resmi oleh perusahaan maupun pihak rumah sakit. Namun, korban disebut merupakan salah satu karyawan PT Parama Group yang bertugas di area tambang nikel milik PT Harita Group.

Dalam video tersebut, salah satu warga yang berada di dalam longboat sempat meminta tolong kepada rekan-rekannya untuk menghubungi pihak perusahaan agar segera menjemput jenazah. Warga menduga kuat bahwa kematian korban diakibatkan oleh kelalaian perusahaan dalam memberikan penanganan medis yang semestinya.

Kasus ini menyoroti pentingnya standar pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan perusahaan tambang. Dugaan bahwa tidak adanya prosedur penanganan darurat yang sesuai menjadi sorotan utama dalam perbincangan netizen dan masyarakat lokal.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT Harita Group dan PT Parama Group masih belum memberikan keterangan resmi meskipun upaya konfirmasi oleh media terus dilakukan.

Masyarakat dan keluarga korban berharap adanya transparansi dan pertanggungjawaban dari pihak perusahaan. Sementara itu, pihak berwenang diharapkan segera melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian korban dan apakah terdapat pelanggaran prosedur keselamatan kerja. (Red)

Halsel Malutline com-Setelah sempat digantikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) beberapa bulan terakhir, Hud H. Ibrahim resmi kembali menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Halmahera Selatan. Pengembalian jabatan tersebut ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, yang berlangsung di Hotel Sahid Bela, di selah-selah Kegiatan Rakerda Partai Demokrat Provinsi Maluku Utara, Kamis, (26/6).

Penyerahan SK dilakukan secara langsung oleh Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Maluku Utara, M. Rahmi Husen, di dampingi dua orang Pengurus DPP. Prosesi tersebut menjadi momentum penting yang mempertegas kepercayaan partai terhadap kepemimpinan Hud H. Ibrahim di Halmahera Selatan.

Hud menyampaikan terima kasih kepada DPP dan DPD Partai Demokrat atas kepercayaan yang diberikan kembali kepadanya. Ia berkomitmen untuk memperkuat konsolidasi internal dan membawa Partai Demokrat di Halmahera Selatan semakin solid menghadapi agenda politik ke depan.

“Dengan amanah ini, saya siap bekerja lebih keras untuk membesarkan Partai Demokrat” tuturnya.

Hud H. Ibrahim juga menegaskan pentingnya soliditas dan loyalitas seluruh kader serta pengurus DPC dalam menjalankan tugas dan misi partai ke depan.

“Saya mengajak semua kader Partai Demokat Halmahera Selatan ada dalam satu komando, jangan ciptakan ruang friksi. Kita harus solid dalam satu barisan, bekerja secara terstruktur, sistematis, dan masif. Karena Hanya dengan kekompakan, Partai Demokrat akan semakin kuat dan dicintai rakyat” tegas Hud.

Ia juga menyatakan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur organisasi partai, mulai dari tingkat cabang hingga ke ranting desa. Evaluasi ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pembenahan internal dalam menghadapi berbagai momentum politik ke depan.

“Pembenahan struktur sampai ke tingkat desa adalah langkah penting dan strategis. Kita ingin memastikan seluruh jaringan partai aktif dan solid” Pungkasnya. (Red)

Halsel Malutline com-Perusahaan tambang nikel yang beroperasi di site Haul Sagu ini menjadi inisiator dan pendukung utama Pelatihan Pemahaman Konsep Dasar Guru Profesional (Calon Guru Sertifikasi) yang resmi dibuka pada Senin, 23 Juni 2025.

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Sekolah dan Laboratorium Komputer MTs Arrahman Jikotamo, diikuti antusias oleh 22 guru dari berbagai madrasah di Kecamatan Obi.

Para peserta pelatihan berasal dari MAS Al Maarif Jikotamo, MTs Arrahman Jikotamo, MIS Laiwui, dan MIS Nurul Hasan Desa Baru.

Pelatihan ini secara spesifik dirancang untuk membekali para calon guru profesional agar dapat menerapkan empat kompetensi dasar guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.

Inisiatif ini selaras dengan visi PT Wanatiara Persada untuk berkontribusi secara berkelanjutan terhadap pembangunan sumber daya manusia di daerah, khususnya dalam menghadapi tantangan pendidikan di era pasca tambang.

Deputy GM Legal & PR PT. Wanatiara Persada, Darmanusa Alting, dalam sambutannya menegaskan bahwa partisipasi perusahaan dalam Program Pengembangan Masyarakat (PPM) di sektor pendidikan adalah sebuah kewajiban.

“Program PPM seperti ini bukan sekadar tanggung jawab sosial, namun ini adalah kewajiban perusahaan manapun untuk dilaksanakan secara berkelanjutan, khususnya di bidang pendidikan, sehingga bisa menjawab tantangan Pendidikan Pasca Tambang,” tegas Darmanusa.

Pernyataan ini menegaskan keseriusan perusahaan dalam investasi jangka panjang terhadap pendidikan, terlepas dari dinamika harga nikel global.

Kepala Sekolah MTs Arrahman Jikotamo, Abd. Rauf Lasuhu, S.Pd, M.Pd, yang juga Ketua Panitia Pelaksana, menyambut baik dukungan penuh dari PT Wanatiara Persada.

Ia berharap kegiatan ini dapat mencetak calon guru bersertifikasi yang mampu menerapkan kompetensi esensial tersebut secara optimal.

“Calon guru profesional diharapkan dapat menerapkan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya,” Harap Rauf.

Turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi adalah Camat Obi, Ali La Jarahia, S.Pd, MM serta perwakilan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Halmahera Selatan, Husain Jafar, S.Ag, M.Pd, yang juga menjadi salah satu instruktur dalam pelatihan ini.

Pelatihan yang akan berlangsung selama tiga hari ini didukung oleh instruktur berpengalaman, yaitu Husain Jafar, S.Ag, M.Pd yang merupakan Analis perencanaan dan pelaporan keuangan Kantor Kemenag Halmahera Selatan, Dr. Dra. Adiyana Adam, M.Pd, dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate, serta Guru Laboratorium Komputer MTs Arrahman Jikotamo.

Melalui program PPM ini, PT Wanatiara Persada terus menunjukkan komitmennya untuk berinvestasi dalam peningkatan kapasitas guru, memastikan pendidikan di Obi mampu bersaing dan menciptakan generasi penerus yang kompeten dan siap menghadapi masa depan. (Red)

Halsel Malutline com-Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Halmahera Selatan pada hari Sabtu malam’ tanggal 21 Juni lalu, telah menimbulkan dampak besar di sejumlah desa. Salah satu desa yang kini menjadi sorotan adalah Desa Sumae, yang dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat banjir.

Seorang pengguna Facebook bernama Surdin Ibrahim mengunggah foto-foto rumah warga yang hampir roboh akibat dampak banjir yang melanda. Foto tersebut langsung menarik perhatian warga net, khususnya di grup Info Halsel yang menjadi wadah informasi bagi masyarakat setempat.

Surdin Ibrahim dalam komentarnya mengungkapkan kekhawatirannya terkait lambatnya bantuan yang sampai ke desa tersebut. Dalam salah satu postingannya, ia menulis, “Mungkin kami terlalu jauh, sehingga tidak bisa membuka dapur umum dengan logistik bantuan itu. Kami yang terdampak banjir sampai saat ini tidak mendapatkan bantuan sedikit pun yang datang melihat,” ungkap Surdin. Kamis 26/06/2025

Komentar tersebut menyoroti kurangnya respons dari pihak berwenang, padahal kondisi desa sudah sangat memprihatinkan. Beberapa rumah warga terlihat nyaris rubuh, dan ada yang sudah runtuh sepenuhnya akibat terjangan air bah.

Surdin berharap pemerintah daerah segera menanggapi permasalahan ini dengan turun langsung ke lapangan untuk melihat situasi yang sedang terjadi. “Kami butuh perhatian segera dari pemerintah daerah agar dapat segera melakukan penanganan yang tepat untuk membantu korban banjir,” tambah Surdin.

Banjir yang terjadi di Desa Sumae ini menjadi salah satu peringatan tentang pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana alam, serta kebutuhan akan respons cepat dan tepat dari pemerintah dan lembaga terkait dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Pemerintah setempat diharapkan dapat segera merespons dan memberikan dukungan yang diperlukan agar warga Desa Sumae dapat segera pulih dari dampak bencana ini. (Red)

Manado, Malutline – 26 Juni 2025  Felisha Hafi Aswin, balita perempuan berusia 10 bulan asal Desa Gane Dalam, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), saat ini tengah menjalani perawatan intensif akibat penyakit hidrosefalus di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado, Sulawesi Utara.

Felisha adalah anak pertama dari pasangan Aswin M. Sangaji, seorang petani, dan Fistri Haras, ibu rumah tangga. Ia mulai menunjukkan gejala penyakit sejak usia 4 bulan dan hingga kini telah berjuang selama 6 bulan melawan hidrosefalus  kondisi medis serius yang menyebabkan penumpukan cairan di otak.

Menurut keterangan dari nenek dan kakeknya, Masria Harap dan Mahmud Wahid, Felisha awalnya mendapat perawatan tradisional dan pengobatan alternatif. Karena kondisi tak kunjung membaik, ia dirujuk ke Puskesmas Gane Dalam, lalu ke RSUD Labuha, dilanjutkan ke RS Siloam untuk rawat jalan. Ketika kondisinya memburuk dengan demam tinggi, ia dibawa ke IGD RSUP Kandou Manado dan telah menjalani rawat inap selama 13 hari, menunggu jadwal tindakan operasi.

Sayangnya, hingga hari ini, Felisha harus berjuang sendiri tanpa dukungan nyata dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Diduga kuat, belum ada informasi resmi yang diterima Pemkab Halsel terkait kondisi darurat kesehatan yang dialami Felisha. Padahal, sesuai regulasi, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab sosial terhadap warganya, terutama keluarga dengan keterbatasan ekonomi seperti keluarga Felisha.

Felisha berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya hanya seorang petani dengan penghasilan terbatas, sementara ibunya tidak bekerja. Biaya pengobatan di luar daerah tentu sangat memberatkan, terlebih untuk tindakan medis lanjutan seperti operasi. Dukungan pemerintah, baik dalam bentuk layanan kesehatan gratis, bantuan transportasi medis, maupun dukungan logistik keluarga pasien, sangat dibutuhkan.

Masyarakat Halmahera Selatan dan sekitarnya diajak turut serta membantu keluarga Felisha, baik secara moral maupun materiil. Uluran tangan dari sesama warga dapat menjadi jembatan harapan bagi kesembuhan gadis kecil ini. Sementara itu, perhatian dan respon cepat dari Pemkab Halsel serta Pemprov Maluku Utara sangat dinantikan.

“Dek Felisha pasti sembuh.”

Kalimat itu bukan sekadar harapan, tetapi seruan solidaritas bagi seorang anak bangsa yang berhak mendapatkan hak hidup sehat dan masa depan yang cerah. Semoga pemerintah segera turun tangan. (Red)