LABUHA, Malutline — Program Bina Keluarga Balita (BKB) terus menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini di tingkat desa dan kelurahan. Melalui peran aktif para kader, BKB hadir tidak hanya sebagai program pendamping Posyandu, tetapi juga sebagai sarana pembinaan pola asuh dan perkembangan psikologis anak balita.
Kader BKB disebut sebagai ujung tombak pelaksanaan program di lapangan. Mereka memiliki peran strategis dalam memberikan penyuluhan, pendampingan, serta edukasi kepada orang tua agar mampu mengasuh dan mendidik anak secara tepat sesuai tahapan tumbuh kembang.
Dalam pelaksanaannya, kader BKB menjalankan sejumlah tugas utama, di antaranya penyuluhan dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada orang tua terkait tumbuh kembang balita. Selain itu, kader juga bertugas mengamati dan mengisi Kartu Kembang Anak (KKA) sebagai alat pemantauan perkembangan anak secara berkala.
Tak hanya itu, kader BKB juga mengarahkan penggunaan Alat Permainan Edukatif (APE) agar anak dapat belajar sambil bermain secara positif. Jika ditemukan keterlambatan perkembangan, kader berperan melakukan rujukan serta kunjungan rumah, khususnya kepada keluarga yang jarang mengikuti kegiatan kelompok BKB.
Sementara itu, di tingkat pengelolaan desa, pengurus BKB yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara menjalankan fungsi administrasi, koordinasi, serta perencanaan kegiatan.
Pengurus berkoordinasi dengan pemerintah desa, TP-PKK, penyuluh KB, dan petugas terkait untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan.
Program BKB juga memiliki perbedaan fokus dengan Posyandu. Jika Posyandu menitikberatkan pada kesehatan fisik anak seperti imunisasi, berat badan, dan tinggi badan, maka BKB lebih menekankan pada pola asuh, perkembangan mental, dan psikologis anak, dengan sasaran utama orang tua atau pengasuh balita.
Melalui sinergi antara Posyandu dan BKB, diharapkan kualitas tumbuh kembang anak balita dapat dipantau secara menyeluruh, baik dari sisi kesehatan fisik maupun perkembangan mental dan emosional.
Keberadaan kader BKB di desa menjadi bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai dari keluarga. Dengan pendampingan yang tepat sejak usia dini, generasi masa depan diharapkan tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter. (Red)





