HALSEL, Malutline — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi upaya peningkatan gizi dan kesehatan peserta didik di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, kini menuai protes keras dari para orang tua siswa. Pasalnya, menu makanan yang dibagikan kepada siswa TK hingga SMA dinilai tidak layak, minim gizi, dan jauh dari harapan.
Keluhan tersebut mencuat setelah beredar informasi dan foto menu MBG yang diterima siswa, yang hanya terdiri dari dua buah pisang, sayur bersantan dalam porsi kecil, serta sepotong buah semangka. Kondisi ini memicu kekecewaan dan kemarahan para orang tua, yang mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menjamin pemenuhan gizi anak-anak sekolah.
“Tabea, apa betul ini menu MBG untuk anak-anak TK sampai SMA seperti ini? Yakin anak-anak mau makan? Jou yah,” ungkap salah satu orang tua siswa dengan nada kecewa.
Menurut para orang tua, menu tersebut tidak mencerminkan standar makanan bergizi seimbang yang seharusnya diterima anak-anak dalam masa pertumbuhan. Mereka menilai, porsi dan variasi makanan sangat minim, tanpa sumber protein yang memadai seperti ikan, telur, atau daging.
Lebih lanjut, orang tua siswa juga menyoroti besaran anggaran per porsi yang diduga hanya berkisar Rp2.000. Jika benar demikian, mereka menilai angka tersebut sangat tidak realistis untuk menyediakan makanan bergizi dan layak konsumsi bagi siswa.
“Kalau benar anggarannya cuma dua ribu rupiah per porsi, bagaimana bisa anak-anak mendapatkan makanan bergizi? Ini bukan sekadar soal kenyang, tapi soal kesehatan dan masa depan anak-anak,” ujar orang tua lainnya.
Program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung tumbuh kembang anak, meningkatkan konsentrasi belajar, serta mencegah stunting dan gizi buruk. Namun, dengan menu seperti yang diterima siswa saat ini, para orang tua khawatir tujuan utama program justru tidak tercapai.
Kritik juga datang dari masyarakat yang menilai bahwa pelaksanaan program MBG di Halmahera Selatan perlu dievaluasi secara menyeluruh, mulai dari perencanaan anggaran, pengadaan bahan makanan, hingga pengawasan distribusi di lapangan. Mereka meminta transparansi terkait pengelolaan anggaran dan standar menu yang digunakan.
“Anak-anak kita bukan tempat uji coba Program ini harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, bukan asal jalan,” tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari instansi terkait mengenai menu MBG yang diprotes tersebut maupun klarifikasi soal besaran anggaran per porsi. Para orang tua berharap pemerintah daerah, khususnya dinas pendidikan dan instansi pelaksana program MBG, segera memberikan penjelasan terbuka serta melakukan perbaikan.
Para orang tua siswa menegaskan bahwa protes ini bukan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap hak anak-anak untuk mendapatkan makanan yang layak dan bergizi. Mereka berharap suara ini didengar dan segera ditindaklanjuti, agar program MBG benar-benar memberi manfaat nyata bagi generasi penerus di Halmahera Selatan. (Haji/red)





