Labuha, Malutline — Festival Qasida Rebana Maluku Utara 2025 kembali membuktikan diri sebagai salah satu pagelaran seni dakwah paling bergengsi di kawasan Timur Indonesia. Selama tiga malam berturut-turut, 27–29 November, ribuan pasang mata memenuhi arena kegiatan untuk menyaksikan perpaduan indah antara seni, budaya, dan ekonomi kerakyatan.
Kegiatan yang digelar oleh Muslimat NU Maluku Utara ini menuai apresiasi luas. Panitia dinilai berhasil menciptakan festival yang tertib, meriah, dan penuh nuansa religius. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dewan Juri Nasional yang memastikan seluruh rangkaian lomba berjalan profesional dan menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Tidore Puncaki Qasidah Klasik, Morotai Bersinar di Bintang Vokalis
Ajang kompetisi kali ini diwarnai persaingan sengit dan penampilan memukau dari berbagai daerah. Pada kategori Qasidah Klasik, grup dari Tidore Kepulauan tampil gemilang dan keluar sebagai Juara 1, disusul Kota Ternate yang meraih Juara 2.
Sementara itu, kategori Bintang Vokalis kembali mencatatkan nama Morotai sebagai juara terbaik putra setelah penampilan kuat yang memikat para juri dan penonton.
UMKM Laris Manis, Dagangan Sold Out Setiap Malam
Tak hanya panggung kompetisi yang menyita perhatian. Di area UMKM, geliat ekonomi terlihat jelas. Beragam stand kuliner, kerajinan, dan produk lokal laris diserbu pengunjung hingga banyak yang sold out setiap malam. Fenomena ini menjadi bukti bahwa Festival Qasida Rebana tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi rakyat.
Peserta Tetap Jadi Nyawa Festival
Meski tak semua peserta membawa pulang piala, energi dan semangat mereka menjadi ruh utama kemeriahan festival tahun ini. Panitia memberikan apresiasi khusus atas dedikasi seluruh kontingen yang telah menghidupkan suasana kompetisi dengan persaudaraan dan sportivitas.
Siap Naik Kelas Tahun Depan
Usai menutup rangkaian acara, panitia menegaskan komitmen untuk menghadirkan Festival Qasida Rebana Malut yang lebih besar, lebih profesional, dan lebih berdampak di tahun mendatang. Ajang ini diharapkan tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga wadah pelestarian seni dakwah serta pendorong pemberdayaan masyarakat Maluku Utara. (Red)











Komentar