HALSEL, Malutline – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Unit Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, mengumumkan terjadinya gangguan produksi dan distribusi air bersih akibat tingginya tingkat kekeruhan air baku yang dipicu oleh kondisi cuaca dan banjir di wilayah sumber air.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh petugas PDAM Unit Babang, Hasril Umar, pada Kamis (11/6/2026). Menurutnya, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Dodola/Sungaira untuk sementara waktu menghentikan operasional karena air baku yang masuk ke instalasi tidak dapat diolah secara normal akibat tingkat kekeruhan yang sangat tinggi.

“Untuk sementara proses produksi dan distribusi air dihentikan karena kondisi air baku mengalami kekeruhan tinggi pasca banjir. Air yang masuk ke instalasi belum memenuhi standar untuk diproses menjadi air bersih yang layak didistribusikan kepada pelanggan,” ujar Hasril Umar.

Ia menjelaskan bahwa penghentian operasional dilakukan sejak pukul 10.37 WIT dan akan berlangsung hingga kondisi sumber air kembali normal. Pihak PDAM saat ini terus memantau perkembangan di lapangan dan melakukan berbagai langkah penanganan agar pelayanan dapat segera kembali berjalan.

Akibat gangguan tersebut, sejumlah wilayah pelanggan dipastikan mengalami penurunan debit hingga penghentian sementara aliran air bersih. Adapun daerah yang terdampak meliputi wilayah Babang dan sejumlah kawasan dataran tinggi, di antaranya:

Sayoang Ketinggian

Kawasan Pelabuhan (sebagian wilayah)

Pasir Putih Pertamina Puncak

Wayamiga

Marabose

Hasril Umar mengimbau seluruh pelanggan agar menggunakan cadangan air yang tersedia secara bijaksana selama proses perbaikan dan pemulihan berlangsung. Ia juga meminta masyarakat segera menampung air apabila distribusi kembali normal untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan lanjutan akibat kondisi cuaca yang belum stabil.

“Kami mengimbau kepada seluruh pelanggan agar menghemat penggunaan air selama gangguan berlangsung. Bagi yang masih memiliki persediaan air di bak penampungan agar digunakan seperlunya sampai produksi kembali normal,” katanya.

Menurutnya, kondisi seperti ini kerap terjadi saat curah hujan tinggi menyebabkan sedimentasi dan material lumpur masuk ke sumber air baku. Apabila air dengan tingkat kekeruhan tinggi tetap dipaksakan untuk diolah, dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas air yang akan didistribusikan kepada masyarakat.

Karena itu, penghentian sementara produksi merupakan langkah teknis yang harus dilakukan demi menjaga kualitas layanan dan kesehatan pelanggan. Pihak PDAM memastikan seluruh petugas terus bersiaga di lapangan guna mempercepat proses normalisasi sistem produksi dan distribusi.

Masyarakat terdampak berharap gangguan tersebut dapat segera diatasi mengingat kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi aktivitas rumah tangga, perkantoran, sekolah, maupun fasilitas umum lainnya.

Sementara itu, PDAM Unit Babang berjanji akan terus memberikan informasi terbaru kepada pelanggan terkait perkembangan kondisi instalasi dan jadwal normalisasi distribusi air bersih.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Gangguan ini terjadi akibat faktor alam yang berada di luar kendali kami. Semoga kondisi cuaca segera membaik sehingga pelayanan air bersih dapat kembali normal,” tutup Hasril Umar.

Redaksi Malutline mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dari PDAM Unit Babang dan menggunakan air secara hemat selama masa gangguan berlangsung. (Red)

Ternate, Malutline Personel Opsnal Polsek Pulau Ternate berhasil mengamankan sebanyak 250 kantong minuman keras (miras) tradisional jenis Cap Tikus dalam kegiatan penindakan yang dilaksanakan di Pesisir Pantai Wailanga, Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, Kamis (11/6/2026) dini hari.

Kapolsek Pulau Ternate IPTU Lukman Umasugi, Melalui Kasi Humas Polres Ternate IPDA Sudirjo S.I.P., Menyampaikan Pengungkapan tersebut dilakukan sekitar pukul 02.30 WIT setelah personel menerima informasi dari masyarakat terkait adanya aktivitas pembongkaran minuman keras yang kerap terjadi di kawasan Pantai Wailanga.

Menindaklanjuti laporan tersebut, anggota Opsnal Polsek Pulau Ternate segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan pengecekan dan penyelidikan. Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), petugas menemukan aktivitas pembongkaran minuman keras jenis Cap Tikus.

Dalam kegiatan tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa 250 kantong plastik berisi minuman keras jenis Cap Tikus yang dikemas dalam karung. Selain itu, petugas juga mengamankan seorang pria yang diduga terlibat dalam aktivitas tersebut.

Adapun identitas terduga pelaku yang diamankan yakni NP (63), pekerjaan swasta, warga Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat.

 

Setelah dilakukan pengamanan di lokasi, seluruh barang bukti bersama terduga pelaku kemudian dibawa ke Mako Polsek Pulau Ternate untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut.

Kasi Humas Juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah berperan aktif membantu tugas kepolisian melalui pemberian informasi terkait aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Pengungkapan ini merupakan bentuk komitmen Polri dalam memberantas peredaran minuman keras ilegal yang dapat memicu terjadinya gangguan kamtibmas maupun tindak pidana lainnya, Kami mengapresiasi partisipasi masyarakat yang telah memberikan informasi kepada kepolisian. Sinergi antara Polri dan masyarakat sangat penting dalam menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif di wilayah Kota Ternate,” ungkapnya.

Polres Ternate akan terus meningkatkan kegiatan patroli, pengawasan, serta penegakan hukum terhadap peredaran minuman keras ilegal guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukumnya.(Muksin)

Sofifi, Malutline Direktorat Reserse Narkoba Polda Maluku Utara mengungkap kasus dugaan peredaran narkotika jenis ganja di Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah, Rabu (10/6/2026).

Dalam pengungkapan itu, polisi mengamankan seorang pemuda berinisial ZYT (19).

Penangkapan dilakukan oleh tim operasional Unit 2 Subdit 2 Ditresnarkoba setelah menerima informasi dari masyarakat terkait aktivitas mencurigakan yang diduga berkaitan dengan penyimpanan narkotika.

Tim kemudian melakukan penyelidikan dan pemantauan di sekitar lokasi kejadian sebelum akhirnya menangkap pelaku.

Saat dilakukan penggeledahan awal yang disaksikan warga, petugas menemukan 32 sachet kecil berisi ganja yang disimpan di dalam tas ransel milik pelaku. Dari hasil interogasi, pelaku mengaku masih menyimpan barang bukti lainnya di rumahnya.

Petugas kemudian melakukan penggeledahan lanjutan di rumah pelaku, tepatnya di bagian plafon kamar mandi. Dalam penggeledahan tersebut, ditemukan tambahan 231 sachet kecil berisi ganja serta satu alat isap sabu (bong).

Secara keseluruhan, barang bukti yang diamankan berupa 263 sachet ganja dengan berat total sekitar 309 gram. Selain itu, polisi juga menyita satu unit telepon seluler iPhone 11 warna hitam, lima bal sachet plastik bening ukuran kecil, satu buah kaca, serta satu bekas dos pembungkus paket.

Saat ini, pelaku beserta seluruh barang bukti telah dibawa ke Markas Polda Maluku Utara untuk proses pemeriksaan lebih lanjut guna pengembangan dan penyelidikan kasus.

Direktur Reserse Narkoba Polda Maluku Utara, Kombes Pol. Bobby P. Marpaung, menyatakan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan upaya pemberantasan peredaran narkotika di wilayah Maluku Utara.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjauhi penyalahgunaan narkotika serta mengajak untuk berperan aktif memberikan informasi kepada aparat kepolisian. (Muksin/red)

HALSEL, Malutline – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Halmahera Selatan ke-23 tahun 2026 berlangsung meriah dengan berbagai kegiatan yang digelar pemerintah daerah dan masyarakat. Namun di balik kemeriahan tersebut, tidak sedikit warga yang mengenang sosok almarhum Hi. Usman Sidik, mantan Bupati Halmahera Selatan yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam pembangunan Negeri Saruma.

Bagi sebagian masyarakat, HUT Halsel bukan hanya momentum untuk merayakan bertambahnya usia daerah, tetapi juga menjadi waktu untuk mengenang para tokoh yang pernah mengabdikan diri membangun kabupaten ini. Salah satu nama yang masih melekat kuat dalam ingatan masyarakat adalah Hi. Usman Sidik.

Berbagai pembangunan yang lahir pada masa kepemimpinannya hingga kini masih menjadi ikon daerah. Kawasan Zero Point Halsel dan UMKM Milenial merupakan dua di antara sejumlah program yang kerap disebut masyarakat sebagai bagian dari jejak pembangunan yang ditinggalkan almarhum.

Namun bukan hanya soal pembangunan yang dikenang. Di tengah peringatan HUT Halsel tahun ini, masyarakat juga menyoroti sisi lain kehidupan almarhum, yakni kisah cintanya bersama sang istri, Hj. Eka Dahliani Usman, yang hingga kini masih menjadi simbol kesetiaan dan keteguhan hati.

Kepergian Hi. Usman Sidik untuk selamanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama bagi Hj. Eka Dahliani Usman dan kedua putra mereka. Meski telah dipisahkan oleh kematian, cinta dan kenangan yang terjalin selama bertahun-tahun seolah tetap hidup dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan keluarga tersebut.

Banyak warga menilai bahwa di balik sosok pemimpin daerah yang dikenal dekat dengan masyarakat, Hi. Usman Sidik juga merupakan figur keluarga yang penuh kasih sayang. Hubungannya dengan Hj. Eka Dahliani Usman kerap dipandang sebagai gambaran keharmonisan rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta, kesetiaan, dan saling mendukung.

Dalam berbagai kesempatan, Hj. Eka Dahliani Usman tetap terlihat menjaga dan mengenang perjuangan sang suami. Bagi keluarga, kenangan tentang almarhum bukan hanya tersimpan dalam foto-foto maupun cerita masa lalu, tetapi juga dalam nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepada anak-anak mereka.

Di tengah semarak HUT Halsel ke-23, sejumlah warga bahkan menyampaikan harapan agar jasa dan pengabdian para tokoh pembangunan daerah, termasuk almarhum Hi. Usman Sidik, tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah perjalanan Kabupaten Halmahera Selatan.

Menurut mereka, kemajuan sebuah daerah tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para pemimpin yang pernah mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk masyarakat. Karena itu, mengenang jasa para tokoh bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk penghargaan terhadap sejarah yang telah membentuk Halmahera Selatan hingga menjadi seperti saat ini.

Bagi Hj. Eka Dahliani Usman, peringatan HUT Halsel tahun 2026 tentu memiliki makna tersendiri. Di tengah sukacita masyarakat merayakan hari jadi daerah, terselip kerinduan mendalam kepada sosok yang pernah menjadi pendamping hidup sekaligus pemimpin daerah yang dicintai banyak orang.

Waktu mungkin telah memisahkan mereka dalam dua alam yang berbeda. Namun cinta, doa, dan kenangan yang ditinggalkan almarhum Hi. Usman Sidik tetap hidup dalam hati keluarga dan masyarakat Halmahera Selatan.

Karena sesungguhnya, seorang pemimpin yang baik tidak hanya dikenang melalui bangunan yang berdiri megah, tetapi juga melalui jejak pengabdian, keteladanan, dan cinta yang ditinggalkannya bagi keluarga, masyarakat, dan daerah yang pernah ia pimpin. (Darti)

HALSEL, Malutline – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) ke-23 tahun 2026 yang berlangsung meriah kini menjadi sorotan sejumlah kalangan masyarakat. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang digaungkan pemerintah pusat maupun daerah, pelaksanaan berbagai kegiatan seremonial HUT Halsel dinilai menimbulkan pertanyaan publik terkait skala prioritas penggunaan anggaran daerah.

Sejumlah warga menilai bahwa kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih menghadapi berbagai tantangan. Daya beli masyarakat disebut belum sepenuhnya pulih, sementara aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah desa dan kecamatan masih mengalami perlambatan akibat berbagai faktor, termasuk menurunnya perputaran uang di daerah.

Di sisi lain, perayaan HUT Halsel tahun ini disebut-sebut menghabiskan anggaran dalam jumlah besar. Berbagai kegiatan hiburan, panggung rakyat hingga penampilan artis nasional menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Halmahera Selatan yang ke-23.

Masyarakat mempertanyakan urgensi penggunaan anggaran besar untuk kegiatan seremonial di saat masih terdapat berbagai persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian pemerintah daerah. Mulai dari pembangunan infrastruktur, penyelesaian kewajiban kepada pihak ketiga, hingga optimalisasi pelayanan publik yang dinilai masih perlu ditingkatkan.

“Di satu sisi pemerintah berbicara soal efisiensi anggaran, tetapi di sisi lain masyarakat melihat adanya kegiatan yang membutuhkan biaya besar. Ini yang menjadi pertanyaan masyarakat,” ujar salah seorang warga Labuha.

Sorotan juga muncul terkait informasi mengenai kehadiran sejumlah artis nasional dalam rangkaian perayaan HUT Halsel. Menurut sejumlah warga, pemerintah daerah perlu membuka secara transparan penggunaan anggaran kegiatan agar masyarakat mengetahui secara jelas sumber dan besaran biaya yang digunakan.

Selain persoalan anggaran perayaan, masyarakat juga menyoroti rendahnya realisasi sejumlah program pembangunan daerah. Beberapa fasilitas publik yang telah dibangun dikabarkan belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena masih terdapat kewajiban pembayaran pekerjaan yang belum diselesaikan.

Sejumlah kontraktor dan pelaku usaha lokal juga berharap pemerintah daerah dapat segera menuntaskan kewajiban pembayaran kepada pihak ketiga agar aktivitas ekonomi daerah kembali bergerak. Menurut mereka, keterlambatan pembayaran pekerjaan berdampak langsung terhadap kelangsungan usaha, pembayaran tenaga kerja, hingga perputaran ekonomi masyarakat.

Pengamat kebijakan publik menilai bahwa perayaan hari jadi daerah memang penting sebagai momentum mempererat persatuan dan membangun semangat kebersamaan masyarakat. Namun demikian, pelaksanaannya perlu memperhatikan kondisi fiskal daerah serta kebutuhan prioritas masyarakat.

“Perayaan HUT daerah adalah hal yang wajar dan penting. Namun pemerintah juga perlu memastikan bahwa kegiatan tersebut berjalan seimbang dengan penyelesaian berbagai persoalan pembangunan dan pelayanan publik yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Masyarakat berharap momentum HUT Halsel tidak hanya menjadi ajang seremoni dan hiburan semata, tetapi juga menjadi ruang evaluasi terhadap capaian pembangunan daerah selama 23 tahun terakhir. Berbagai tantangan yang masih dihadapi, mulai dari infrastruktur, pelayanan dasar, pemberdayaan ekonomi hingga tata kelola keuangan daerah, diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah ke depan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan terkait besaran anggaran yang digunakan dalam rangkaian kegiatan HUT Halsel ke-23 maupun tanggapan atas berbagai sorotan yang berkembang di tengah masyarakat.

Redaksi Malutline membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan maupun pihak terkait lainnya sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (Darti)