LABUHA, Malutline — Sebuah tulisan berjudul “INTRIK” yang diposting oleh Nazlatan Ukhra Kasuba, putri dari mantan Bupati Halmahera Selatan sekaligus tokoh politik ternama Maluku Utara, mengundang perhatian luas di media sosial.

Unggahan tersebut menggambarkan pengalaman pribadi yang penuh emosi, saat ia harus menghadapi permainan politik di tengah kondisi sang ayah yang sedang sakit.

Dalam tulisannya, Nazlatan dengan jujur menuturkan bagaimana ia melarang sejumlah utusan politik datang menjenguk ayahnya. Alasannya sederhana — bukan karena aturan rumah sakit, tetapi untuk melindungi sang ayah dari tekanan dan intrik politik yang saat itu sedang memanas.

“Saya masih ingat bagaimana saya melarang utusan para calon itu datang dan ‘sowan’ kepadamu, Papa. Untuk menjaga kondisi kesehatanmu dan melepasmu dari perpolitikan saat itu,” tulis Nazlatan.

Namun, ia mengaku sempat kecolongan. Beberapa orang yang dikenal aktif dalam kontestasi politik justru datang menjenguk. Mereka, menurutnya, adalah pihak-pihak yang sebelumnya pernah menulis narasi negatif tentang ayahnya di media sosial.

“Bagaimana mungkin seseorang yang menulis dan memainkan konten buruk tentangmu, datang dengan wajah malaikat seolah peduli? Adakah manusia yang seperti itu?” tulisnya dalam nada getir.

Nazlatan menggambarkan suasana batin yang penuh kelelahan — di antara rasa cinta kepada ayahnya dan kejenuhan terhadap dinamika politik yang tak jarang mengabaikan nilai kemanusiaan. Ia menulis, setelah kejadian itu ia memilih keluar sebentar untuk menenangkan diri, menikmati kopi di kafe kecil sambil melihat anak muda yang tertawa dan bermimpi.

“Ada kehidupan. Ada harapan,” lanjutnya.

Namun beberapa jam kemudian, ia menerima pesan singkat: “Ada banyak orang yang menjenguk.” Ia pun bergegas ke rumah sakit dan mendapati wajah-wajah yang sudah dikenalnya. Ia sempat meminta agar momen itu tidak dipublikasikan. Tetapi, tak lama kemudian, pertemuan itu sudah beredar luas di grup WhatsApp dan media sosial.

“Ya, ini politik. Tapi saya memilih menjadi manusia,” tegas Nazlatan.

Tulisan itu diakhiri dengan refleksi mendalam tentang makna kejujuran dan kemanusiaan dalam dunia politik. Nazlatan menegaskan bahwa ia lebih memilih mendengar satu suara jujur yang ia kenal, daripada seribu suara tanpa identitas yang membawa narasi seragam.

Unggahan tersebut menuai banyak komentar dan simpati dari warganet. Banyak yang menilai, tulisan INTRIK bukan sekadar curahan hati, melainkan potret nyata tentang kerasnya politik di daerah dan pergulatan batin seorang anak yang mencoba menjaga marwah keluarganya di tengah badai opini publik.

Tulisan Nazlatan Ukhra Kasuba juga dianggap sebagai bentuk introspeksi — mengingatkan bahwa di balik politik dan perebutan kekuasaan, selalu ada sisi manusiawi yang tak boleh hilang: cinta, kesetiaan, dan kejujuran.(Red)

LABUHA, Malutline- — Unggahan Husain Said, mantan anggota DPRD Halmahera Selatan, di media sosial yang menyoroti kondisi jalan rusak di wilayah Desa Indong, Kecamatan Mandioli Utara, menuai beragam tanggapan dari masyarakat.

Dalam postingannya, Husain Said mengeluhkan kondisi akses jalan berlubang dan becek yang setiap hari dilalui oleh guru, siswa, dan warga dari Desa Pelita menuju Desa Indong. Ia menulis bahwa kondisi tersebut telah lama menyulitkan aktivitas warga, terutama tenaga pendidik yang tetap berjuang ke sekolah meski harus menempuh jalan rusak.

Namun, keluhan itu justru mendapat reaksi balik dari warga. Mereka menilai kritik Husain Said terhadap pemerintah saat ini datang terlambat, mengingat dirinya pernah memiliki posisi strategis untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat ketika masih menjabat sebagai anggota DPRD Halmahera Selatan selama dua periode.

“Sekarang baru curhat di media sosial, padahal dulu waktu masih duduk di DPRD, jalan ini tidak pernah disentuh. Di mana mereka waktu punya wewenang dan kesempatan memperjuangkan jalan ini?” ujar salah satu warga Desa Indong dengan nada kecewa.

Tak hanya Husain Said, warga juga menyinggung nama Asnawi Lagalante, yang juga merupakan putra asal Desa Indong dan pernah menjabat sebagai anggota DPRD Halsel dalam periode yang sama. Keduanya disebut tidak mampu memperjuangkan pembangunan jalan Indong–Pelita melalui jalur aspirasi masyarakat.

“Mereka berdua dari kampung ini. Dua periode duduk di DPRD, tapi jalan tetap rusak. Sekarang baru bicara soal kepedulian rakyat,” ungkap warga lainnya.

Menurut warga, kondisi jalan tersebut bukan hanya menyulitkan masyarakat umum, tapi juga mengancam keselamatan guru dan pelajar yang setiap hari melewati jalan penuh lumpur dan lubang besar.

“Kami berharap pemerintah sekarang jangan seperti dulu. Segera bangun jalan ini, karena ini akses utama untuk sekolah dan ekonomi warga,” tambah tokoh masyarakat setempat.

Meski dikritik, beberapa pihak menilai apa yang dilakukan Husain Said di media sosial tetap memiliki nilai positif sebagai bentuk kepedulian dan dorongan moral agar pemerintah saat ini lebih memperhatikan daerah pelosok seperti Mandioli Utara.

“Mungkin beliau sadar, bahwa kritiknya sekarang bisa menjadi pengingat bagi pemimpin saat ini agar lebih cepat bertindak,” kata seorang warga muda di Indong.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan pihak DPRD Halsel belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan kondisi jalan di wilayah Indong–Pelita. Warga berharap, persoalan ini tidak hanya berhenti di media sosial, tetapi ditindaklanjuti dengan pembangunan nyata di lapangan. (Red)

Jakarta, Malutline – Di bawah langit cerah ibu kota, semarak budaya Maluku Utara mewarnai Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan bertajuk Festival Budaya Maluku Utara ini menjadi panggung bagi warisan sejarah, seni, dan nilai-nilai hidup masyarakat negeri rempah yang telah dikenal dunia sejak berabad-abad lalu.

Dalam sambutannya, Sherly Tjoanda menyampaikan bahwa perayaan ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi bentuk nyata merawat identitas dan memperkenalkan jati diri Maluku Utara kepada dunia.

“Hari ini, kami merayakan warisan yang hidup — budaya, sejarah, dan jiwa Maluku Utara yang penuh warna di Taman Mini Indonesia,” ujar Sherly dengan semangat.

Festival tersebut menampilkan tarian tradisional, musik daerah, hingga kuliner khas yang dimasak menggunakan bambu, membawa para pengunjung menelusuri jejak peradaban lama yang kaya rasa dan makna.

Turut hadir dalam acara ini Duta Besar Austria, perwakilan Kedutaan Spanyol dan Bosnia, Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara, perwakilan Bank Indonesia Malut, Direktur TMII, serta komunitas diaspora Maluku Utara di Jakarta.

Mereka bersama-sama menikmati suasana penuh kehangatan dan harmoni yang mencerminkan falsafah hidup masyarakat Maluku Utara:

“Hidup dalam harmoni, menghargai perbedaan, dan berbagi dalam kasih.”

Menurut Sherly, melalui festival ini Maluku Utara ingin menunjukkan kepada dunia bahwa keindahan sejatinya tidak hanya terletak pada alam dan lautnya yang memesona, tetapi juga pada cara warganya hidup dalam damai dan kebersamaan.

“Melalui festival ini, kami ingin dunia mengenal bahwa keindahan Maluku Utara bukan hanya pada alamnya, tetapi pada cara warganya hidup dalam damai, dalam kebersamaan, dan dalam kasih,” tutup Sherly.

Festival budaya ini diharapkan menjadi momentum mempererat persaudaraan, memperkuat diplomasi kebudayaan, serta meneguhkan posisi Maluku Utara sebagai negeri rempah yang kaya nilai dan keindahan hati. (Sabrun/red)

TERNATE, Malutline – 1 November 2025 – Tepat tiga tahun sudah perjalanan pengabdian Lurah Akehuda sejak dilantik pada 1 November 2022 lalu. Dalam rentang waktu itu, banyak kisah suka dan duka yang mewarnai langkah kepemimpinannya.

“Tiga tahun sudah mengemban amanah sebagai Lurah Akehuda. Waktu yang penuh warna — ada suka, ada duka, ada pelajaran di setiap langkah,” ungkap sang lurah dalam refleksi peringatan masa jabatannya, Sabtu (1/11).

Dalam unggahannya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat, rekan kerja, lembaga kemasyarakatan kelurahan (LKK), serta semua pihak yang telah memberikan dukungan, baik yang mendukung maupun yang tidak.

“Semoga langkah kecil ini terus memberi manfaat bagi kelurahan Akehuda tercinta. Belum banyak yang ku persembahkan, tapi semoga ke depan Akehuda lebih baik lagi dengan siapapun yang akan melanjutkan,” tulisnya penuh haru.

Ungkapan itu menggambarkan ketulusan seorang pemimpin yang tak hanya menunaikan tugas administratif, tapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan pelayanan bagi warganya.

Dalam kesempatan yang sama, ia sempat berseloroh dengan nada ringan mengenang masa awal pelantikannya. “Alhamdulillah pernah kurus saat pelantikan,” ujarnya disertai emoji tawa dan sapaan akrab kepada Ketua LPM Akehuda, Risdawati Abdullah, “You are my everything.”

Tiga tahun pengabdian ini menjadi catatan tersendiri bagi warga Kelurahan Akehuda. Meski belum semua harapan tercapai, kehangatan hubungan antara lurah dan masyarakat menjadi warisan yang berharga.

Akehuda mungkin akan berganti pemimpin, namun semangat gotong royong dan pelayanan yang telah terbangun selama tiga tahun terakhir diharapkan tetap menjadi pondasi untuk masa depan yang lebih baik. (Red)

HALSEL, Malutline.com Pekerjaan pembangunan gedung Puskesmas Laluin di Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali menuai sorotan. Sejumlah warga mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia Perwakilan Maluku Utara agar segera melakukan audit khusus terhadap proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.

Pasalnya, proyek yang dibiayai dari anggaran fantastis 9,81 miliyar itu diduga dikerjakan tidak sesuai dengan standar konstruksi bangunan, bahkan menggunakan material yang tidak direkomendasikan, seperti batu rijang dan pasir putih yang tidak memenuhi syarat teknis untuk konstruksi gedung.

Menurut keterangan warga, pihak kontraktor pelaksana terkesan mengabaikan aturan teknis serta tetap melanjutkan pekerjaan meski sudah mendapat sorotan dari masyarakat setempat.

“Kami melihat pekerjaan ini tidak sesuai spesifikasi. Tapi kontraktor tetap jalan terus seolah tidak ada yang salah,” ungkap salah satu warga Desa Laluin, Jumat (31/10/2025).

Lebih lanjut, warga juga menilai adanya dugaan hubungan khusus antara pihak kontraktor dan oknum di BPK Perwakilan Maluku Utara, yang menyebabkan pengawasan terhadap proyek tersebut tidak berjalan maksimal.

“Kontraktor haji Asbar dan pengawas Ifkar merasa lebih dekat dengan BPK, sehingga mereka seakan kebal dan bebas bekerja sesuka hati. Padahal ini proyek besar yang menggunakan uang negara,” ujar warga lainnya dengan nada kecewa.

Warga berharap BPK RI Perwakilan Maluku Utara turun langsung ke lokasi untuk memeriksa kualitas pekerjaan serta memastikan tidak ada penyimpangan dalam penggunaan anggaran negara.

“Kalau tidak segera diaudit, maka kerugian bisa besar dan yang dirugikan bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat yang akan menggunakan fasilitas kesehatan itu,” tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor dan BPK Perwakilan Maluku Utara belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan tersebut. (Red)