HALSEL, Malutline.com – Dalam suasana penuh haru dan kebahagiaan, pasangan muda Ali Yusran M. Ibrahim dan Rina S. Hi. Jen resmi melangkah ke jenjang pernikahan dengan dukungan penuh dari lintas sektor Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

 

Berbeda dari biasanya, prosesi akad nikah kali ini tidak hanya diisi dengan penyerahan Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil), tetapi juga dilakukan penyerahan buku nikah secara langsung di tempat yang sama.

 

Kegiatan tersebut disaksikan oleh Camat Kayoa, Kapolsek Kayoa Ipda Sukardi Sain, S.IP, serta Ihwan Maswara dari KUA Kecamatan Kayoa, menandai sinergi nyata lintas sektor dalam mendukung program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana)

 

Langkah Awal Menuju Keluarga Berkualitas, Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Kayoa, Zuwaida A.Rahman menjelaskan bahwa penyerahan Elsimil merupakan bagian penting dari edukasi pra-nikah bagi pasangan calon pengantin.

Melalui Elsimil, pasangan calon suami-istri dapat mengetahui kesiapan fisik, mental, dan sosial sebelum memulai kehidupan rumah tangga.

 

“Elsimil ini bukan sekadar formalitas administrasi, tapi panduan awal agar pasangan siap lahir batin membangun keluarga berkualitas. Kami ingin memastikan setiap pasangan baru punya bekal ilmu dan kesadaran kesehatan reproduksi,” tutur Zuwaida.

 

Zuwaida A Rahman menambahkan, kegiatan seperti ini akan terus dikembangkan sebagai rutinitas bersama lintas sektor di Kecamatan Kayoa, termasuk KUA, Puskesmas, dan pemerintah desa, agar seluruh pasangan yang menikah mendapat pendampingan sejak awal.

 

Kolaborasi Nyata Pemerintah dan Masyarakat, Penyerahan Elsimil dan buku nikah dilakukan secara simbolis oleh penyuluh KB bekerja sama dengan pihak KUA Kayoa, disaksikan oleh Camat dan Kapolsek Kayoa, Acara berlangsung sederhana namun penuh makna, diiringi doa dan harapan agar pasangan Ali dan Rina menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah.

 

“Kita ingin pernikahan di Kayoa bukan hanya sah secara agama dan hukum, tapi juga siap secara ilmu dan perencanaan,” ujar salah satu tokoh agama setempat.

 

Harapan untuk Generasi Muda Kayoa, Kegiatan tersebut mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Warga menilai langkah kolaboratif lintas sektor ini sangat membantu menciptakan kesadaran baru tentang pentingnya perencanaan keluarga dan kesiapan menikah.

 

Program Elsimil sendiri merupakan inovasi digital dari BKKBN yang membantu calon pengantin memahami kesiapan mereka melalui sistem screening kesehatan, psikologis, dan sosial, sehingga mampu mewujudkan keluarga sehat dan bahagia.

 

“Semoga pasangan Ali dan Rina menjadi inspirasi bagi generasi muda Kayoa — bahwa menikah bukan hanya soal cinta, tetapi juga kesiapan dan tanggung jawab,” tambah Zuwaida dengan senyum hangat.

 

Menikah dengan Ilmu, Membangun dengan Cinta, Dengan penerimaan buku nikah dan Elsimil tersebut, pasangan Ali Yusran dan Rina kini resmi memulai perjalanan hidup baru dengan langkah yang penuh arti Di balik momen bahagia itu, tersimpan komitmen kuat lintas sektor  penyuluh KB, KUA, aparat kecamatan dan kepolisian   yang bersama-sama ingin memastikan bahwa setiap pernikahan di Kayoa bukan hanya peristiwa sakral, tetapi juga langkah awal menuju keluarga sehat dan berkualitas. (Bur)

LABUHA, Malutline.com — Senja di Desa Tembal, Kecamatan Bacan Selatan, seolah berhenti sejenak. Di halaman UMK Milenial, ratusan orang berdiri menyimak dengan khidmat. Mereka bukan sekadar hadirin, melainkan saksi kembalinya semangat lama yang sempat pudar — semangat Poma Polu, semangat berkumpul dalam satu rasa, satu tujuan, dan satu budaya.

Di tengah lingkar kebersamaan itu, hadir sosok yang begitu dikenal di tanah Halmahera Selatan: Dr. Hi. Muhammad Kasuba, M.A, Bukan hanya sebagai mantan Bupati dua periode, tetapi juga sebagai tokoh yang lekat dengan nilai persaudaraan, kesederhanaan, dan semangat membangun.

Lebih dari Seremoni, Ini Adalah Kebangkitan pada Sabtu (8/11/2025), Dr. Muhammad Kasuba secara resmi mengukuhkan pengurus sementara Ikatan Keluarga Tobelo-Galela (IKA-TOGALE) Kabupaten Halmahera Selatan.
Namun, bagi yang hadir, momen itu terasa lebih dari sekadar pelantikan — ia adalah kebangkitan.

“Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Tobelo-Galela yang hadir dengan semangat Poma Polu. Ini bukan sekadar pertemuan, tapi perwujudan cinta, satu rasa, satu tujuan, dan satu budaya,” ucap Dr. Kasuba dengan nada bergetar.

Kalimat sederhana itu menembus hati para hadirin. Di antara tepuk tangan dan senyum haru, banyak yang menyadari: inilah titik balik, IKA-TOGALE bukan hanya organisasi, melainkan wadah untuk menyatukan kembali keluarga besar Tobelo-Galela di seluruh penjuru Halmahera Selatan.

Dua Puluh Tahun Perjalanan, Satu Semangat yang Tak Luntur, karena Sudah dua dekade sejak IKA-TOGALE berdiri. Waktu berjalan, generasi berganti, namun nilai yang diusung tetap sama – kebersamaan dan gotong royong.
Dan sore itu, nilai itu terasa hidup kembali lewat kehadiran sosok yang menjadi panutan banyak orang.

“IKA berarti di ikat dan tetap berkumpul dam satu kebersamaan, tidak berpisah, Dua puluh tahun kita berjalan bersama, dan semangat itu masih sama seperti dulu,” tutur Dr. Muhamad Kasuba dengan senyum penuh arti.

Enam Bulan untuk Menata, Seumur Hidup untuk Bersatu, Pengurus sementara yang baru dikukuhkan akan bertugas selama enam bulan, Mereka diamanahkan untuk melakukan konsolidasi organisasi serta mempersiapkan Musyawarah Besar (Mubes) 2026, demi melahirkan pengurus definitif periode 2026–2031.

Namun, di balik tugas formal itu, tersimpan misi yang lebih dalam- menumbuhkan kembali rasa “kita” di antara masyarakat Tobelo-Galela.

Apresiasi untuk Wartawan dan Warga yang Mengabdi Tak lupa, DR. Muhamad Kasuba menyampaikan penghargaan kepada wartawan-wartawan IKA-TOGALE yang selama ini aktif menyebarkan berita positif dan membangun citra baik Halmahera Selatan, Bagi Muhamad kasuba sapaan akrab MK, jurnalis bukan hanya penyampai informasi, melainkan penjaga semangat solidaritas dan moral sosial.

“Orang Tobelo-Galela dikenal punya semangat sosial tinggi, mudah bersosialisasi, dan senang bekerja sama dengan siapa pun. Dua puluh tahun ini membuktikan: kita tidak berubah, kita tetap satu,” tegasnya.

Dari Poma Polu untuk Halmahera Selatan, Acara pengukuhan itu berakhir dalam kehangatan, Tidak ada kemewahan, hanya ketulusan.
Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan makna besar — tentang persatuan, budaya, dan warisan moral yang akan terus hidup di generasi berikutnya.

Menutup sambutannya, DR. Muhamad Kasuba menyampaikan pesan yang menancap di hati, yakni “Dengan semangat Poma Polu, mari kita terus bergandengan tangan, membangun kebersamaan, dan menghasilkan sesuatu yang besar untuk Halmahera Selatan.”

Malam itu, IKA-TOGALE bukan sekadar dikukuhkan, melainkan dihidupkan kembali, Dan di antara wajah-wajah yang tersenyum bangga, nama Dr. Muhammad Kasuba kembali dikenang bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai penggerak semangat dan pelindung budaya.(Adv/Bur)

LABUHA, Malutline.com- Di balik gemuruh tepuk tangan dan lantunan lagu kebersamaan dalam pengukuhan pengurus sementara Ikatan Keluarga Tobelo-Galela (IKA-TOGALE) di Desa Tembal, Sabtu (8/11/2025), ada satu momen yang tak kalah berkesan, apresiasi hangat dari Dr. Hi. Muhammad Kasuba, M.A. kepada wartawan IKA-TOGALE.

Pena yang Menyala dari Rumah Sendiri Dalam sambutan yang sarat makna, DR. Muhamad Kasuba. MA, mantan Bupati Halmahera Selatan dua periode itu menyampaikan penghargaan mendalam kepada para jurnalis dari komunitas Tobelo-Galela yang selama ini aktif menyebarkan informasi positif, menjaga semangat budaya, dan mengabarkan pembangunan daerah dengan cara yang beretika dan berimbang.

“Saya bangga dengan wartawan IKA-TOGALE, Mereka menulis dengan hati, bukan hanya dengan pena, Mereka bukan sekadar pembawa berita, tapi penjaga marwah kebersamaan kita,” ucap DR. Muhamad Kasuba dengan nada penuh penghargaan.

Menurutnya, dalam dunia yang semakin cepat bergerak oleh arus digital, wartawan memiliki tanggung jawab moral yang besar, tidak hanya mengabarkan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial dan budaya dalam setiap tulisan.

“Mereka adalah bagian dari kekuatan kita. Pena mereka tidak hanya menulis kabar, tapi juga menulis persaudaraan,” tambahnya, Menulis untuk Mengikat, Bukan Memisahkan

Bagi DR. Hi. Muhamad Kasuba, wartawan IKA-TOGALE adalah wajah lain dari komunitas yang tangguh, mereka bekerja dalam sunyi, tapi karyanya mengikat banyak hati, Mereka menjadi jembatan antara warga dan pemerintah, antara masa lalu dan masa depan.

Ia menilai, peran jurnalis yang lahir dari keluarga besar Togale memiliki nilai lebih. Mereka menulis dengan pemahaman budaya yang dalam, dengan rasa memiliki yang kuat terhadap tanah dan masyarakatnya.

“Saya tahu betul bagaimana mereka bekerja, diam tapi berdampak, sederhana tapi berarti Mereka menjaga agar semangat Tobelo-Galela tetap menyala di ruang publik,” tutur DR Muhamad Kasuba MA, sapaan akrab MK.

Dikatakannya Poma Polu dalam Dunia Jurnalistik, Dalam konteks Poma Polu, yang berarti berkumpul dalam satu ikatan rasa dan satu tujuan, pena para wartawan IKA-TOGALE menjadi simbol dari semangat itu sendiri, Tulisan mereka tidak hanya mengabarkan kegiatan organisasi, tapi juga menjadi perekat sosial di tengah perbedaan suku, agama, dan pandangan hidup di Halmahera Selatan.

“Melalui tulisan, mereka membangun harmoni. Itu yang membedakan jurnalis IKA-TOGALE, menulis bukan untuk membelah, tapi menyatukan,” ucap Dr. Kasuba di hadapan ratusan anggota keluarga besar Togale.

Cahaya dari Ruang Redaksi, Apresiasi ini menjadi pengakuan moral bagi wartawan IKA-TOGALE yang tersebar di berbagai media, baik lokal maupun nasional, Mereka dikenal kritis namun santun, tajam namun tetap mengedepankan etika jurnalistik Dalam setiap berita, terselip semangat Poma Polu — semangat untuk terus bersama dan berbuat bagi sesama.

Bagi banyak hadirin, ucapan DR. Muhamad Kasuba sore itu seperti obor kecil yang menyalakan kebanggaan baru,
Wartawan IKA-TOGALE tidak lagi sekadar “orang media”, tetapi menjadi penjaga nilai dan narasi kebersamaan di tengah derasnya arus informasi yang sering memecah.

“Saya percaya, selama masih ada wartawan yang menulis dengan cinta, persaudaraan kita tak akan pernah padam,” tutup DR. Muhamad Kasuba dengan suara bergetar.

Menulis Adalah Bentuk Cinta
Malam itu, di bawah lampu yang menggantung di halaman UMK Milenial, tepuk tangan bergema panjang.
Di antara kerumunan, beberapa jurnalis dari keluarga Togale saling berpelukan — bangga, haru, dan mungkin sedikit terkejut, karena tak menyangka bahwa kerja mereka yang sunyi ternyata begitu dihargai.

Apresiasi itu bukan sekadar pujian, tapi pengakuan bahwa menulis juga adalah bentuk cinta — cinta pada budaya, pada tanah air, dan pada manusia yang hidup di dalamnya dan bagi Dr. Muhammad Kasuba, itulah pena dari dalam rumah — pena yang tidak hanya menulis tentang Tobelo-Galela, tapi juga menulis dengan jiwa Tobelo-Galela.(Adv.Bur)

LABUHA, Malutline.com — Sore yang teduh di Desa Tembal, Kecamatan Bacan Selatan, menjadi saksi momen bersejarah bagi keluarga besar Ikatan Keluarga Tobelo-Galela (IKA-TOGALE) Kabupaten Halmahera Selatan.

Di tengah suasana penuh haru dan kebersamaan, Dr. Hi. Muhammad Kasuba, M.A., mantan Bupati Halmahera Selatan dua periode, secara resmi mengukuhkan pengurus sementara IKA-TOGALE di UMK Milenial, Sabtu (8/11/2025).

Acara bertajuk “Poma Polu” — yang bermakna berkumpul dalam satu rasa, satu tujuan, satu budaya — bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol kebangkitan dan penyatuan kembali semangat kekeluargaan yang sempat redup beberapa waktu terakhir.

Pengurus sementara ini akan bertugas selama enam bulan ke depan, untuk melakukan konsolidasi organisasi dan mempersiapkan Musyawarah Besar (Mubes) IKA-TOGALE demi memilih pengurus definitif periode 2026–2031.

Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Kasuba yang tampil sederhana namun karismatik, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kebersamaan seluruh keluarga besar Tobelo-Galela yang hadir dari berbagai penjuru Halmahera Selatan.

“Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Tobelo-Galela yang telah hadir dengan semangat Poma Polu. Ini bukan sekadar pertemuan, tapi perwujudan cinta, satu rasa, satu tujuan, dan satu budaya,” ujar MK dengan suara yang bergetar penuh kehangatan.

Suasana ruangan seketika hening. Banyak yang tersenyum, beberapa bahkan tampak menahan haru. Dua puluh tahun bukan waktu singkat bagi sebuah organisasi yang dibangun dari rasa kebersamaan dan gotong royong.

“IKA-TOGALE bukan sekadar sebuah ikatan. Di dalamnya ada makna yang dalam — IKA berarti tetap berkumpul, tidak berpisah. Dua puluh tahun sudah kita berjalan bersama, dan semangat itu masih sama seperti dulu,” ungkapnya penuh makna.

Dr. Kasuba juga memberikan apresiasi khusus kepada wartawan IKA-TOGALE, yang selama ini berperan aktif menyebarkan informasi positif, terutama tentang program dan kepemimpinan Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba serta Wakil Bupati Helmi Umar Muksin.

Menurut MK, peran jurnalis dalam komunitas Togale menjadi bagian dari kekuatan moral dan sosial organisasi, menjaga semangat solidaritas di tengah perubahan zaman.

“Orang Tobelo-Galela dikenal punya semangat sosial yang tinggi, mudah bersosialisasi, senang bekerja sama dengan siapa pun. Dua puluh tahun ini membuktikan bahwa kita tetap merangkul semua suku di Halmahera Selatan. Itulah kekuatan kita: selalu bersama, selalu bersatu,” tegasnya.

Acara pengukuhan berlangsung hangat, diwarnai tepuk tangan, tawa, dan senyum penuh kebanggaan. Di akhir sambutannya, Dr. Kasuba menutup dengan pesan yang menancap di hati setiap hadirin.

“Dengan semangat Poma Polu, mari kita terus berkumpul, bergandengan tangan, dan menghasilkan sesuatu yang dahsyat untuk kemajuan bersama,” ujarnya, menutup dengan nada penuh haru.

Malam itu, bukan hanya pengurus IKA-TOGALE yang dikukuhkan. Tapi juga rasa persaudaraan yang kembali hidup — semangat lama yang bangkit untuk masa depan baru.(Bur)

HALSEL, Malutline.com – Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan diminta memberikan perhatian serius terhadap kedisiplinan para guru di SD Negeri 76 Halmahera Selatan, yang berlokasi di Desa Pasir Putih, Kecamatan Kayoa Selatan.

Pasalnya, para guru di sekolah tersebut diduga sering datang terlambat ke sekolah, bahkan kegiatan belajar mengajar baru dimulai sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIT, jauh dari jadwal semestinya. Kondisi ini menuai sorotan dari masyarakat dan orang tua siswa yang merasa prihatin dengan rendahnya kedisiplinan tenaga pendidik di sekolah tersebut.

Beberapa warga setempat menyebut, keterlambatan guru sudah menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dan belum mendapat perhatian dari pihak terkait.

“Setiap hari guru-guru datang sudah jam sembilan bahkan jam sepuluh baru mulai mengajar. Anak-anak sudah menunggu lama di sekolah. Kami harap Dinas Pendidikan jangan tutup mata,” ungkap salah satu warga Pasir Putih yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (8/11/2025).

Warga juga menilai bahwa minimnya pengawasan dari Dinas Pendidikan Halsel membuat perilaku seperti ini terus terjadi tanpa tindakan tegas.

“Kalau tidak ada teguran dari dinas, nanti kebiasaan ini terus berulang. Ini soal tanggung jawab moral dan profesionalisme sebagai pendidik,” tambahnya.

Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada kualitas pembelajaran dan kedisiplinan siswa di sekolah itu.

Masyarakat berharap agar Kepala Dinas Pendidikan Halmahera Selatan segera meninjau langsung situasi di SD Negeri 76 Pasir Putih dan mengambil langkah pembinaan agar proses belajar mengajar berjalan optimal sesuai aturan.

“Kami tidak bermaksud menjelekkan, tapi ini bentuk kepedulian terhadap pendidikan anak-anak kami. Kalau guru datang terlambat, bagaimana anak-anak bisa disiplin dan berprestasi?” ujar warga lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan masyarakat tersebut. (red)