LABUHA, Malutline – Aroma ketidakberesan mulai tercium dari tubuh Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Halmahera Selatan. Sang nakhoda lembaga perencana pembangunan daerah, Fadli Hi. Kader, S.P, dinilai gagal menjabarkan peta pembangunan sesuai arah kebijakan Bupati dan Wakil Bupati Halsel, Hasan Ali Bassam Kasuba – Helmi Umar Muchsin (Bassam–Helmi).
Sudah setahun lebih menjabat, namun hingga kini Kepala Bappelitbangda itu disebut belum mampu menghadirkan data pembangunan yang akurat, terutama terkait program unggulan “pembangunan berbasis zonasi” yang digagas pasangan Senyum Humanis tersebut.
Raport merah ini datang langsung dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Halmahera Selatan, yang meminta Bupati melakukan evaluasi serius terhadap pejabat terkait.
DPRD, sebut Program Pemda Halsel di bawah kepemimpinan Hasan Ali Bassam Kasuba dan Helmi Umar Muksin (Bassam-Helmi) memang Bagus, Tapi Bappelitbangda Gagal Menyajikan Data
Anggota DPRD Halsel dari Fraksi Golkar, Hi. Sagaf Hi. Taha, dalam interupsinya pada Sidang Paripurna Persetujuan APBD 2026 di Gedung DPRD, Sabtu (29/11/2025) malam, tegas menyampaikan bahwa DPRD mendukung sepenuhnya konsep pembangunan berbasis zonasi. Namun, implementasinya mandek karena tidak adanya peta data yang disiapkan Bappelitbangda.
“Kami sangat setuju dengan program zonasi Bupati, tetapi Bappelitbangda tidak mampu menyajikan data yang jelas dan akurat. Akhirnya kebijakan ini berjalan tanpa arah karena datanya tidak ada,” tegasnya.
Sagaf menjelaskan, pembangunan zonasi bukan hanya soal infrastruktur, tetapi mencakup berbagai kebutuhan spesifik masyarakat di setiap kecamatan, mulai dari demografi, spasial hingga data sektoral. Tanpa itu, arah pembangunan bisa bias.
Peringatan Keras: Visi-Misi Bupati Bisa Gagal! Gafo, sapaan politisi Golkar itu, memperingatkan bahwa celah terbesar pembangunan justru berada pada lemahnya Bappelitbangda dalam menyediakan basis data multisektor. Jika kondisi ini dibiarkan, maka setiap OPD berpotensi berjalan sendiri-sendiri tanpa acuan yang kuat.
“Kalau OPD bekerja tanpa data akurat, maka visi-misi Bupati dan Wakil Bupati tidak akan tercapai. Mereka tidak bisa menerjemahkan arah kebijakan karena keterbatasan data dan kemampuan,” sorotnya keras.
Sagaf meminta agar ketidakmampuan lembaga perencana ini tidak dipandang remeh. Ia mendesak pemerintah daerah melakukan evaluasi agar program zonasi yang digembar-gemborkan tidak hanya menjadi jargon politik tanpa realisasi lapangan.
DPRD telah mengirim sinyal keras. Kini semua mata tertuju kepada Bupati Bassam Kasuba – apakah evaluasi benar-benar dilakukan atau drama birokrasi ini akan berlanjut dalam tahun anggaran berikutnya. (Red)






