TERNATE, Malutline — Nama Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, kian sering diperbincangkan di ruang publik nasional. Perempuan yang kini memimpin salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia itu disebut-sebut sebagai tokoh daerah yang sedang naik daun, terutama dari kawasan timur Indonesia.

Dalam beberapa bulan terakhir, Sherly Tjoanda mencuri perhatian lewat keberaniannya tampil di ruang publik nasional, konsistensinya menyuarakan pembangunan Maluku Utara, serta kemampuannya membawa daerah ini menjadi episentrum baru industri berbasis sumber daya alam, khususnya sektor pertambangan dan hilirisasi.

Modal Kuat: Prestasi Statistik dan Simbol Kepemimpinan Baru Secara angka, kepemimpinan Sherly Tjoanda tak bisa dipandang sebelah mata. Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi 33,19 persen (year on year)—tertinggi secara nasional. Capaian ini menjadikan Maluku Utara sebagai provinsi dengan laju ekonomi paling agresif dalam beberapa tahun terakhir.

Di mata pengamat politik, prestasi tersebut menjadi modal elektoral dan simbolik yang kuat. “Pemimpin daerah dengan pertumbuhan ekonomi ekstrem seperti Maluku Utara secara otomatis akan dilirik pusat. Statistik selalu menjadi bahasa yang mudah dijual di level nasional,” ujar seorang pengamat kebijakan publik di Jakarta.

Selain itu, Sherly juga merepresentasikan figur kepemimpinan perempuan dari kawasan timur, kombinasi yang relatif langka dalam peta politik nasional dan berpotensi memperluas daya tarik politiknya.

Tantangan Besar: Antara Angka dan Realitas Sosial Namun, jalan menuju panggung kepemimpinan nasional bukan tanpa rintangan. Seiring naiknya popularitas, Sherly Tjoanda juga menghadapi kritik keras, terutama dari kalangan buruh dan aktivis sosial.
Polemik penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 yang dinilai masih jauh dari Kebutuhan Hidup Layak (KHL) menjadi catatan penting. Kritikus menilai, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang merata, khususnya bagi buruh sektor industri.

Isu ini menjadi ujian krusial, apakah Sherly mampu membuktikan bahwa kepemimpinannya tidak hanya kuat di atas kertas statistik, tetapi juga berpihak pada keadilan sosial “Pemimpin nasional bukan hanya dinilai dari angka pertumbuhan, tetapi dari kemampuannya mengelola konflik kepentingan dan membagi hasil pembangunan secara adil,” kata seorang analis politik nasional.

Peluang di Level Nasional: Terbuka, Tapi Tidak Otomatis Dalam peta politik nasional, peluang Sherly Tjoanda terbuka dalam beberapa skenario, Figur menteri teknokrat-politik, khususnya di sektor ekonomi, industri, atau kawasan timur Indonesia, Representasi perempuan dan daerah timur dalam kabinet atau lembaga strategis nasional King maker regional, dengan pengaruh kuat di Maluku dan kawasan timur.

Namun, para pengamat sepakat bahwa popularitas daerah tidak otomatis bertransformasi menjadi kekuatan nasional. Dibutuhkan konsistensi kebijakan, kemampuan membangun jejaring politik lintas partai, serta keberhasilan meredam konflik sosial di daerahnya sendiri.

Penentu Masa Depan: Tahun-Tahun Kritis Kepemimpinan, Beberapa tahun ke depan akan menjadi masa penentuan bagi Sherly Tjoanda. Jika ia mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan buruh, lingkungan, dan masyarakat lokal, maka namanya berpotensi melampaui status “gubernur berprestasi” menjadi tokoh nasional dari timur Indonesia.

Sebaliknya, jika ketimpangan sosial terus melebar, maka narasi keberhasilan ekonomi berisiko berubah menjadi catatan kritis dalam perjalanan politiknya.
Dari Maluku Utara ke Indonesia?
Sherly Tjoanda kini berada di persimpangan penting: antara memantapkan warisan kepemimpinan daerah atau melangkah lebih jauh ke panggung nasional.

Apakah ia akan menjadi ikon baru kepemimpinan nasional dari timur, atau tetap sebagai figur regional dengan pengaruh terbatas, waktu dan kebijakanlah yang akan menjawab.
Satu hal yang pasti, nama Sherly Tjoanda sudah masuk radar nasional—dan itu adalah langkah awal yang tak semua pemimpin daerah mampu capai. (Red)

HALTENG, Malutline— Polemik penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Maluku Utara Tahun 2026 kembali menuai sorotan tajam dari kalangan buruh. Kali ini kritik keras datang melalui sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, oleh Rico Tude, buruh sekaligus pengurus Serikat PPB-KASBI PT IWIP.

Dalam surat terbukanya, Rico menilai kebijakan pengupahan yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Maluku Utara justru berbanding terbalik dengan capaian ekonomi daerah yang dibanggakan pemerintah.

“Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 33,19 persen (YoY), tertinggi di Indonesia. Namun ironisnya, upah buruh justru ditetapkan jauh di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL),” tulis Rico dalam suratnya, Kamis (25/12/2025).
UMP 2026 Jauh di Bawah KHL
Rico memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Maluku Utara mencapai Rp4.431.339. Sementara itu, melalui SK Gubernur No

524/KPTS/MU/2025 yang diterbitkan pada 23 Desember 2025, UMP Maluku Utara 2026 hanya ditetapkan sebesar Rp3.510.240, naik sekitar 3 persen dari UMP 2025 yang sebesar Rp3.408.000.

Tak hanya UMP, upah sektoral juga dinilai minim, Sektor Pertambangan Nikel naik 2 persen menjadi Rp3.721.423, Sektor Industri Pengolahan Logam naik 2,7 persen menjadi Rp3.512.866 “Semua angka ini jelas masih jauh di bawah standar KHL,” tegas Rico, Dinilai Bertentangan dengan PP 49 Tahun 2025

Rico juga menyoroti bahwa penetapan upah tersebut dinilai tidak mengacu pada PP Nomor 49 Tahun 2025 tentang pengupahan. Dalam regulasi tersebut, rumusan kenaikan upah didasarkan pada:
Inflasi + (Pertumbuhan Ekonomi × Nilai Alfa)

Dengan inflasi Maluku Utara tercatat -0,17 persen dan pertumbuhan ekonomi 33,19 persen, bahkan jika menggunakan nilai alfa terendah 0,5, seharusnya UMP 2026 berada di kisaran Rp3.967.934, masih jauh lebih tinggi dibandingkan UMP yang ditetapkan pemerintah.

Apalagi jika menggunakan nilai alfa 0,9, UMP seharusnya mendekati angka KHL, yakni sekitar Rp4,42 juta “Ini memperjelas bahwa rekomendasi Dewan Pengupahan Provinsi yang disahkan melalui SK Gubernur tidak memiliki dasar legal standing yang kuat,” tegasnya.

Buruh Dipaksa Lembur, Risiko Kecelakaan Mengintai, Lebih jauh, Rico menggambarkan dampak nyata dari rendahnya upah bagi buruh industri, khususnya di sektor pertambangan dan pengolahan logam, Menurutnya, UMP yang rendah memaksa buruh bekerja 14–15 jam per hari demi mencukupi kebutuhan hidup. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kelelahan dan kecelakaan kerja.

“Hampir setiap hari ada buruh yang kehilangan nyawa akibat kecelakaan kerja. Banyak di antaranya disebabkan faktor kelelahan. Ada keringat dan darah buruh di balik pertumbuhan ekonomi 33,19 persen itu,” tulis Rico dengan nada getir.
Dibandingkan Morowali, Maluku Utara Tertinggal

Rico juga meminta Gubernur Maluku Utara membandingkan kebijakan upah di Maluku Utara dengan daerah industri sejenis seperti Morowali, Sulawesi Tengah.
“Malu Bu, kalau UMP, UMSP, dan UMSK Maluku Utara masih kalah jauh dibandingkan daerah tetangga yang industrinya sama,” ujarnya.

Prestasi bagi Pejabat, Keprihatinan bagi Buruh, Surat terbuka itu ditutup dengan kalimat yang menyentil tajam kebijakan pembangunan yang dinilai tidak berpihak pada pekerja.

“Pertumbuhan ekonomi 33,19 persen adalah prestasi bagi pejabat, tapi menjadi keprihatinan mendalam bagi kaum buruh,” pungkas Rico.

Surat terbuka tersebut menjadi penanda kuat bahwa di balik gemerlap angka pertumbuhan ekonomi, masih tersimpan persoalan mendasar soal keadilan upah dan kesejahteraan buruh di Maluku Utara. (Red)

LABUHA, Malutline— Perayaan Natal 25 Desember 2025 di wilayah Kabupaten Halmahera Selatan berlangsung dengan penuh khidmat dan rasa aman. Di Gereja El Roi, Desa Tomori, suasana ibadah berjalan tertib berkat pengamanan dan pengaturan lalu lintas yang dilakukan aparat kepolisian.

Melalui laporan langsung di lapangan, Aipda Rhandy Suryatama menyampaikan bahwa arus lalu lintas di sekitar gereja terpantau ramai namun tetap lancar. Sejak pagi hari, personel Sat Lantas Polres Halmahera Selatan telah disiagakan di sejumlah titik strategis untuk mengatur kendaraan jemaat yang datang dan pulang dari lokasi ibadah.

Selain mengatur arus lalu lintas, aparat kepolisian juga membantu penyeberangan jemaat serta menjaga area parkir agar tetap tertib. Kehadiran polisi di tengah masyarakat memberikan rasa aman, sehingga jemaat dapat menjalankan ibadah Natal dengan tenang dan penuh sukacita.

“Situasi sampai saat ini aman dan terkendali. Tidak ada gangguan kamtibmas maupun kecelakaan lalu lintas,” ungkap Aipda Rhandy dalam live report-nya dari lokasi pengamanan.
Pengamanan Natal ini merupakan bagian dari komitmen Polres Halmahera Selatan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya pada momentum hari besar keagamaan.

Dengan pendekatan humanis dan pengaturan yang tertib, kepolisian berupaya menciptakan suasana damai dan harmonis di tengah perayaan Natal.
Hingga ibadah selesai, kondisi di sekitar Gereja El Roi Desa Tomori tetap kondusif. Jemaat pun mengapresiasi kehadiran aparat kepolisian yang dinilai sigap dan responsif dalam menjaga keamanan serta kelancaran lalu lintas.

Perayaan Natal di Halmahera Selatan pun berlangsung dalam suasana aman, damai, dan penuh kebersamaan, mencerminkan kuatnya nilai toleransi dan persaudaraan di tengah masyarakat. (Red)

LABUHA, Malutline — Upaya Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dalam meningkatkan pelayanan dasar bagi masyarakat kembali menuai apresiasi. Peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Laluin yang berada di Desa Laluin, Kecamatan Kayoa Selatan, kini telah rampung dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Direktur PDAM Halmahera Selatan, Soleman Bobote, memastikan bahwa seluruh pekerjaan peningkatan SPAM Laluin telah selesai sesuai perencanaan.
“Alhamdulillah, peningkatan SPAM Laluin telah selesai, Kami berharap fasilitas ini dapat memberikan pelayanan air bersih yang lebih optimal dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Soleman.

Rampungnya proyek tersebut disambut antusias oleh masyarakat Laluin dan sekitarnya. Warga menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan di bawah kepemimpinan Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muksin, yang dinilai konsisten memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya penyediaan air bersih.

Menurut warga, sebelum dilakukan peningkatan SPAM, pasokan air bersih kerap mengalami gangguan. Kini, setelah pekerjaan selesai, distribusi air mulai terasa lebih lancar dan stabil, sehingga sangat membantu kebutuhan rumah tangga, terutama bagi masyarakat pesisir Kayoa Selatan.

Apresiasi juga disampaikan kepada Direktur PDAM Halsel Soleman Bobote, yang dinilai bekerja maksimal dalam mendorong peningkatan pelayanan air bersih. Selain sebagai pimpinan PDAM, Soleman Bobote dikenal sebagai putra terbaik Kayoa Selatan (Makayoa) yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kampung halaman dan kebutuhan masyarakatnya.

“Beliau bukan hanya menjalankan tugas sebagai direktur, tetapi juga menunjukkan kepedulian sebagai anak daerah yang ingin melihat masyarakat Kayoa Selatan mendapatkan pelayanan air bersih yang layak,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Laluin.

Pemerintah Daerah berharap dengan selesainya peningkatan SPAM Laluin ini, kualitas hidup masyarakat semakin meningkat, serta menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam pembangunan infrastruktur dasar yang merata hingga ke wilayah kepulauan.

Pemkab Halsel bersama PDAM juga mengajak masyarakat untuk menjaga dan memelihara fasilitas SPAM yang telah dibangun, agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang dan memberikan manfaat maksimal bagi generasi ke depan. (Bur)

LABUHA, Malutline — Kehadiran personel Satuan Lalu Lintas (Polantas) bersama unsur pengamanan Polres Halmahera Selatan dalam mengamankan jalannya ibadah mendapat pujian dan apresiasi dari para jemaat gereja di wilayah Bacan, Bacan Selatan, dan Bacan Timur.

Para jemaat menilai pengamanan dan pengaturan lalu lintas yang dilakukan aparat kepolisian sangat membantu menciptakan suasana ibadah yang aman, tertib, dan penuh kenyamanan. Arus lalu lintas di sekitar gereja terpantau lancar, sementara jemaat merasa tenang saat datang maupun pulang dari tempat ibadah.

“Kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran polisi. Pengaturan lalu lintas rapi dan kami bisa beribadah dengan tenang,” ujar salah satu jemaat usai mengikuti ibadah.

Personel Polantas tidak hanya mengatur arus kendaraan, tetapi juga membantu penyeberangan jemaat, menjaga area parkir, serta memastikan situasi keamanan tetap kondusif selama kegiatan ibadah berlangsung.

Apresiasi ini menjadi bukti bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat, khususnya dalam momen keagamaan, sangat dirasakan manfaatnya. Para jemaat berharap pelayanan dan pengamanan yang humanis seperti ini terus dipertahankan demi menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Kabupaten Halmahera Selatan. (Red)