HALUT, Malutline – Harga kopra yang naik turun tak menentu dan jalur jual yang berbelit-belit masih menjadi jeratan bagi petani kelapa di Galela. Untuk memutus rantai yang merugikan dan mengangkat pendapatan warga, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun (FEB Unkhair) turun langsung ke Desa Dokulamo, Kecamatan Galela, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan bertajuk edukasi manajemen rantai pasok ini digelar di gudang pengolahan kelapa milik mitra, masuk dalam program Diktisaintek Berdampak 2026. Sebanyak 20 peserta — petani, pemuda desa, hingga pengelola usaha kelapa — dibekali cara memotong jalur perantara sekaligus mengolah kelapa menjadi produk bernilai jual tinggi.
Tim dipimpin Dr. Marwan Man Soleman, SE., M.Si., didampingi Jeri Cahyadi Saputra, S.Ak., M.Si. dan Adysabzan Tomario Krois, MBA, serta empat mahasiswa Manajemen FEB Unkhair: Meliza Amelia Putri, Eka Susilawati Said, Arman Husemahu, dan Faruk Duwila.
Petani Selalu di Posisi Kalah
Kebun kelapa adalah nyawa hidup warga Desa Dokulamo. Namun sampai kini, warga hanya menjual kelapa butir dan kopra — sehingga pendapatan bergantung pada harga yang ditentukan orang lain. Rantai yang panjang: petani → pengumpul → pedagang antar pulau → pabrik. Setiap pihak mengambil untung, dan yang di kebun hanya menerima sisa.
“Rantai penjualan kelapa di Galela masih terlalu panjang. Setiap tahap mengambil keuntungan, nilai tambah besar dinikmati pihak di luar desa. Petani hanya menerima sebagian kecil,” tegas Adysabzan Tomario Krois.
Ia mengingatkan: kelapa bukan sekadar kopra. Daging bisa jadi minyak kelapa dan VCO, tempurung jadi briket, sabut jadi cocopeat, nira jadi gula semut, air kelapa jadi nata de coco.
“Satu pohon kelapa banyak produknya. Semakin banyak yang diolah sendiri di desa, semakin besar uangnya yang tetap di sini,” ujarnya.
Lima Langkah Lepas dari Ketergantungan Harga
Tim mengajak warga berubah: jual bersama lewat kelompok, bukan sendiri-sendiri kepada pengumpul. Bersama, posisi tawar menguat, harga bisa dibicarakan langsung dengan pembeli, dan produk olahan bisa dikembangkan.
Jalan yang ditawarkan:
✅ Perkuat kelompok petani
✅ Jaga mutu kopra: kering, bersih, seragam
✅ Kembangkan produk turunan: VCO, briket, dan lainnya
✅ Jalin kerja sama langsung dengan pabrik/pembeli besar
✅ Pantau harga dan catat setiap penjualan
Pendampingan Berlanjut, Bukan Sekadar Datang Lalu Pergi
Diskusi terbuka jujur: sebagian besar warga mengaku selama ini pasrah menerima harga dari pengumpul desa. Belum ada catatan keuangan, belum tahu harga di luar desa. Produk yang paling menarik minat, VCO dan briket — bahan baku melimpah, peralatan sebagian sudah tersedia.
Jeri Cahyadi Saputra menegaskan ini bukan kegiatan satu kali. “1–3 bulan ke depan perkuat kelompok, tetapkan standar mutu, ajarkan catatan keuangan sederhana. 3–6 bulan uji coba olah VCO dan briket, uji pasar di Galela dan Tobelo. Setelah itu kami hubungkan langsung dengan pembeli,” janjinya.
Warga berharap kampus terus mendampingi, terutama praktik pengolahan dan membuka akses pembeli yang adil. Kegiatan ditutup dengan foto bersama.
Program ini wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus mendukung IKU — membawa ilmu ke akar rumput, agar kekayaan alam Galela benar-benar menyejahterakan pemiliknya. (Red)











Komentar