oleh

Diduga Ada Kejanggalan Pengisian BBM di SPBU Labuha, Pelanggan Pertanyakan Takaran Pertamax

LABUHA, Malutline – Seorang pelanggan mengaku merasa tidak puas dan mempertanyakan kualitas pelayanan serta akurasi takaran bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang dibelinya di SPBU Pertamina Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan.

Keluhan tersebut muncul setelah pelanggan membandingkan hasil pengisian BBM yang dilakukan pada dua waktu berbeda dengan nominal pembelian yang sama, namun menunjukkan hasil yang dianggap tidak wajar pada indikator bahan bakar kendaraan miliknya.

Menurut pengakuan pelanggan, pada 1 Mei 2026 dirinya melakukan pengisian BBM jenis Pertamax senilai Rp350 ribu. Saat itu kondisi indikator bahan bakar (fuel meter) mobil berada pada posisi tersisa satu garis. Setelah pengisian selesai dilakukan, jarum atau indikator bahan bakar kendaraan naik hingga mencapai tujuh garis.

Namun, pada 1 Juni 2026, pelanggan kembali melakukan pengisian BBM Pertamax dengan nominal yang sama, yakni Rp350 ribu, dan kondisi bahan bakar kendaraan juga berada pada posisi tersisa satu garis. Akan tetapi, setelah pengisian selesai, indikator bahan bakar hanya naik hingga lima garis.

Perbedaan hasil pengisian tersebut membuat pelanggan merasa heran dan mempertanyakan apakah terdapat perbedaan volume BBM yang diterimanya meskipun nominal pembelian dan kondisi awal bahan bakar kendaraan relatif sama.

“Saya merasa ada yang berbeda. Bulan lalu isi Rp350 ribu dari posisi satu garis bisa naik sampai tujuh garis. Sekarang dengan uang yang sama dan kondisi yang hampir sama, hanya naik lima garis. Ini yang membuat saya bertanya-tanya,” ungkap pelanggan kepada media ini.

Pelanggan tersebut berharap pihak terkait, baik pengelola SPBU maupun instansi pengawas, dapat melakukan pengecekan terhadap alat ukur dan dispenser BBM yang digunakan untuk memastikan seluruh proses pengisian berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Ia juga meminta adanya transparansi dan pengawasan berkala guna menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan SPBU, khususnya dalam pendistribusian BBM kepada konsumen.

Di sisi lain, sejumlah warga yang mendengar keluhan tersebut berharap persoalan ini dapat segera diklarifikasi oleh pihak SPBU agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Menurut mereka, keakuratan takaran BBM merupakan hak konsumen yang harus dijamin sesuai ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, perlu diketahui bahwa naik turunnya indikator bahan bakar pada kendaraan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kapasitas tangki, posisi kendaraan saat pengisian, kondisi sensor fuel meter, hingga tingkat konsumsi BBM sebelum pengisian dilakukan. Karena itu, diperlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut untuk memastikan penyebab perbedaan hasil pengisian tersebut.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak SPBU Pertamina Labuha belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan pelanggan tersebut. Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pengelola SPBU guna memperoleh penjelasan dan klarifikasi atas dugaan yang disampaikan pelanggan. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed