LABUHA, Malutline – Lima orang warga Desa Waya, Kabupaten Halmahera Selatan, hingga kini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuha akibat dugaan keracunan makanan.
Kondisi medis para pasien memerlukan perhatian serius, lantaran hasil pemeriksaan menunjukkan penurunan kadar hemoglobin (Hb) yang signifikan, sehingga membutuhkan transfusi darah dalam jumlah besar.
Dokter penanggung jawab pelayanan, dr. Taufikurahma, Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD), melalui Kepala Bidang Humas RSUD Labuha, Hj. Harliyani Hi Arwi, Str.Keb, menjelaskan bahwa hingga hari kedua perawatan, total pasien yang dirawat berjumlah lima orang.
“Seluruh pasien awalnya masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD), kemudian dirawat lanjutan di ruang interna dan ICU sesuai dengan kondisi klinis masing-masing,” ujar Harliyani, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, secara umum kondisi pasien mulai menunjukkan perbaikan, dengan keluhan yang berangsur berkurang. Namun demikian, hasil pemeriksaan laboratorium mengungkap adanya anemia berat pada beberapa pasien.
“Dua pasien tercatat memiliki kadar Hb sangat rendah, sekitar 2 g/dL, sehingga membutuhkan transfusi darah dalam jumlah besar, masing-masing hingga 10 kantong darah,” jelasnya.
Salah satu pasien anak, Acu Wa Arisna, yang dirawat di ruang perawatan anak, sebelumnya memiliki kadar Hb sekitar 2 g/dL. Setelah mendapatkan transfusi darah, kadar Hb pasien meningkat menjadi 6 g/dL, meski masih berada di bawah ambang normal yang berkisar 12–14 g/dL.
Selain itu, seorang pasien bernama Warisma yang dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) telah menerima tiga kantong darah golongan O. Namun, secara keseluruhan kebutuhan darah untuk seluruh pasien masih sangat tinggi.
“Lima pasien asal Desa Waya ini masing-masing membutuhkan sekitar 10 kantong darah per orang, terutama darah golongan A dan B,” ungkap Harliyani.
Berdasarkan evaluasi medis terhadap satu keluarga pasien, tim dokter mencurigai adanya gangguan hemolitik, yaitu kondisi medis di mana sel darah merah mengalami pemecahan secara berlebihan. Kondisi tersebut juga disertai gejala ikterus (penyakit kuning) yang ditemukan pada beberapa pasien.
Untuk memastikan penyebab pasti kondisi tersebut, diperlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak dapat dilakukan di RSUD Labuha. Oleh karena itu, sampel darah pasien direncanakan akan dikirim ke rumah sakit rujukan di Manado atau Makassar.
“Di RSUD Labuha saat ini hanya tersedia pemeriksaan dasar hemoglobin. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit bawaan yang mendasari kondisi pasien,” terangnya.
Fokus utama penanganan medis saat ini adalah transfusi darah guna meningkatkan kadar hemoglobin hingga mendekati nilai normal, disertai pemantauan fungsi organ dalam secara ketat dan berkelanjutan.
Pihak RSUD Labuha mengimbau dan berharap adanya dukungan masyarakat serta para pendonor darah untuk membantu pemenuhan kebutuhan transfusi, demi menunjang keselamatan dan mempercepat proses pemulihan para pasien. (Haji)











Komentar