LABUHA, Malutline – Hari ini genap satu bulan kepergian sosok yang paling berarti dalam hidup Lina Salmon. Tepat pada Senin, 08 januari 2025, dunia seolah berhenti berputar. Waktu terasa beku, napas mendadak sesak, dan dada diliputi rasa sakit yang tak terucap ketika kabar duka itu datang dari pulau seberang—kabar tentang kepergian suami tercinta, belahan jiwa yang telah menemani perjalanan hidupnya selama 16 tahun.
Ia bukan sekadar pasangan hidup, tetapi sahabat, pelindung, tempat pulang, dan sandaran teraman dalam suka maupun duka. Sosok yang selalu “meratukan” Lina, yang hadir dalam setiap kesulitan dan kebahagiaan, yang setia mendengar setiap cerita di penghujung malam. Kini, ia telah pergi untuk selamanya, meninggalkan Lina dan tiga anak mereka dalam sunyi yang mendalam.
Rasa kehilangan itu terasa seperti mimpi di siang bolong. Pada hari Jumat, Lina sendiri yang mengantar almarhum ke pelabuhan untuk kembali menjalankan tugasnya. Tak ada firasat buruk, tak ada tanda perpisahan. Bahkan pada Senin pagi pukul 06.30 WIT, mereka masih sempat berbincang melalui pesan singkat. Beberapa saat kemudian, kabar duka itu datang—begitu tiba-tiba, tanpa sakit, tanpa peringatan.
Kepergian yang mendadak itu membuat Lina sulit percaya. Hingga hari ini, di lubuk hatinya yang terdalam, ia masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi yang suatu saat akan berakhir. Namun kenyataan hidup perlahan memaksanya menerima bahwa di dunia ini, kematian adalah bagian dari rencana Tuhan yang tak selalu dapat dimengerti oleh manusia.
Dalam iman Nasrani yang dipegangnya, Lina belajar berserah. Ia percaya bahwa Tuhan adalah pemilik kehidupan, dan apa yang Tuhan ambil tidak pernah tanpa tujuan. Meski berat, ia meyakini firman Tuhan yang berkata bahwa Tuhan dekat dengan orang yang patah hati, dan tidak pernah meninggalkan mereka yang berseru kepada-Nya dalam kesedihan.
Kini, Lina dihadapkan pada peran yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, menjadi ayah dan bunda sekaligus bagi anak-anaknya, Siap atau tidak siap, ia harus melangkah maju demi masa depan anak-anak—masa depan yang dahulu direncanakan bersama dengan suami tercinta. Di tengah air mata dan kerinduan yang tak pernah benar-benar pergi, ia memilih berdiri, bukan karena kuat, tetapi karena percaya Tuhan akan memampukannya.
Setiap doa yang dipanjatkan kini berisi permohonan kekuatan, keteguhan iman, dan pengharapan bagi dirinya dan anak-anak. Lina percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan mereka berjalan sendirian. Di balik salib yang berat, selalu ada kasih karunia yang menopang.
Cinta yang mereka bangun selama 16 tahun tidak berakhir oleh kematian. Cinta itu hidup dalam kenangan, dalam doa, dalam nilai-nilai yang diwariskan kepada anak-anak, dan dalam pengharapan akan perjumpaan kembali kelak. Dalam keyakinannya, Lina percaya bahwa perpisahan ini hanyalah sementara.
“Cinta kita abadi selamanya, sayang. Sampai ketemu.”
Kalimat itu menjadi penutup dari sebuah kisah cinta yang kini berubah menjadi kesaksian iman, ketegaran, dan kasih yang tidak pernah mati. Karena bagi Lina Salmon, cinta sejati tidak hilang—ia hanya berpindah, menunggu, dan disimpan Tuhan sampai waktu perjumpaan yang dijanjikan-Nya. (Red










Komentar